Tamar, Rela Jadi Wanita Sundal Demi Menjadi Keturunan Sang Mesias

Tamar, Rela Jadi Wanita Sundal Demi Menjadi Keturunan Sang Mesias

Claudia Jessica Official Writer
1914

Tahukah kamu bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan Allah? Siapa sangka, bahwa raja-raja yang memerintah di Israel berasal dari keturunan Tamar, seorang wanita dari bangsa penyembah berhala.

Mengenai Tamar, tokoh ini tidak bisa dipisahkan dengan seorang tokoh Alkitab bernama Yehuda, mertua yang menjadi suaminya. Kok bisa ya? Mari kita bahas!


Jika kamu lebih suka menonton, kamu bisa simak kisah tama di: 

[VIDEO] #FaktaAlkirab: TAMAR, Tidur Dengan Mertua dan Raja-raja yang Memerintah di Israel


Latar belakang

Dalam Alkitab ada tiga nama Tamar yang menonjol, yakni Tamar wanita Kanaan, Tamar putri Daud, dan Tamar putri Absalom (Kejadian 38: 6, 1 Sam. 13: 1, dan 2 Sam. 14: 27). Kali ini, kita akan membahas sosok Tamar, menantu Yehuda yang dituliskan dalam Kitab Kejadian.

Tamar berasal dari Adulam, yakni salah satu wilayah di Kanaan yang menjadi bagian dari bangsa yang tidak mengenal Allah. Namanya pertama kali muncul dalam Kejadian 38: 6.

Terjemahan literal dari nama Tamar (תמר) adalah "pohon palem". Nama ini jarang digunakan dalam masyarakat tradisional Yahudi. Mungkin karena dua dari tiga tokoh dalam Alkitab yang menyandang nama itu digambarkan terlibat dalam perselingkuhan yang kontroversial.

Namun demikian, di antara nama-nama di Alkitab nama Tamar dihidupkan kembali dan secara aktif dipromosikan oleh para pionir gerakan nasionalis Yahudi internasional dan membuat nama ini menjadi nama umum di negara Israel.

Kontroversi Tamar dan Mertuanya

Dalam Kejadian 38, kisah Tamar tidak bisa dipisahkan dengan sosok Yehuda. Dalam cerita tersebut, Yehuda, putra keempat dari Yakub (Israel), telah meninggalkan ayah dan saudara laki-lakinya dan menikahi seorang wanita Kanaan bernama Shua. mereka pun memiliki tiga orang putra yakni, Er, Onan dan Syela.

Ketika putra tertua mereka, Er telah dewasa, Yehuda dan Shua lalu mencarikannya seorang istri. Ia adalah bernama Tamar. Namun, menurut Kitab Suci, Er jahat di mata Tuhan, dan Tuhan mengambil nyawanya, sehingga membuat Tamar menjadi janda (Kejadian 38: 7).

Karena Er mati sebelum memiliki anak laki-laki, maka Yehuda memberikan Onan, adik Er, untuk menikahi Tamar (janda dari Er), agar nanti didapatkan putera atas nama Er.

Pernikahan ini disebut Hukum Pernikahan Levirat, yang artinya "Apabila seorang mati dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, maka saudaranya harus mengambil janda dari kakaknya tersebut untuk menjadi isterinya dan dengan demikian melakukan kewajiban perkawinan ipar. Aturan ini menggantikan kedudukan suami yang meninggal jika tidak memiliki anak. Penggantinya adalah saudara laki-laki itu, dengan demikian anak sulung yang nanti dilahirkan perempuan itu haruslah dianggap sebagai anak saudara yang sudah mati, supaya nama itu jangan terhapus dari antara orang Israel,” demikian firman Tuhan dalam Ulangan 25:6.

Tanggung jawab “Pernikahan Levirat” kini di pegang oleh Onan. Meskipun Tamar sudah menjadi istrinya namun Onan menghindari tahapan penuh dari persetubuhan dengan menyia-nyiakan benihnya di tanah agar tidak memberikan keturunan kepada saudaranya. Itu adalah tindakan keji yang tidak menyenangkan Tuhan, dan karenanya Tuhan juga mengambil nyawa Onan (Kejadian 38: 10).


Baca juga: Rahab, Seorang Pelacur yang Menjadi Penyelamat Iman


Di lain pihak, Yehuda menimpakan kesalahan kepada Tamar atas kematian kedua anaknya dengan mengusir Tamar untuk kembali ke rumah ayahnya sendiri (Kej. 38: 11). Disatu sisi kepergian Tamar ke rumah orangtuanya memiliki maksud tersendiri bagi Yehuda dimana ia sebenarnya tidak berniat melanjutkan “Pernikahan Levirat” dengan menikahkan anak bungsunya Syela dengan Tamar.

Memang ketika itu Syela masih kecil. Yehuda sebenarnya hanya menipu saja, sebab dia khawatir bahwa Syela juga akan mati gara-gara Tamar. Hal ini merupakan pengabaian yang tidak dapat dimaafkan atas tugas kebapaan dan ketidakadilan kepada Tamar.

Kemudian istri Yehuda meninggal dan Yehuda menjadi duda. Selang beberapa waktu, Syela putera bungsunya sudah beranjak besar. Namun Yehuda tidak memenuhi janjinya untuk memberikan kepada Tamar agar dia dapat melahirkan seorang keturunan dari rahimnya.

Suatu saat Yehuda hendak ke Timna untuk mencukur dombanya. Mendengar hal ini, Tamar berniat melakukan penipuan terhadap Ayah mertuanya dengan tujuan memiliki keturunan. Tamar lalu menyamar sebagai pelacur dan segera pergi ke Timna di mana Yehuda juga sedang dalam perjalanan kesana.

Benar saja, Yehuda melihat Tamar sedang menutupi mukanya yang disangkanya sebagai wanita sundal. Yehuda lalu mengajak Tamar untuk tidur dengannya tanpa disadari bahwa wanita tersebut adalah menantunya sendiri.

Tamar dengan tipu muslihatnya tidak serta merta mengiyakan ajakan Yehuda, ia ingin memiliki jaminan dari tindakan yang Yehuda inginkan darinya. Yehuda lalu memberikan “tanggungan” seperti cap meterai, kalung dan tongkat miliknya (Kej. 38: 18).

Pada zaman itu cap meterai, kalung dan tongkat adalah milik yang paling pribadi dan menjadi tanda pengenal. Biasanya meterai yang ada terbuat dari batu, kadang-kadang dari gading, dan kebanyakan berbentuk silinder. Meterai ini berguna seperti "tanda-tangan" pribadi, yang dikalungkan pada leher pemiliknya. Persetubuhan antara mertua dan menantu akhirnya terjadi. Setelah itu Tamar pergi meninggalkan Yehuda.

Selang beberapa waktu kemudian Yehuda melalui temannya mengirimkan anak kambing untuk menebus barang gadaiannya, tetapi perempuan yang disangkanya pelacur itu tidak bisa ditemukan. Yehuda pun merelakan cap meterai dan kalungnya yang hilang, dan melarang temannya untuk mencari-carinya lagi dengan alasan agar perbuatan buruknya tidak diketahui orang lain.

Tiga bulan kemudian Tamar hamil dan ketika diketahui orang banyak bahwa Tamar telah mengandung hasil perzinahan, maka Yehuda murka dengan memprovokasi orang-orang agar Tamar dibakar. Namun Tamar membela diri dengan menunjukan cap meterai, kalung dan tongkat tongkat ke Yehuda dengan pesan yang menyatakan bahwa pemilik barang-barang ini adalah pria yang tidur dengannya dan yang membuatnya hamil.

Yehuda sangat malu ketika diperlihatkan barang-barang tersebut yang adalah barang miliknya dan dia sendirilah pezinanya. Yehuda pun disadarkan oleh hati nuraninya, dan mengakui anak dalam kandungan Tamar adalah benihnya sendiri. Tamar lalu melahirkan dua anak kembar dan diberi nama Peres dan Zerah.


Baca juga: #FaktaAlkitab: Delila, Wanita Pujaan Simson yang Menggairahkan dan Berbahaya


Pro dan Kontra Tindakan Tamar

Perbuatan Tamar yang berdosa diampuni, dan niatnya yang baik diterima. Akan tetapi hal ini sama sekali tidak boleh digunakan untuk membenarkan atau mendorong perbuatan serupa. Dalam kisah ini ada muslihat dan rancangan dalam dosa Tamar.

- Yang pertama, Tamar mengambil kesempatan untuk berbuat dosa ketika Yehuda sedang bergembira dan berpesta dengan orang-orang yang menggunting bulu-bulu dombanya. Perhatikanlah, “waktu untuk bergembira” sering kali menjadi waktu godaan, khususnya godaan terhadap dosa kecemaran. Apabila orang sudah kenyang, tali kekang cenderung longgar.

 

- Yang kedua, Tamar menunjukkan dirinya sebagai perempuan sundal dengan menutupi wajahnya (Kej. 38: 15). Tampaknya sudah menjadi kebiasaan para perempuan sundal pada masa itu untuk menutupi muka mereka. Tamar dengan fasik melacurkan diri sebagai perempuan sundal kepada Yehuda, supaya jika bukan dengan anaknya, maka ayahnya bisa membangkitkan keturunan bagi anaknya yang sudah meninggal.

Disisi lain sebagian kalangan memaafkan perbuatan yang dilakukan Tamar dengan pandangan bahwa walaupun Tamar seorang Kanaan, namun ia sudah percaya kepada Allah yang benar, dan percaya pada janji Allah pada Abraham dan keturunannya. Khususnya janji tentang Mesias, yang akan diturunkan dari keturunan Yehuda.

Oleh karena itu ia dengan begitu sungguh-sungguh ingin mempunyai anak dari salah seorang anggota keluarga Yehuda, supaya ia bisa mendapat kehormatan, atau setidak-tidaknya mempunyai kesempatan baik untuk mendapat kehormatan menjadi ibu Mesias. Dan, jika memang ini yang diinginkannya, maka keinginannya itu tercapai.

Selain itu ada juga dugaan bahwa Tamar tidak menggoda Yehuda; namun Yehudalah yang membawanya. Tindakan Yehuda dimotivasi oleh nafsu jasmani yang tidak sah, sementara motivasi Tamar adalah mulia. Ia memikirkan keberlangsungan keturunan Israel. Dari sudut pandangnya, ia semata-mata melakukan apa yang ia anggap sebagai kewajibannya.

Satu dari lima wanita yang disebut dalam silsilah Yesus

Kata yang paling luar biasa tentang Tamar dalam Alkitab terdapat dalam Matius 1. Namanya muncul dalam garis silsilah Yesus Kristus. Silsilah memang bahasan penting bagi masyarakat Timur Tengah, khususnya umat Israel. Ada sembilan pasal di awal Kitab Tawarikh yang panjang lebar dengan nama-nama pohon keluarga, barulah penulis menceritakan kronik raja-raja Israel.

Penulis Injil Matius nampaknya memakai pola yang sama, untuk menjelaskan kesahihan klaim keturunan Daud dari Yesus, untuk kemudian bercerita tentang karya keselamatan menggenapi janji Allah bagi Abraham dan keturunannya.

Bila umumnya silsilah Israel amat partiarkhis, hanya mencantumkan nama laki-laki, namun penulis Matius sengaja menyisipkan lima tokoh perempuan di dalamnya, yakni Tamar, Rahab, Rut, Istri Uria (Batsyeba) dan Maria.

Lebih jauh lagi yang diangkat bukanlah tokoh perempuan yang dianggap sebagai ibu oleh umat Israel semacam Hawa, Sara, Lea atau Rahel, tapi kebanyakan perempuan asing dan nampaknya punya ‘cela’. Salah satunya ialah Tamar. Melalui hubungan Tamar dengan Yehuda maka lahirlah Peres yang kemudian terdaftar dalam silsilah kelahiran Yesus (Mat. 1: 3).

Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Kisah Tamar?

Kisah Tamar menjadi salah satu kisah yang penuh dengan kontroversi yang dituliskan dalam Alkitab. Seperti Ruth, Tamar bukanlah salah satu dari umat pilihan Tuhan. Namun, dia adalah satu dari lima wanita yang disebutkan dalam silsilah Yesus. Dia bukan hanya seorang non-Yahudi tetapi seorang wanita.

Hal ini membuktikan bahwa, bukan dari mana kita berasal, apa yang menjadi latar belakang kita atau bagaimana masa lalu kita. Tetapi ketika kita mau percaya kepada Allah yang benar maka Tuhan dapat membuat hidup kita berharga, karena Tuhan menciptakan kita bukan tanpa tujuan tetapi semua rancanganNya akan maksimal ketika kita mau percaya kepada Sang Juruselamat itu yaitu Yesus.

Dia menjanjikan keselamatan bagi setiap kita yang percaya dan penyertaanNya selalu sempurna atas hidup kita.

 


Jangan biarkan artikel ini berhenti di kamu terasa diberkati! Bagikan juga kepada teman-temanmu agar dapat memberkati mereka dengan pengetahuan baru! Selain itu, kamu juga bisa menjadi berkat bersama kami dengan mendukung jawaban.com untuk terus memproduksi konten-konten baru setiap harinya.

Kamu bisa menjadi mitra CBN dengan melakukan donasi sebesar 50 ribu dalam sekali pemberian atau setiap bulan. Kabar baik bagi kamu kamu yang berdonasi sebesar 250 ribu setiap bulan, akan mendapatkan bonus berupa kaos polo, atau mug selama persediaan masih ada. Selain itu, jika kamu sudah berdonasi selama 3 bulan berturut-turut, kamu bisa mengikuti webinar-webinar lain yang akan diadakan oleh CBN. Jika kamu tergerak untuk bergabung, DAFTARKAN DIRIMU DI SINI.

Sumber : jawaban.com
Halaman :
Tampilkan per Halaman

Ikuti Kami