Hatiku Hancur dan Sedih Saat Anakku Divonis Autis – Debi Sianturi

Hatiku Hancur dan Sedih Saat Anakku Divonis Autis – Debi Sianturi

Lori Official Writer
698

Anak kedua kami Joshua merupakan anak yang ditunggu. Jarak usianya lima tahu dengan kakaknya, anak pertama kami. 

Bahkan untuk kehamilan yang kedua ini kami harus melakukan berbagai program. Karena hampir frustrasi, kami sempat ingin menjalani program bayi tabung. Tetapi sebelum kami melakukannya, saya akhirnya hamil juga. Bagi saya itu adalah mujizat atau hadiah dari Tuhan.

Sebagai orangtua, tentu saja saya dan suami memiliki harapan supaya anak kedua kami tumbuh dengan baik seperti anak-anak lainnya.

Tetapi kenyataan berkata lain, di usia dua tahun anak kedua kami Joshua divonis oleh dokter mempunyai ciri-ciri autistik.  

Saat itu dia kehilangan kemampuan berbicara, kehilangan indra pendengaran dan tidak menunjukkan kontak mata dengan siapapun. Hal ini membuat kami mulai bertanya-tanya hingga akhirnya kami membawa dia ke dokter psikiatris anak dan juga dokter anak. Dari hasil pemeriksaan tersebut kami dikejutkan dengan vonis dokter.

 

Baca Juga: Kisah Nyata Bocah yang Sembuh dari Autisme

 

Vonis tersebut sangat menakutkan. Apalagi waktu itu pengetahuan saya tentang autisme sangat minim. Jadi saya kaget, takut dan gak tahu harus berbuat apa. Kita hanya menerima tuntunan dari dokter.

Menurut dokter, penanganan untuk Joshua harus dilakukan dengan terapi, baik untuk bicara, ABA (Applied Behaviour Analysis) dan terapi-terapi lainnya. 

 

Terpuruk Dengan Keadaan Joshua

Setiap hari kami selalu menangis. Sedih menyaksikan dia harus seperti itu. Pada saat itu semuanya campur aduk antara marah, pahit, bertanya-tanya dan bahkan terlalu muluk-muluk mengharapkan kesembuhan anak ketika dinyatakan cacat.

Sebagai orangtua yang tidak punya pengetahuan tentang autisme, kami malah harus terlibat untuk mengurus dia. Sementara kami juga harus memberikan perhatian kepada anak kami yang lain dan juga pekerjaan kami. 

Ada banyak hal-hal yang kami tidak tahu tentang terapi autisme. Bahkan hasilnya sendiri kami tidak tahu seperti apa. 

 

Menyalahkan Diri Sendiri

Sebagai orangtua, kami mulai melakukan instropeksi sendiri. Kami mulai menganalisis salahnya dimana? Kenapa anak kami jadi seperti ini? Sebagai orangtua, itu memang sangat manusiawi. Kami mulai bertanya-tanya entah karena kutuk keturunan atau karena dosa-dosa yang kami lakukan sebelumnya. 

Kami bahkan memutuskan semua hal yang menurut kami sebagai pemicu dari Joshua menjadi autis. Di situlah kami harus menjadi orangtua yang tangguh.

 

Baca Juga: Terlahir Cacat Penglihatan Tak Halangi Jordy Wong Sidharta Capai Sukses di Usia Muda

 

Sebagai ibu yang mempunyai anak berkebutuhan khusus, saya merasa perlu mengikuti komunitas autisme di Jakarta. Ketika kami mempunyai kelompok Parents Support Group Association akhirnya kami membuat sebuah survey tentang cita-cita para ibu dengan anak berkebutuhan khusus.

 

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

Sumber : Solusi TV | Jawaban.com
Halaman :
12Tampilkan Semua

Ikuti Kami