Tahun Ketiga, Paskah Digelar Tanpa Prosesi Semana Santa Larantuka

News / 13 April 2022

Kalangan Sendiri

Tahun Ketiga, Paskah Digelar Tanpa Prosesi Semana Santa Larantuka

Lori Official Writer
491

Sejak pandemi merebak, untuk ketiga kalinya kota Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Paskah tanpa prosesi Pekan Suci Semana Santa. 

Hal ini ditegaskan oleh Uskup Agung Larantuka Monsinyiur (Mgr) Fransiskus Kopong Kung pada Senin, 21 Maret 2022 lalu. Pandemi menjadi alasan tradisi Paskah yang sudah digelar umat Katolik dunia itu ditiadakan tahun ini.

“Saat ini kita sedang berada pada (PPKM) Level 3 secara nasional, maka demi kepentingan keselamatan, dan kesehatan seluruh warga masyarakat kita. Kami memutuskan meniadakan dan membatalkan pelaksanaan perayaan devosional tradisi Semana Santa di Larantuka, Konga, Wureh pada tahun ini,” ungkap Mgr Fransiskus Kopong Kung.

 

Baca Juga: Wow, Puluhan Ribu Peziarah Telah Memenuhi Kota Seribu Kapel Ini!

 

Dua tahun sebelumnya, perayaan Semana Santa memang tidak digelar untuk alasan yang sama. Meski begitu dia berharap perayaan Paskah tahun ini tidak kehilangan maknanya.

“Kita diharapkan memaknainya (Paskah) secara lebih rohaniah, lebih mendalam terhadap misteri iman dan keselamatan kita,” ungkap Mgr Fransiskus.

Sebagaimana diketahui, Pekan Suci Paskah di daerah yang didominasi penduduk beragama Katolik ini merupakan serangkaian acara untuk menyambut Paskah setiap tahunnya. Semata Santa pun menjadi salah satu bagian di dalamnya. Namun meski ditiadakan, Pekan Suci Paskah tetap berlangsung seperti biasa dan mencakup pelaksanaan ibadah di dalam gereja.

Uskup juga sudah menghimbau supaya gereja-gereja Katolik memperbanyak perayaan misa supaya semua umat bisa merayakan Paskah 2022 ini dengan khusyuk.

 

Mengenal Tradisi Semana Santa

Tradisi Semana Santa, bagi umat Katolik, merupakan penyambutan Paskah yang sudah ada sejak 500 tahun yang lalu ketika Portugis masuk ke Indonesia dan menyebarkan agama Katolik di Indonesia, khususnya daerah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Uniknya, beberapa bagian dari tradisi Semana Santa masih memakai bahasa Portugis dalam prosesi doa dan nyanyiannya.

 

Baca Juga: Menikmati Kemeriahan Larantuka di Hari Paskah

 

Ada 5 rangkaian acara yang biasanya diadakan dalam perayaan Semana Santa diantaranya:

Minggu Palma

Minggu Palma menjadi awal dari Semanta Santa atau Pekan Suci Paskah. Bagi masyarakat Larantuka sendiri Minggu Palma disebut dengan Dominggu Ramu. Biasanya umat Katolik akan mengadakan prosesi mengelilingi katedral untuk mengenang peristiwa ketika Yesus disambut dengan sorai sorai di kota Yerusalem.

 

Rabu Trewa

Rabu Trewa bagi umat Katolik ditandai dengan acara berkumpul di dua kapel, yaitu Kapel Tuan Ma dan Kapel Tuan Ana untuk berdoa dan mengenang kisah pengkhianatan Yudas Iskariot kepada Yesus. Dia malam harinya, mereka akan menggelar ritual membunyikan lonceng sebagai simbol kedukaan untuk mengenang peristiwa Yesus ditangkap dan disiksa oleh para prajurit.

 

Kamis Putih

Sehari sebelum Yesus disalibkan, gereja Katolik menyebutnya dengan Kamis Putih. Di hari ini, umat Katolik melakukan upacraa Tikam Turo yaitu memasang lilin di sepanjang jalan yang nantinya akan menjadi rute prosesi jalan Salib. Dilanjutkan dengan upacara pembukaan peti patung Tuan Ma dan Tuan Ana yang selama satu tahun ditutup. 

Patung yang sudah berusia ratusan tahun itu kemudian dimandikan dan dikenakan pakaian baru. Lalu di malam harinya diadakan misa di Katedral Reinha Rosari Larantuka.

 

Baca Juga: Ikutan Prosesi Semana Santa Larantuka, Ini Gereja yang Bisa Dikunjungi Buat Ibadah

 

Jumat Agung

Jumat Agung menjadi puncak dari Pekan Suci. Di hari ini Kapel Tuan Ma dan Tuan Ana dibuka untuk umum dan diberi kesempatan untuk berdoa kepada kedua simbol ini. Lalu Kapel Tuan Ma dan Tuan Ana diarak kembali menuju Katedral Reinha Rosari Larantuka.

Kapel Pohon Sirih di Pantai Kuce menjadi persinggahan terakhir kedua patung ini. Biasanya patung ini akan diangkut melintasi laut dengan kapal motor.

Tradisi Paskah umat Katolik ini memang sangat menarik ya. Mereka benar-benar mendedikasikan hidup selama 40 hari penuh untuk menjalani puasa lalu selama seminggu penuh diisi dengan beragam prosesi dan ibadah sebagai pengingat akan pengorbanan Yesus di kayu salib. 

Meskipun tahun ini Semana Santa ditiadakan, semoga umat Kristiani di Indonesia tetap kembali kepada makna Paskah yang sejatinya.

Sumber : Berbagai Sumber | Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami