Warisan untuk Anak di Hari Anak Sedunia 2021

Warisan untuk Anak di Hari Anak Sedunia 2021

Claudia Jessica Official Writer
      512

Lukas 18:16

“Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.”

 

Bacaan Alkitab setahun: Mazmur 142; Yohanes 19; Zakharia 4-6

Di pagi yang tampak cukup normal, kecuali untuk sepasang sepatu yang hilang. Dickie kecil (ayah saya semasa muda) bergidik ketika berpikir dia akan terlambat ke sekolah. Dia takut dengan teguran orang tuanya. Telinganya membenci kata-kata kasar mereka tentang kekurangan dan kegagalannya.

Dia mencari sepatu usangnya yang ada di lemari dan mengenakan sepatu yang compang-camping itu ke sekolahnya. Sepulangnya dari sekolah, dia berdiri dengan tidak percaya saat membuka pintu rumahnya dan mendapati rumah itu telah kosong “dimana semua orang?”

Dia memanggil orang tuanya namun tidak mendapat jawaban apapun. Selain itu, tidak ada barang-barang mereka lagi di rumah itu. Dia menunggu di rumah kosong itu sampai akhirnya orang tuanya kembali. Entah bagaimana, mereka lupa memberitahu ayahku bahwa mereka telah pindah.

Ketika ayahku menceritakan kisahnya, saya merasa patah hati. Namun kisah itu membuat saya memahami mengapa dia bersikap keras kepada saya tentang kekurangan dan kegagalan saya. Dia tidak bisa memberikan apa yang tidak dia miliki. Dia hanya bisa meniru apa yang diajarkan kepadanya.

Ketika putra-putra saya masih kecil, saya selalu mengatakan bahwa saya mengasihi mereka. Ketika mereka melakukan hal-hal bodoh, saya tidak pernah mengatakan mereka bodoh. Namun saya sering kali berteriak mengingatkan kekurangan dan kegagalan mereka. Saya mewariskan warisan generasi kakek-nenek saya. Saya benci dengan cara saya memperlakukan mereka, tidak peduli seberapa keras saya berdoa, teguran itu terus berlanjut.

Saya memiliki hubungan pridai dengan Yesus, namun kenapa saya tidak bisa berhenti berteriak? Saya pasti tidak “didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan” (Amsal 22:6). Sebaliknya, saya memimpin mereka untuk merasakan rasa sakit yang saya dan ayah saya alami.

Yesus mengatakan dalam Lukas 18:16, “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.”

Apakah saya menghalangi mereka lewat warisan kata-kata kasar dan ketidaksabaran? Akankah mereka berpaling dari Tuhan karena mereka merasa berpaling dariku? Apakah mereka akan mewariskan perilaku kakek-nenek saya kepada anak-anak mereka?

Ketika putra-putra saya masih remaja, saya terus berdoa untuk pembebasan dari teriakan dan agar Tuhan melindungi mereka dari kata-kata kasar saya.

Firman-Nya: "Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala! Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara Yesaya 43:18-19 (TB).

Saya berharap suatu saat, Tuhan mengizinkan saya untuk berhenti memikirkan masa lalu, mengesampingkan kesalahan saya dan kesalahan nenek moyang saya, serta menerima cara baru untuk menjalani hidup.

Ketika anak-anak saya dewasa, teriakan itu hilang. Namun pertanyaan tersulit tetap ada. Apakah saya menghalangi keinginan anak-anak saya untuk Yesus? Apakah mereka mengalami kehancuran oleh kata-kata saya? Jika saya berdiri berdampingan dengan anak-anak saya di depan cermin, apakah mereka akan melihat bayangan Yesus dalam diri saya? Apakah mereka melihat warisan saya sebagai warisan kemarahan atau warisan yang membawa mereka lebih dekat kepada Yesus?

2 Korintus 3:18 memberi saya harapan:

Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar (TB).

Tak ada satu pun dari kita yang sempurna dalam hidup ini. Kita semua sedang dalam proses transformasi. Tak ada kata terlambat untuk membimbing putra-putra saya lebih dalam ke dalam warisan iman.

Saya meminta pengampunan kepada putra-putra saya dan apa yang paling mereka ingat tentang masa kecil mereka. Mereka bilang aku menghidupi imanku, selalu hadir, dan mencintai mereka seperti orang gila. Berteriak tidak ada dalam daftar mereka!

Dan ayahku? Dia ada di Surga dan masih menjadi penggemar terbesar saya!

Pada hari anak sedunia ini, mari kita wariskan warisan baik kepada anak-anak kita. Anak-anak cenderung melakukan apa yang tuanya lakukan kepada mereka. Jika Anda ingin memutus rantai kutuk dari nenek moyang Anda, maka Anda harus mulai dari diri Anda terlebih dahulu.

Selamat hari anak sedunia!

 

Hak Cipta © 2018 Cheryl Crofoot Knapp, digunakan dengan izin.

Ikuti Kami