Mau Jadi Dupa yang Harum Bagi Bapa? Belajar Seperti Sebatang Lilin yang Dibakar

Mau Jadi Dupa yang Harum Bagi Bapa? Belajar Seperti Sebatang Lilin yang Dibakar

Lori Official Writer
      740

Mazmur 22: 14

Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 132; Yohanes 9; Yeremia 40-42

Saya suka bau lilin yang berhembus ke rumah saya. Saat saya menyalakan lilin White Barn saya, aromanya yang menyenangkan memenuhi seluruh ruangan bawah.

Selama masa-masa karantina Covid-19, saya memang sudah berencana untuk menikmati bau aroma lilin di dalam kamar mandi. Di waktu pagi, setelah toko saya buka, saya masih bisa menghirup bau lilin yang menembus melalui celah masker saya.

Sesampai di rumah, saya segera menyalakannya. Aroma buah nanas, krim kocok dan jeruk segar memenuhi rumah saya dengan nuansa tropis. Hanya dengan menyalakan tiga lilin, saya merasa seolah sedang menikmati pantai nan indah. Karena saat Anda tidak bisa ke pantai, Anda bisa menciptakan pantai Anda sendiri.

Lalu saya memandangi lilin tersebut. Saya menyadari bahwa supaya lilin mengeluarkan aromanya, kita harus membakar sumbunya. Tiga sumbu api yang berkelip-kelip tersebut melelehkan lilin. Untuk melepaskan aromanya, lilin tidak hanya dibakar, tetapi juga melepaskan sebagian dari dirinya. Lilin mengorbankan dirinya untuk memberi kita kenyamanan.

Hal ini membuat saya teringat dengan nubuatan dalam Mazmur 22: 14 yang berkata: 

“Seperti air aku tercurah, dan segala tulangku terlepas dari sendinya; hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku.”

Hati Yesus luluh saat Dia tergantung di kayu Salib sebagai korban atas dosa-dosa kita. Dia mengosongkan diri-Nya dan melepas hak-Nya dan menanggung kepenuhan murka Allah sehingga kita bisa diperdamaikan dengan Bapa.

 

Baca Juga:

Membakar Dupa Yang Harum

Persembahkanlah Doamu Sebagai Dupa yang Harum Bagi Tuhan

 

Kasih Yesus atas kita memuliakan Bapa dan menjadi dupa yang menyenangkan bagi-Nya.

“…dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” (Efesus 5: 2)

Kita dipanggil untuk berbagi kasih yang sama seperti yang Yesus tunjukkan kepada kita di kayu salib dan menjadi korban yang hidup bagi Bapa. Kita harus menyerahkan diri kita untuk menyembah Dia (Roma 12: 1).

Kadang kala, kita akan menjadi orang yang egois dan tidak mau menyerahkan hidup kita kedalam tuntunan Tuhan. Namun saat kita mau berkata ‘Aku terbatas dan Tuhan tidak terbatas’, maka hidup kita akan memberikan keharuman bagi Tuhan. 

Kadang kala, hidup saya berada di bawah api ketika saya ditekan oleh kekuatiran dunia. Dalam kondisi ini, saya punya pilihan. Saya bisa membiarkan api mengeluarkan aroma harum sebagai persembahan bagi Tuhan. Saat saya duduk di sofa dengan semerbak wewangian yang harum, saya menyadari bahwa saya juga ingin menjadi dupa yang harum. 

Hal ini membuat saya memutuskan untuk bersedia dilelehkan dengan api. Saya mau menjadi dupa yang harum bagi Bapa dan memenuhi seluruh ruang di kerajaan surga.

 

Hak cipta Joanna Eccles, digunakan dengan izin CBN

 


Anda diberkati dengan renungan harian kami? Mari dukung kami untuk terus memberkati lebih banyak orang melalui konten-konten terbaik di website ini.

Yuk bergabung jadi mitra Jawaban.com hari ini.

 

DAFTAR

Ikuti Kami