Panjang Sabar Sejati vs Panjang Sabar Palsu

Panjang Sabar Sejati vs Panjang Sabar Palsu

Budhi Marpaung Official Writer
5621

Panjang sabar kadang-kadang diartikan sebagai “kesabaran”. Secara singkat, panjang sabar (kesabaran) artinya watak yang tenang dan bisa menahan diri. Panjang sabar itu adalah keadaan hati yang tetap sabar walau terus menerus dipancing dan digoda.  

Kesabaran itu merupakan kasih karunia ilahi. Kesabaran tidak bisa diperoleh begitu saja. Kesabaran dapat disamakan dengan kemenyan. Kemenyan baru mengeluarkan keharumannya tatkala ia ditaruh di dalam api. Semakin panas apinya, semakin harum aromanya. Sifat Yesus seperti ini. Ketika api penderitaan semakin besar, semakin harum pula aroma panjang sabar-Nya.

Korban-korban bakaran yang dipersembahkan kepada Tuhan tidak boleh mengandung madu (Imamat 2: 11). Mengapa? Karena setelah diteliti kemenyan itu bertahan di dalam api, sedangkan madu tidak.

 

Baca juga: Ketika Kesabaran Diuji dan Rasa Frustrasi Memuncak, Apa Solusinya?

 

Tatkala madu dipanaskan, sifat-sifat kimianya berubah dan menjadi rusak. Madu tidak tahan api, demikian juga kemanisan manusiawi. Manusia bisa saja berusaha menjadi dirinya sabar, bisa menahan diri, dan tabah, tetapi tatkala api penderitaan menjadi semakin panas, akan terjadi suatu kerusakan dalam zat-zat kimianya dan kemudian akan terjadi suatu letusan. Kita dapat mendidik diri untuk ramah dan bersikap terpelajar, tetapi semua ini adalah kemanisan alamiah dan itu tidak akan dapat menahan api penyiksaan atau kritik.

Kemampuan-kemampuan manusiawi tidak dapat menanggung panas api; berbeda dengan kemampuan-kemampuan ilahi. Ketika Nazi menyerbu Perancis di dalam Perang Dunia II, beberapa orang Kristen mencoba mempersiapkan diri untuk menghadapi penganiayaan dengan jalan menyiksa diri sendiri. Mereka berusaha untuk mengembangkan suatu tingkat daya tahan sakit yang tinggi agar mampu menanggung kekejaman Jerman. Namun justru mereka yang mempersiapkan diri dengan cara ini adalah orang-orang yang pertama menyerah. Sementara orang-orang Kristen yang bersandar pada kasih karunia (kemampuan ilahi) mampu bertahan melalui masa pendudukan Nazi.

Kesabaran dan kemampuan menahan diri yang palsu hanya dapat menanggung penderitaan sebatas daya tahan daging kita. Namun, kesabaran dan kemampuan menahan diri yang sejati, mampu melakukannya melebihi apa yang bisa dapat kita tanggung secara manusiawi.

 

Baca juga: Biar Sabar Hadapi Kelakuan Pasangan, Kuatkan Dirimu Dengan 4 Ayat Ini…

 

Sumber : Kekristenan sejati
Halaman :
1

Ikuti Kami