#RIP David Yonggi Cho, Penggerak Doa di Asia Sekaligus Pendiri Megachurch Terbesar Dunia

#RIP David Yonggi Cho, Penggerak Doa di Asia Sekaligus Pendiri Megachurch Terbesar Dunia

Lori Official Writer
1706

Di usianya yang ke-85, pendiri Megachurch terbesar dunia Gereja Injil Sepenuh Yoido di Korea Selatan, Pendeta David Yonggi Cho menghembuskan napas terakhirnya pada Selasa, 14 September 2021.

Menurut konfirmasi, Cho meninggal dunia setelah menjalani perawatan medis terkait pendarahan otak yang dialaminya sejak tahun 2020 silam.

Kematiannya mengundang duka bagi umat Kristen di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pasalnya, Cho telah menghabiskan seluruh hidupnya untuk melayani Tuhan sebagai pendeta. Dia telah mendirikan 500 gereja cabang di seluruh Korea Selatan dan telah mengirim ribuan missionaris ke berbagai negara di seluruh dunia.

Bukan hanya itu, pria kelahiran 14 Februari 1936 ini juga dikenal sebagai penggerak doa dan penyembuhan aliran Pentakosta terbesar di Asia.

 

Baca Juga: Yonggi Cho: Yesus Ingin Engkau Makmur

 

Dia juga menjadi pendeta pertama yang menggagas soal kelompok sel sebagai kunci pemuridan dan wadah untuk membina hubungan yang intim antar jemaat gereja yang besar dan berkembang.

“Saya mengabdikan diri untuk berdoa. Ketika kita menerapkan firman Tuhan dalam hidup kita dan mengalami dispensasi Tuhan, kita diberdayakan oleh Tuhan. Orang Kristen yang percaya kepada Yesus menerima Roh Kudus…Seseorang hanya menemukan bangku kosong di banyak gereja di Eropa. Apa penyebabnya? Alasannya adalah bahwa gereja-gereja Eropa telah mengkhianati Roh Kudus,” ungkap Cho seperti dikutip dari jurnal Church Growth.

Billy Watson, pemimpin dari Universitas Oral Roberts sendiri menyebut David Yonggi Cho sebagai salah satu pemimpin besar Kristen yang digerakkan oleh ‘Pimpinan Roh’ dan hal itu berdampak bagi orang Kristen selama beberapa generasi.

Selama pelayanannya, Cho juga aktif menulis buku, mendirikan surat kabar harian Kristen dan juga organisasi kemanusiaan.

 

Baca Juga: Pemimpin Gereja Terbesar Korea Selatan Dipenjara

 

Percaya Tuhan Saat Divonis Mati Karena TBC

Hidup Cho benar-benar berubah, dari seorang anak dari keluarga Budha, dia akhirnya mengikut Yesus di usia 17 tahun. Kala itu dia menderita TBC dan dilarikan ke rumah sakit. 

Saat itu kondisinya cukup kronis, sehingga dokter memvonis Cho akan meninggal karena TBC tersebut. Saat itulah beberapa orang Kristen datang untuk menyampaikan tentang Yesus kepadanya. 

Dari sebuah Alkitab yang diberikan kepadanya, Cho mulai mempercayai Tuhan. Bukan hanya itu, dia bahkan bersyukur bisa sembuh dari penyakitnya.

“Saya memutuskan untuk memandang kepada Tuhan yang tidak saya kenal. Saya berteriak, “Tuhan, aku ingin hidup! Aku ingin hidup! Tolong bantu aku!” ucapnya.

Setelah sembuh, Cho pun semakin aktif mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Hingga pada tahun 1956, dia memutuskan sekolah di Full Gospel Bibble College di Seoul untuk menjadi pendeta.

Dua tahun kemudian, dia dan Jashil Choi, ibu mertuanya, mulai mengadakan kebaktian di sebuah tenda. Hanya ada empat atau lima orang yang datang di ibadah pertama tersebut. Tetapi dalam waktu tiga tahun, ada sebanyak 600 orang yang hadir.

 

Baca Juga: Salut! Sebagai Penyanyi, 3 ‘Oppa’ Asal Korsel Ini Nggak Ragu Tunjukkan Iman Kekristenannya

 

Pada awal tahun 1980-an, Cho berambisi untuk meningkatkan jumlah jemaatnya dan menjadi gereja terbesar di Korea. Jemaatnya pun terus bertumbuh menjadi ribuan orang. Tetapi selama beberapa tahun jumlah itu hanya sampai di angka 2400 saja. Hingga pada akhirnya dia memulai gagasan kelompok sel. 

Dengan gagasan kelompok sel ini, gerejanya bertumbuh menjadi 18.000 jemaat pada tahun 1973. Mereka lalu membangun gedung gereja yang baru di Yoido. Tiga tahun kemudian, Cho mendirikan Church Growth International untuk mengajarkan asas-asas yang dia pelajari secara global.

 

 

BACA HALAMAN BERIKUTNYA --->

Sumber : Berbagai Sumber
Halaman :
12Tampilkan Semua

Ikuti Kami