Kasih Sejati yang Yesus Ajarkan
Kalangan Sendiri

Kasih Sejati yang Yesus Ajarkan

Claudia Jessica Official Writer
      1410

Lukas 6: 32-33

“Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian.”

 

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 31; Kisah Para Rasul 3; Keluaran 11-12

 Yohanes 4: 9, 27

Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: "Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?" (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorang pun yang berkata: "Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?"

Pernahkah Anda ingin menambahkan catatan dari ayat yang mengatakan, “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”?

Kita tentu harus mencintai orang lain meskipun:

- Mereka pernah berselingkuh dari pasangannya

- Mereka jahat kepada Anda, Tuhan jelas memanggil orang Kristen untuk menjadi berbeda dari orang lain dengan mengasihi orang-orang semacam ini

- Mereka menyerang keluarga Anda secara verbal

- Mereka tidak setuju dengan Anda tentang iman Anda

- Mereka memiliki pandangan politik berbeda dari mereka

Yohanes bercerita kepada kita tentang kisah Yesus yang hendak melakukan perjalanan melalui Samaria (Yoh. 4: 2-42). Pada masa itu, orang Yahudi umumnya tidak berurusan dengan orang Samaria. Beberapa memberi orang Samaria karena dianggap setengah keturunan dan praktisi penyimpangan dari iman Yahudi yang sejati.

Yesus bertemu dengan seorang wanita yang mengumpulkan air dan murid-murid-Nya sedang pergi mencari makan. Biasanya, para wanita akan mengumpulkan air di pagi hari saat cuaca sejuk, tetapi wanita ini mengambil air di siang hari dan sendirian. Dia memiliki lima suami dan saat ini, pria yang bersamanya bukanlah suaminya. Apakah ini sebabnya dia memilih untuk menghindar dari mengumpulkan air di pagi hari? Dia memilih menghadapi teriknya matahari daripada tatapan wanita lainnya, mungkin.

Yesus memulai percakapannya. Melewati Samaria tidak cukup buruk. Namun saat ini Yesus sendirian dengan seorang wanita Samaria yang tidak dikenal dan minum dari cangkirnya. Itu bukanlah citra baik untuk seorang Rabi Yahudi.

Wanita itu heran, mengapa pria Yahudi itu mendekati wanita Samaria?

Meskipun secara budaya dan agama bertentangan, kedua kelompok (yahudi dan samaria) setuju saat ini. Mereka berpikir bahwa Yesus tidak berperilaku seperti yang diharapkan oleh orang-orang Yahudi yang religius.

Mengasihi orang lain bukanlah konsep baru pagi para murid. Mereka akan mengetahui Firman berikut:

Imamat 19:18 “Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.”

Namun cara Yesus mengasihi mengungkapkan pandangan mereka yang dangkal tentang bagaimana rasanya mengasihi orang lain.

Yesus menunjukkan kepada kita cinta yang tidak nyaman. Dia menunjukkan kepada kita kasih yang tidak mengharapkan balasan. Yesus menunjukkan kepada kita cinta yang “dianggap tidak dapat dicintai.”

Kami terkagum karena itu bukan cinta dari dunia ini. Itu tidak wajar, tidak pantas, dan sering kali tidak berbabalas.

Tapi inilah yang membedakan cinta Kristen dari cinta dunia.

Lukas 6: 32-33 “Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian.”

Akan ada saat-saat dalam hidup ketika kita harus mencintai orang lain dengan pengorbanan. Untuk mendekati orang yang tidak akan didekati orang lain, untuk membalas kasih sayang atas kebencian, untuk memberi tanpa mengharapkan balasan. Hari ini dan setiap hari, marilah kita waspada terhadap kesempatan-kesempatan seperti itu.

Mereka mungkin pertama kali muncul sebagai masalah, hambatan, atau ketidaknyamanan. Tetapi jenis cinta inilah yang akan membuat dunia kagum dan mengakui pekerjaan Tuhan dalam hidup kita.

 

Hak Cipta © 2020 Jonathan Santiago, digunakan dengan izin.

Ikuti Kami