Membuang Manusia Lama untuk Memulai Kehidupan Baru Bersama Kristus
Kalangan Sendiri

Membuang Manusia Lama untuk Memulai Kehidupan Baru Bersama Kristus

Contasia Christie Official Writer
      882

1 Tesalonika 4:13-14

Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.

 

Bacaan setahun : Mazmur 113; 1 Petrus 5; Yehezkiel 31-32

Pasti menyedihkan saat kita ditinggal mati oleh orang yang kita kasihi. Ini manusiawi. Demikian juga yang terjadi pada jemaat Tesalonika, sehingga Paulus oleh dorongan Roh Kudus memberi pengertian yang benar tentang kematian orang percaya. Menangis dan bersedih boleh, tetapi sebaiknya tidak berkepanjangan. Kita juga harus punya pengharapan akan kehidupan bersama dengan Kristus setelah kematian.

Kehidupan bersama Kristus harus diawali dengan kematian manusia lama kita (Kolose 3:3)Kita harus mengenakan manusia baru sehingga kita bisa menikmati surga kelak. Jika membaca ayat-ayat sebelumnya dari 1 Tesalonika 4, ada kehidupan kudus yang harus dilakukan oleh setiap orang percaya.

Dunia menawarkan berbagai kesenangan, keinginan dan kepuasan yang semua itu membawa kepada kebinasaan. Kematian dari hal-hal duniawi bukanlah proses mudah dan sebentar, tetapi sebuah proses yang menyangkut seluruh kehidupan, waktu dan memerlukan kekuatan. Tekad masing-masing individu untuk berubah harus kuat dan permanen. Waktu yang Tuhan berikan harus diterima sebagai anugerah tidak ternilai.

Jika kita sudah mampu mematikan semua keinginan “daging” dalam hidup. Maka kehidupan dibalik kematian, akan menjadi penuh harapan karena kita menjalaninya bersama dengan Kristus. Pengharapan akan bersatu dengan Kristus itu pasti.

Paulus mengingatkan hal ini kepada jemaat Tesalonika dan juga kita. Kematian bukan lagi sumber kesedihan yang harus diratapi berlarut-larut, namun kematian adalah berkat yang bisa membawa kita bersatu dengan Tuhan Yesus. Sebelum kematian fisik, harus ada kematian manusia lama agar kita layak mendapatkan kehidupan baru bersama Kristus.

 

Penulis : Hermanto Nugroho

Ikuti Kami