Melintasi Jejak Sejarah Melalui Mulih Dilik
Sumber: canva.com

News / 18 April 2023

Kalangan Sendiri

Melintasi Jejak Sejarah Melalui Mulih Dilik

Wisnu Prianggani Contributor
1232

Ternyata mudik atau dalam bahasa Jawa sering disebut sebagai "mulih dilik" adalah sebuah tradisi yang hanya dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Tradisi ini dilakukan dalam rangka pulang ke kampung halaman pada saat hari raya, dan lebih seringnya adalah hari raya Idul Fitri. Meskipun tradisi ini sudah kita ketahui sejak kecil namun pernahkah Anda bertanya-tanya sejak kapan mudik dilakukan oleh masyarakat Indonesia? Yang pasti tradisi ini bukanlah hal yang baru, melainkan sudah ada sejak zaman dahulu kala.

 

Baca Juga: Suka Ditanya Kog Gak Mudik? Yang Pernah Ngalamin Pasti Suka Jawab Pakai 4 Alasan Ini

 

Jika kita menilik sejarahnya, tradisi mudik ternyata berasal dari masa penjajahan Belanda di Indonesia. Pada waktu itu, banyak pekerja Indonesia yang bekerja di perkebunan atau pabrik-pabrik Belanda yang tersebar di seluruh Indonesia. Karena terpisah jarak dan waktu yang jauh dari keluarga, maka setiap kali hari raya Idul Fitri tiba, mereka akan melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman untuk bertemu keluarga dan sanak saudara. Perjalanan jauh pada waktu itu ditempuh menggunakan kereta kuda hingga jalan kaki.

Cukup lama bagi masyarakat Indonesia berjalan kaki ketika melakukan mudik hingga tradisi mudik ini kemudian berkembang seiring dengan perkembangan transportasi dan infrastruktur di Indonesia. Sejak tahun 1970-an, pemerintah Indonesia telah membangun jalan tol dan jalur kereta api yang menghubungkan kota-kota besar di Indonesia. Hal ini tentu saja memudahkan masyarakat Indonesia untuk melakukan perjalanan mudik, baik dengan kendaraan pribadi maupun transportasi umum. Tanpa perlu menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki lagi.

 

Baca Juga: Siap Mudik Dengan Uang THR? Agar Uang Aman Sampai Akhir Bulan, Aturlah Gajimu Seperti Ini!

 

Di dalam perkembangannya, ada fakta menarik lainnya tentang tradisi mudik di Indonesia. Salah satunya adalah jumlah pemudik yang entah kenapa semakin meningkat setiap tahunnya. Menurut data dari Kementerian Perhubungan, sebelum masa pandemi pada tahun 2019, terdapat sekitar 20 juta orang yang melakukan perjalanan mudik. Angka ini meningkat sekitar 4% dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Karena semakin meningkatnya jumlah pemudik, tidak jarang kita mendapat berita tentang mudik dari sisi gelapnya. Setiap tahun, ada saja terjadi kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan banyak korban jiwa. Hal ini bisa terjadi tentu saja karena disebabkan oleh beberapa kondisi jalan yang kurang memadai, kelelahan pengemudi, dan keterbatasan kendaraan. Selain itu, tradisi mudik juga berdampak negatif terhadap lingkungan, seperti peningkatan polusi udara dan kerusakan alam. Bagaimanapun akan selalu ada isi buruk yang tidak dapat dihindari.

 

Baca Juga: Ingin Libur Lebaran? Cek Jadwal One-way hingga Ganjil-Genap di Tol Jakarta - Cikampek

 

Namun meskipun tradisi mudik memiliki sisi negatifnya, tradisi yang hanya dilakukan oleh masyarakat Indonesia ini tetap menjadi hal yang dinanti-nantikan oleh seluruh kalangan. Pulang ke kampung halaman untuk bertemu keluarga dan sanak saudara pada saat hari raya Idul Fitri akan selalu menjadi momen yang sangat spesial dan membahagiakan bagi siapapun

Seluruh masyarakat Indonesia sama-sama menyambut tradisi mudik ini dengan baik. Bahkan bukan hanya yang merayakan Idul Fitri saja, setiap orang yang jauh dari keluarganya akan mudik dan berkumpul dengan keluarga. Mazmur 121:8 mengatakan “TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.” Ayat ini mengingatkan kita bahwa dalam setiap perjalanan, baik mudik maupun perjalanan lainnya, Tuhan senantiasa menjaga dan melindungi kita. Oleh karena itu, saat kita melakukan perjalanan mudik, mari selalu berdoa dan memohon perlindungan serta keselamatan dari Tuhan. Syukuri kebaikan Tuhan di setiap momen yang kita miliki saat ini.

Halaman :
1

Ikuti Kami