Bersatunya Dua Pemaaf yang Baik

Bersatunya Dua Pemaaf yang Baik

Lori Official Writer
      1255

Efesus 4: 31-32

Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.

 

 

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 104; Lukas 16; Yosua 19-20

Rut Bell Graham, istri penginjil legendaris Billy Graham, pernah bilang, “Pernikahan yang bahagia adalah bersatunya dua pemaaf yang baik.” Itu adalah kalimat yang paling bijaksana yang pernah diucapkan oleh Rut.

Dalam pernikahan, kamu akan mendapati kalau kamu mungkin lebih unggul dibandingkan pasanganmu. Tapi beberapa hal lain justru lebih baik dilakukan oleh pasanganmu. Misalnya, di rumah kami aku dan istri sama-sama sepaham dengan anggaran dan prioritas kami. Tapi sebagian besar urusan keuangan dan pembayaran tagihan menjadi urusanku.

Sementara dalam urusan pekerjaan rumah tangga, istriku jauh lebih unggul dalam hal mencuci pakaian dan aku lebih baik mencuci piring. Bagi pernikahan yang sehat inilah cara membangun hubungan yang sehat. 

Tapi ada satu hal yang suami istri harus miliki sepenuhnya, tidak setengah-setengah yaitu pengampunan. Pasangan suami istri harus sama-sama memiliki kerendahan hati untuk mau mengampuni.

Ayat renungan hari ini, dari Efesus 4: 31-32, melarang keras jika kita terlalu lama hidup dalam sikap-sikap buruk seperti kegeraman, kemarahan, pertikaian, fitnah dan kepahitan. Aku sendiri adalah orang Kristen muda, tapi tidak selalu mengikuti kehendak Tuhan. Aku mengalami masa-masa dimana aku kehilangan arah dari Tuhan. Tapi seperti Bapa dalam perumpamaan tentang Anak yang hilang, Tuhan menerimaku kembali dengan tangan terbuka.

Aku gak pernah luput dari kasih dan pengampunan-Nya. Sekalipun aku sudah melakukan banyak hal yang salah, tapi Tuhan tetap mengampuniku. Jadi bagaimana mungkin aku tidak mengampuni orang lain?

Kadang kala, aku dan istriku bertengkar. Ya, semua pasangan pasti mengalaminya bukan? Tapi, istriku tidak pernah membuatku semakin berdosa kepada Tuhan. Tuhan sendiri mengampuniku. Siapa aku yang harus berpikir kalau aku tidak pantas mengampuni istriku?

Di Matius 18, Yesus mengilustrasikan sebuah perumpamaan tentang hamba yang berhutang 10.000 talenta kepada tuannya. Tapi karena kasihan, sang tuan memutuskan untuk memutihkan utang-utangnya dan membebaskan dia dari jerat utang (Matius 18: 27). Tapi waktu hamba itu pulang, dia bertemu dengan hamba lain yang berutang 100 talenta kepadanya. Hamba itu pun membujuk supaya dia diberi kesempatan untuk membayar utangnya, tapi sang hamba yang dikasihi tuan itu menolaknya dan menjebloskan dia ke penjara.

Pendeta Tony Evans pernah bilang, “Pengampunan yang sejati adalah saat kamu membebaskan pasanganmu dari utang yang harus dia bayar. Pengampunan tidak bergantung pada bagaimana perasaanmu kepada pasanganmu. Ini adalah pilihan untuk tidak lagi menyalahkan pasanganmu atas kesalahannya.” 1 Korintus 13: 5 menegaskan hal ini dengan cara yang paling lugas yaitu kasih sejati ‘tidak menyimpan kesalahan’. 

Kasih sejati tentu saja tidak membenarkan dan mengabaikan kesalahan serta memaafkannya seolah tak ada yang salah. Sebaliknya, kasih sejati mengakui dan mencari solusi lalu mengampuni dan melepaskannya.

Hal terbaik yang bisa kita lakukan untuk diri kita sendiri, pasangan dan pernikahan kita saat berhadapan dengan konflik adalah menghadapinya dengan berani. Kita perlu berkomunikasi satu sama lain, lalu kembali saling mengasihi dan mengampuni sama seperti Kristus mengasihi dan mengampuni kita.

Aku melakukan banyak kesalahan. Aku suka berbohong dan membuat pilihan yang salah. Tapi aku kemudian bersyukur atas berkat dan belas kasihan Tuhan kepadaku. Setidaknya yang bisa aku lakukan adalah menawarkan berkat dan belas kasihan yang sama kepada orang lain, dimulai kepada orang-orang terdekat yaitu pasangan dan keluarga. 

Sementara saat kita menahan kepahitan dan pengampunan kepada orang lain, kita telah berdosa dan mempiutangi diri kita sendiri. Ibarat ungkapan ini, “Tidak mengampuni orang lain ibarat meminum racun dan berharap orang lain yang akan mati.”

 

 

Hak cipta Brent Rinehart, disadur dari Crosswalk.com

 


Kamu diberkati dengan renungan harian kami? Mari dukung kami untuk terus memberkati lebih banyak orang melalui konten-konten terbaik di website ini.

Yuk bergabung jadi mitra Jawaban.com hari ini

DAFTAR DI SINI

Ikuti Kami