Terapkan Sistem Belajar Jam 5 di NTT, Begini Dampaknya Bagi Siswa , Orang Tua dan Guru
Sumber: kumparan.com

News / 6 March 2023

Kalangan Sendiri

Terapkan Sistem Belajar Jam 5 di NTT, Begini Dampaknya Bagi Siswa , Orang Tua dan Guru

Bella Tiurma Official Writer
1458

Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat mengumumkan penerapan kebijakan sistem belajar bagi para siswa tingkat SMA dan sederajat untuk dapat melakukan pembelajaran dimulai dari pukul 05.00 pagi. Hal ini memunculkan akan adanya dampak sistem belajar jam 5 pagi bagi para siswa, orang tua dan guru. 

Harapan pemerintah dari sistem belajar ini adalah meningkatkan kedisiplinan anak dan dapat belajar lebih lama. Tetapi apakah pemerintah NTT sudah memikirkan dampak yang akan muncul melalui penerapan sistem belajar jam 5 pagi bagi para siswa dan orang tua? 

 

Baca Juga: Belajar Dari Kasus Mario Dandy, Alasan Pentingnya Bentuk Karakter Anak Sejak Belia

 

Viktor mengungkapkan bahwa siswa dapat mulai mendisiplinkan dari untuk tidur pada pukul 22.00 WITA dan bangun pada pukul 04.00 WITA, sehingga menurutnya enak jam waktu tidur sudah cukup. Namun ada hal lain yang harus dipikirkan oleh pemerintah dari dampak sistem belajar jam 5 pagi bagi para siswa dan orang tua. 

Kebijakan ini menarik perhatian pakar perkembangan anak, remaja, dan pendidikan Fakultas Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Novi Poespita Candra. Ia menilai bahwa kebijakan ini akan mengakibatkan dampak buruk bagi siswa. 

Pasalnya kebijakan yang membuat siswa masuk sekolah lebih pagi akan berdampak negatif bagi kesehatan fisik yang dimiliki anak karena anak dituntut untuk bangun lebih pagi. Karena hal ini bisa berpengaruh terhadap kualitas tidur dan penambahan jam belajar anak. Sehingga nantinya akan akan mudah membuat siswa mudah kelelahan hingga berujung pada penurunan imunitas tubuh siswa.  

Ia juga menuturkan bahwa, anak yang tidak sarapan di pagi hari bisa berdampak pada penurunan konsentrasi belajar karena otak tidak bekerja dengan optimal. Begitu juga dengan kondisi fisik anak yang tidak baik akan berdampak terhadap penurunan kualitas dalam belajar. 

 

Baca Juga: Saat Krisis Iklim Ancam Hak Anak, CBN Indonesia Turun Tangan Berikan Akses Pendidikan Anak

 

Menurut pantauan Kompas .id, ada sekitar 96,16 persen siswa SMA N 1 kota Kupang yang terlambat masuk pada Rabu, 1 Maret 2023. Sehingga kebijakan ini dianggap tidak memiliki rasa empati terhadap kehidupan sosial anak dan guru. Karena para guru harus berada di sekolah sebelum jam 5 pagi, sehingga para guru juga harus bangun lebih pagi dan tidak dapat mengurusi hal lainnya. Dampak serupa juga akan dialami oleh orang tua. Karena orang tua yang tidak memiliki kendaraan, pasti akan mengantarkan anak-anak mereka lebih dulu dengan berjalan kaki  mengingat kondisi ekonomi masyarakat di NTT yang juga banyak diantaranya tidak mampu membeli kendaraan pribadi.  

Menurut Novi, jika pemerintah ingin mendorong kedisiplinan dan dapat belajar lebih lama dalam sistem belajar jam 5 pagi bukanlah cara yang efektif yang dapat dilakukan. Karena dalam penerapannya, sistem ini hanya akan mempengaruhi banyak hal baik orang tua, siswa maupun guru. Adalah lebih bijaksana jika pemerintah mengevaluasi sistem ini dan mencari alternatif lain untuk menerapkan sistem pendidikan yang lebih baik bagi anak.

Halaman :
1

Ikuti Kami