Desa Blimbingsari, Wisata Religi yang Padukan Gereja Dengan Sentuhan Budaya Bali

Desa Blimbingsari, Wisata Religi yang Padukan Gereja Dengan Sentuhan Budaya Bali

Lori Official Writer
292

Keindahan Bali memang sudah diakui di seluruh dunia. Bukan saja skarena panorama alamnya, tetapi budaya masyarakat setempat pun menjadi daya tarik. 

Jika kebanyakan pelancong hanya berwisata di sekitar Kuta Bali, Ubud atau Seminyak, maka kali ini mari membongkar sisi lain dari keunikan Bali.

 

Pura Gereja di Desa Blimbingsari 

Anda yang ingin menikmati suasana wisata religi yang hikmat, cobalah untuk berkunjung ke Desa Wisata Blimbingsari. Di desa ini para pengunjung bukan saja bisa menikmati indahkan budaya setempat, tetapi menyaksikan bagaimana keyakinan masyarakat setempat berpadu dengan budaya lokal.

 

Baca Juga: Lagi Liburan ke Bali? Jangan Lupa Mampir ke Dua Desa Kristen Ini Ya..

 

Bagi umat Kristen, khususnya, Anda bisa merasakan kentalnya budaya Bali ketika menyaksikan dua bangunan gereja yang ada di sana yaitu Gereja Pniel di Banjar Blimbingsari dan Gereja Imanuel di Banjar Amyarsari.

Kedua gereja ini dibangun dalam bentuk pura dan umat Kristen di sana pun menjalankan ibadah dengan bahasa Bali, busana adat Bali serta menggunakan alat musik tradisional gamelan sebagai pengiring puji-pujian selama ibadah.

 

Menurut sejarahnya, gereja Pniel ini sudah ada sekitar tahun 1970-an. Namun pada tahun 1971, bangunan gereja mengalami kerusakan karena gempa bumi. Bentuknya yang semula meniru arsitektur Eropa akhirnya diubah dengan struktur pura dengan halaman luar yang cukup luas dan dilengkapi dengan gapura dan tempat sembahyang.

Sejak saat itulah masyarakat akrab menyebutnya Pura Gereja. Gereja ini sendiri menjadi gereja tertua dan terunik di Bali.

Keunikan lain yang bisa dilihat dari kebiasaan umat Kristen di Desa Blimbingsari ini adalah bagaimana mereka mengganti lonceng gereha dengan kulkul atau kentongan yang terbuat dari kayu yang digantungkan. Kulkul ini biasanya ditaruh di sebuah tempat bernama Bale Kulkul.

Saat perayaan Natal dan perayaan keagamaan lain, biasanya seluruh masyarakat desa akan merayakan dengan antusias. Seluruh desa akan dipenuhi dengan penjor sebagai pelengkap kemeriahan perayaan.

 

Baca Juga: Bali Gak Melulu Pantai, Yuk Mampir ke Salah Satu Desa Terbersih di Dunia

 

Sejarah Desa BlimbingSari

Adapun awal mula hadirnya desa Blimbingsari terjadi oleh tokoh masyarakat bernama Made Regug, Pandeta Made Rungu dan beberapa masyarakat.

Awalnya desa seluas 450 hektar ini adalah kawasan hutan, yang kemudian diminta untuk dijadikan desa pada tahun 1939.

Keunikan desa ini juga berpadu dengan alamnya yang indah. Tertarik ingin berkunjung? Atur rencana liburan Anda dari sekarang!

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami