Bisa Jadi Koki Meski Tangan Buntung, Kisah Nyata Maricel Apatan!

Bisa Jadi Koki Meski Tangan Buntung, Kisah Nyata Maricel Apatan!

Lori Official Writer
1860

Ini adalah kisah nyata tentang seorang wanita muda yang melewati ujian berat dalam hidupnya. Waktu kamu membaca kisah ini, kamu akan menyadari kalau ujian hidupmu gak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang dia alami.

Jadi ceritanya lengkapnya dimulai pada 25 September 2000, seorang anak berusia 11 tahun bernama Maricel Apatan pergi bersama pamannya untuk mengambil air di sumur.

Saat di tengah jalan, mereka diikuti oleh empat pria yang membawa pisau laras panjang. Jalan mereka dihalangi dan salah satu dari mereka meminta sang paman untuk terkurap di tanah lalu membunuhnya.

Menyaksikan hal itu, Maricel amat terkejut. Apalagi mengetahui keempat pria itu adalah tetangganya. Saat itu dia mencoba melarikan diri, tapi mereka mengejarnya.

 

Baca Juga: Terlahir Cacat Penglihatan Tak Halangi Jordy Wong Sidharta Capai Sukses di Usia Muda

 

Dia lalu menangis sambil memohon dalam bahasa Zamboanga. ‘Kuya, wag po, wag n’yo akong tagain! Maawa po kayo sa akin! (Jangan bunuh aku! Kasihanilah aku!”

Sayangnya tak seorangpun dari mereka yang berbelas kasihan kepada Maricel. Salah satu dari mereka bahkan menggorok bagian lehernya. Seketika itu, Maricel rebah ke tanah dan tak sadarkan diri.

Saat dia bangun, dia melihat ada begitu banyak darah. Dia juga melihat ada banyak kaki di sekitarnya. Tapi dia pura-pura mati.

Saat para pria itu mulai meninggalkannya, dengan tertatih-tatih dan penuh luka, dia berusaha pulang. Di sepanjang jalan, dia baru menyadari kalau kedua pergelangan tangannya hilang.

Kadang dia jatuh pingsan, lalu kemudian sadar dan kembali berjalan pulang.

Setiba di dekat rumah, dengan suara yang sangat keras Maricel memanggil-manggil ibunya.

Menyaksikan kondisi Maricel yang tak lagi punya jari tangan, sang ibu menjadi sangat histeris. Dia lalu membungkus bagian tangan yang terus mengucurkan darah dan membawanya ke rumah sakit.

Sayangnya perjalanan ini gak mudah. Jarak antara rumah dan rumah sakit sekitar 12 kilometer. Mereka harus menempuhnya sekitar 4 jam.

Tapi entah bagaimana, mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Menyaksikan kondisi Maricel, sang dokter bahkan mengira Maricel tak lagi mampu bertahan hidup. Dia menghabiskan waktu selama 5 jam dalam ruang operasi. Dokter harus memberikan 25 jahitan di bagian leher dan punggungnya.

 

Baca Juga: Kanker Sebabkan Gadis Ini Cacat Sampai Akhirnya Selama 8 Tahun Dikuasai Rasa Minder

 

Yang paling menyedihkannya, keesokan harinya adalah ulang tahunnya yang ke-12. Tapi tragedi tak berhenti sampai di situ. Setelah mereka kembali ke rumah, mereka mendapati rumahnya rata dengan tanah. Rumah mereka dijarah dan dibakar.

Merekapun tak lagi punya apa-apa. Bahkan tagihan rumah sakit Maricel masih belum bisa dibayar.

Tapi Tuhan mengirim malaikat-Nya untuk membantu mereka.

Uskup Agung Antonio Ledesma, seorang kerabat yang mereka kenal akhirnya membayar tagihan rumah sakit Maricel dan membantu mereka mengadukan tindakan kejahatan terhadap Maricel dan pamannya. Akhirnya para pelaku pun dijatuhi hukuman penjara.

Dia tinggal bersama dengan para biarawati di Regina Rosarii. Tapi merasa gak betah hidup tanpa melakukan apa-apa, dia memutuskan untuk berkarya. Alih-alih mempertanyakan kenapa peristiwa itu menimpanya, Maricel memilih untuk memakai tangannya yang buntung untuk berkreasi di dapur.

Pada tahun 2008, dia lulus dari Kursus Manajemen Hotel dan Restoran. Dia bahkan menerima medali emas atas prestasi Seni dan Kerajinan.

 

Baca Juga: Kisah Nyata Tsunami Palu yang Sebabkan Jeni Stany Terpisah dari Dua Putrinya

 

Yang paling menakjubkan, pada tahun 2011 dia menyelesaikan pendidikannya sebagai koki meski tak punya jari-jari tangan.

Semangat Maricel untuk mencapai mimpinya gak pernah surut. Sekalipun dia kehilangan kedua bagian pergelangan tangannya, dia terus berjuang untuk mencapai cita-citanya. Dan hari ini, dia sudah dikenal oleh banyak orang berkat bakatnya di dapur.

Jadi, dengan membaca kisah nyata Maricel ini apakah kamu masih berpikir hidupmu paling menderita? Jangan pernah memandang masalah atau kejadian yang terjadi atas hidupmu sebagai malapetaka. Sebaliknya, pandanglah hal itu dari sisi positifnya.

 


Anda diberkati dengan konten-konten kami? Mari dukung kami untuk terus memberkati lebih banyak orang melalui konten-konten terbaik di website ini.

Yuk bergabung jadi mitra Jawaban.com hari ini.

 

 

DAFTAR

Sumber : Jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami