Saat Tuhan Menutup Pintu

Saat Tuhan Menutup Pintu

Lori Official Writer
      638

Kejadian 7: 16b

lalu TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh.

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 12; Matius 12; Kejadian 23-24

Mungkin kita semua pernah mengalami hal ini setidaknya satu kali dalam hidup. Kita pernah menggenggam gagang pintu harapan dan memutarnya, berharap hasilnya sesuai dengan keinginan kita. Kita berharap mendengar bunyi klik saat kita melepaskannya. Sayangnya, hal itu tidak berhasil dan kita terpaksa menggebrak pintu dengan keras. 

Menurut kita, pintu tertutup adalah penghalang akan impian kita. Saat melihat pintu masih tertutup, kita mencoba menggebrak pintu. Tetapi usaha itu tetap gagal, hingga kita mulai kecewa.

“lalu TUHAN menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh.” (Kejadian 7: 16b)

Mari kembali kepada kisah Nuh. Musa menulis tentang sebuah mujizat di sana. Dikatakan di sana bahwa Tuhan sendiri yang menutup pintu bahtera. Bahkan di versi Alkitab lain disebutkan bahwa Tuhan ‘menyegel pintu’ bahtera. Tujuannya adalah untuk memberikan perlindungan kepada Nuh, keluarganya beserta seluruh binatang yang berada di bahtera. 

Tuhan sendiri yang tahu seberapa besar air bah yang terjadi dan berapa lama hal itu akan berlangsung. Dia tahu keadaan setiap binatang di dalam bahtera dan bagaimana manusia di sana saat sedang bosan. Seandainya Tuhan tidak mengasihi seisi bahtera itu, Dia tidak akan pernah menutup pintu tersebut. 

Apakah Anda memahaminya sampai di sini? Bahwa terkadang Tuhan menutup pintu untuk memberkati kita.

Lalu bagaimana jika kita ingin sekali pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu yang berkesan untuk hidup kita? Kita semua pasti ingin sekali bisa mencapai setiap keinginan kita. 

Kita semua punya tujuan. Untuk mencapainya, kita perlu fokus supaya setiap energi yang kita kerahkan tidak terbuang dengan sia-sia.

Anda bertanggung jawab menyelesaikan setiap tugas yang diberikan kepada Anda. Karena itulah Tuhan memberikan perlindungan-Nya atas Anda. 

 

Baca Juga:

Masih Kompromi Dengan Kebiasaan yang Merusak?

Temukan Harapan Baru, Jangan Lagi Menoleh ke Masa Lalu

 

Mari perhatikan bagaimana Tuhan bekerja atas hidup kita.

“Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka.” (Kisah Para Rasul 16: 6-7)

Paulus dan rekan sepelayanannya dihalau oleh Roh Kudus dari rencana mereka untuk membagikan injil ke Asia. Jadi mereka berjalan sepenuhnya sesuai dengan tuntunan Roh Kudus. Sama halnya dengan kita, panggilan khusus yang diberikan kepada mereka sepenuhnya dikerjakan dengan tuntunan Tuhan. 

Tuhan tahu kapan dan kemana harus mengirim orang-orang percaya supaya pelayanan mereka bekerja secara efektif. Dia bahkan dua kali menutup pintu pelayanan mereka. Bahkan ketika Paulus mencoba untuk mencari pintu lain untuk didobrak, Roh Kudus tetap menutup pintu tersebut.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa penginjilan beriringan dengan rencana ilahi. Sekali lagi, ingatlah bahwa terkadang Tuhan menutup pintu untuk memberkati kita.

Begitu juga dengan hidup kita, misi pelayanan mereka sangat berharga di mata Tuhan. Kita bernilai untuk panggilan-Nya. Sekalipun orang lain mencoba membuka pintu, tapi hanya kita yang bisa membukanya dan Tuhan sendiri yang bisa menutupnya. Karunia dan panggilan yang Tuhan taruhkan atas kita sebenarnya bermanfaat untuk diri kita sendiri. Tidak ada orang lain yang memenuhi syarat untuk melakukan panggilan kita, selain diri kita sendiri. Karena itu Tuhan tidak pernah lengah untuk menjaga dan melindungi kita.

Setiap orang telah diberi tujuan khususnya masing-masing. Sejak kita masih di dalam kandungan, Tuhan memilih benang khusus yang Dia inginkan untuk merajut hidup kita. Dia senang menyusun perjalanan hidup kita dan membungkus hidup kita dengan berbagai karunia. 

Saya bersyukur karena sang Gembala saya tidak mengizinkan orang lain melewati pintu yang sudah dikhususkan hanya untuk saya. Dia juga tidak mencoba untuk merusak impian saya dengan membiarkan saya mengikuti keinginan hati saya sendiri untuk menyelesaikan panggilan itu.

Jadi, mari ingat kembali bahwa analogi PINTU merupakan Yesus sendiri. Jadi Dia sendiri bisa meutup atau membuka diri-Nya untuk menuntun hidup Anda sampai tujuan.

 

Hak cipta Susan M. Watkins, disadur dari CBN.

Ikuti Kami