Apa yang Alkitab Ajarkan Kepada Kita tentang Fitnah dan Perkataan?

Kata Alkitab / 27 June 2022

Kalangan Sendiri

Apa yang Alkitab Ajarkan Kepada Kita tentang Fitnah dan Perkataan?

Contasia Christie Official Writer
1478

Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.

Pernahkah Anda mendengar istilah itu? Tapi apakah memang benar fitnah ini lebih kejam? Ternyata Alkitab juga membahasnya lho. Kata fitnah sendiri menurut KBBI berarti perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang lain. Hal ini merupakan tindakan yang tidak terpuji.

Yakobus 4: 11-12 “Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?”

 

Pesan Yakobus

Yakobus dalam hal ini secara runut menuliskan mengenai pesan dan nasihat untuk hidup sebagai umat Allah, yakni:

1. Dimulai dengan salam sebagai pembuka kitab,

2. Memohon hikmat dari Allah dan bertekun dalam pencobaan,

3. Menjaga lidah dan jadi bijak,

4. Bersabar, berbelas kasih dan berdoa.

Baca juga : Yuk Tanggapi Gosip di Tempat Kerja Dengan Cara Bijak Ini

 

Jika kita merenungkan firman Tuhan di atas, maka runutan dari pesan Yakobus tersebut masuk dalam poin yang ke tiga, dimana Yakobus menasihatkan kita agar berhati-hati menjaga lisan (lidahnya). Mari kita lihat dua pelajaran pentingnya:

1. Garis-bawahilah kata “hukum” - Hukum disini menekankan pada hukum Taurat/ Torah yakni pengajaran atau petunjuk yang diberikan Allah kepada umat Israel di Gunung Sinai. Hukum itu berisi kehendak Allah menyangkut cara hidupNya, ibadah mereka dan sikap mereka terhadap sesama. Dimana hukum ini mengikat, namun barang siapa hidup untuk melakukannya dengan sungguh-sungguh, maka ganjarannya adalah kemerdekaan yang dilingkupi kebahagiaan (Yakobus 1:25).

2. Hakim (Penghakiman) – Berbicara tentang hari kedatangan Yesus kembali ke dunia, dimana pada hari kedatangan itu, Allah akan menghakimi seluruh umat manusia (Ibrani 9:28 dan Matius 25:31-46).

Baca selanjutnya ---------->

Hukum akan diberikan kepada mereka yang telah terbukti secara data dan fakta melakukan atau tidak melakukan seperti apa yang sedang diperkarakan. Siapa kita, bukanlah menjadi penentu untuk penghakiman bagi orang lain. Jika kita hidup berpadanan dengan Injil kasih karunia Allah, maka kata ‘hukum’ bukanlah menjadi sesuatu yang menakutkan.

Dan ‘hakim’ adalah penggenapan dari harapan akan kehidupan masa depan, dimana kita tidak hanya hidup untuk mengharapkan memiliki surga semata. Namun lebih mengarah pada pengharapan akan anugerah untuk hidup dan memerintah bersama Dia dalam Kerajaan-Nya yang kekal.

 

Makna memfitnah

Memfitnah berarti melakukan tindakan penyebaran kebohongan, sebagaimana kitab Yakobus di atas menegaskan tentang penguasaan lisan atau lidah, agar tidak menjadi batu sandungan untuk diri kita sendiri namun mendatangkan berkat bagi orang lain (Amsal 10:20-21). Jadi, dalam hal ini sudah sepatutnya kita hidup dan mempraktekkan firman Tuhan yang hidup dengan menjadi pewarta kabar sukacita bukan sebaliknya.

Baca juga : Fitnah dan Gosip, Toxic Paling Berbahaya Dalam Kekristenan. Begini Dampak Buruknya…

 

Berkatalah bijak

Dalam kitab Amsal 23:19 - “Hai anakku, dengarkanlah, dan jadilah bijak, tujukanlah hatimu ke jalan yang benar.”

Ayat ini menasihatkan kita agar menjadi bijak, dengan menujukan hati kita ke jalan yang benar. Dengan lidah/ ucapan kita dapat menjatuhkan orang lain sejatuh-jatuhnya, namun dengan lidah juga kita dapat meninggikan orang lain setinggi-tingginya. Dari hal ini, manakah yang akan kita pilih dan lakukan? Pastinya selaku anak-anak Allah, kita diminta bahkan diperintahkan untuk melakukan kebenaran sejati dalam hidup kita.

Jadi, saudaraku yang terkasih berperilakulah bijak, kekanglah keinginan hati untuk mengumbar deretan kata-kata buruk dari diri kita. Sebab jejak dari perkataan itu bisa dengan mudah melukai dan membekas pada hati atau pikiran orang lain.

Ditulis oleh Liana M. Tapalahwene (Contributor)

Semua karya tulis yang dibuat oleh contributor adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Sumber : Liana M. Tapalahwene (Contributor)
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami