Perjalanan Kiai Sadrach Bangun Gereja di Dalam Masjid

News / 21 July 2022

Kalangan Sendiri

Perjalanan Kiai Sadrach Bangun Gereja di Dalam Masjid

Lori Official Writer
5217

Gereja Karangjoso merupakan sebuah padepokan yang dibangun oleh mantan kiai Sadrach Soeropranoto yang memutuskan menjadi seorang pekabar injil asal Desa Langenrejo, Kecamatan Butuh, Purworejo.

Gereja ini didirikan pada tahun 1871 dan memiliki bentuk bangunan yang sangat berbeda dari kebanyakan gereja. Perpaduan budaya Jawa dan Kristen melekat kuat di dalam gereja ini. Gedung inilah yang kemudian disebut-sebut sebagai masjidnya orang Kristen atau gereja di dalam masjid.

Sadrach menjadi penginjil yang menjangkau berbagai kalangan masyarakat dengan metodenya sendiri. Bahkan sebagian besar pengikut Kiai Sadrach berasal dari golongan masyarakat Jawa kejawen. Karena itulah setiap kali mengajak ibadah, dia akan menyampaikan ‘ibadah ke masjidnya orang Kristen’.

“Kalau mau ibadah di gereja, dia menyebutnya ‘ayo ibadah ke masjidnya orang Kristen.’ Jadi dia menyebutnya saat itu masjid gereja,” ungkap pengelola gereja Sugeng Sugiarto.

 

Baca Juga: 3 Gereja Ini Jadi Unik Karena Sejarahnya yang Tak Lekang dari Budaya Muslim

 

Di Gereja Karangjoso ini terdapat sebuah aksesoris salib yang terbuat dari persilangan antara panah pasopati dengan senjata cakra. Dua senjata ini tak lain identik dengan milik tokoh pewayangan, Kresna dan Arjuna.

Di sana pula terpampang foto Sadrach bersanding dengan sejumlah rekan-rekan pendeta yang menyebarkan injil di tanah Jawa. Hampir semua pendeta berasal dari Belanda kecuali dia dan rekan sesama Jawa bernama Yotam.

 

Baca Juga: Ki Sutomo Tirto Mandiro, Pakai Wayang Tuk Ceritakan Kisah Alkitab

 

Ajarkan Soal Kristen yang Merdeka

Dalam menyebarkan injil, Kiai Sadrach mengajarkan tentang Kristen yang merdeka yaitu umat Kristen yang terbebas dari aturan-aturan yang terikat dengan Belanda.

Atas kegigihannya menyebarkan injil dikalangan masyarakat Jawa, Sadrach pun berhasil...

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

menjadi seorang pemimpin gereja terbesar di Jawa. Dia bahkan begitu dihormati dalam kepemimpinannya karena mengambil cara penginjilan yang memadukan kekristenan dengan budaya Jawa yang tidak biasa pada masa itu.

Perjalanan hidup Sadrach juga terbilang menarik. Dulu dia dikenal dengan nama Radin Abas. Sadrach sendiri merupakan nama baptis yang dia dapatkan dari Gereja Sion Batavia pada 14 April 1867 silam.

 

Baca Juga: Gereja-gereja Jawa Sepakat Pelihara Alam Semesta

 

Selama perjalanan barunya menjadi Kristen, Sadrach memulai pelayanan pertamanya sebagai pengirim brosur dan buku-buku Kristen di Batavia. Lalu dia bertemu dengan Tunggul Wulung yang merupakan pelopor desa-desa Kristen seperti Banyuwoto, Tegalombo dan Bondo di Jepara.

Setelah berpindah-pindah selama hidupnya, tepat di usia 35 tahun Sadrach bertemu dan diadopsi dengan seorang pendeta bernama Steven-Philips. Kemudian dia memilih untuk pindah ke Karangjoso dan menjalani kehidupan yang mandiri. Sejak saat itulah Sadrach memulai penginjilannya dengan metodenya sendiri hingga berhasil membangun Gereja Karangjoso, yang sampai saat ini masih berdiri.

Semoga hal ini bisa menambah kasanah pengetahuan Anda, khususnya di kalangan Jawa tentang sejarah panjang penyebaran injil yang dilakukan dengan balutan kebudayaan Jawa.

Sumber : Merdeka.com | Jawaban.com
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami