Belajar Dari Film 127 Hours, Kita Memang Perlu  Perangi Dosa Dengan Cara Yang Radikal

Belajar Dari Film 127 Hours, Kita Memang Perlu Perangi Dosa Dengan Cara Yang Radikal

Inta Official Writer
1193

127 Hours merupakan salah satu film fantastis yang berceritakan pengalaman seorang Aron Ralston saat dirinya sedang mendaki. Dalam filmnya, Aron yang baru berusia 27 tahun ini melompat dengan riang pada sebuah musim semi, membawa sejumlah makanan dan minuman yang cukup sebagai bekal. Untuk sampai ke lokasi, ia perlu mengemudi sejauh 150 mil dari tempat tinggalnya.

Sesampainya di sana, ia langsung memanjat sebuah celah yang lebarnya hanya beberapa meter. Saat hari mulai menjelang sore, ia memutuskan untuk beristirahat di ketinggian tujuh puluh lima meter dari dasar ngarai. Baginya, hari itu sangat sempurna. Sampai tiba-tiba, ada sebuah batu besar yang terlepas dari dinding batu dan menjebak lengan kanan Aron.

Ketika ini terjadi, ia menyadari betul kalau seluruh lengannya itu pastilah sudah hancur lebur. Baginya, tangan kanan itu merupakan sebuah aset terbesar dalam kehidupannya. Apa yang akan terjadi kalau hal buruk menimpa tangan ini, pikirnya.

Aron berada ditengah gunung batu yang sangat dikunjungi oleh orang banyak. Selama lima hari penuh ia mencoba untuk melepaskan diri dari batu tersebut, tetapi semuanya tidak membuahkan hasil yang baik.

Aron yang hanya membawa perbekalan untuk sehari, kini harus mencoba untuk bertahan hidup. Ada satu momen dimana ia berpikir untuk mematahkan lengannya, dan memotong otot dengan sebuah pisau kecil di sakunya, sehingga tangannya bisa terlepas. Dan hal itu dilakukan oleh Aron.

Ketika ditanyai kisah ini, Aron bercerita bahwa keinginan untuk menyelamatkan diri sendiri itu semacam autopilot. Bekerja dengan sendirinya, karenanya ia sampai nekat untuk mengamputasi sendiri lengan kanannya.

 

Baca juga: Film ‘Christ In You’ Beberkan Kebenaran Bahwa Tuhan Itu Pribadi yang Hidup Sampai Hari Ini

 

Setelah proses amputasi tersebut selesai, ia mulai menurunkan tubuhnya dan berjalan perlahan ke arah truknya. Ditengah perjalanan, ia bertemu dengan dua orang pendaki yang kemudian memanggilkan helikopter penyelamat untuknya.

Mengamputasi lengan kanannya sendiri adalah sebuah tindakan radikal, tetapi itu adalah salah satu keputusan yang telah menyelamatkan hidupnya dan membuatnya kembali bersama keluarga.

Panggilan Tuhan pada kita untuk memerangi dosa mirip dengan pengalaman Aron ini. Alkitab tidak menawarkan pendekatan yang santai, sehingga kita tidak bisa pasrah begitu saja. Saking radikalnya, nggak sedikit orang kristen yang akhirnya memutuskan untuk tidak membicarakannya.

Matius 5:30, "Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka."

Disini, Yesus memang tidak secara langsung berbicara soal kita harus mengamputasi fisik kita. Lewat perkataanNya ini, Ia ingin mengatakan kalau untuk menolak dosa, kita perlu pakai langkah-langkah yang ekstrim. Meski menyakitkan, kita memang harus menyingkirkan dosa dari kehidupan kita ini.

Roma 8:12, "Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup."

 

Baca juga: Dari Pembunuh Kini Jadi Pemberita Injil- Steven Mamahit

 

Sumber : crosswalk
Halaman :
1

Ikuti Kami