Mantan Pendeta Ini Bikin Pusing Tokoh Agama Sampai DPR, Ada Apa Dengan Yahya Waloni?

Mantan Pendeta Ini Bikin Pusing Tokoh Agama Sampai DPR, Ada Apa Dengan Yahya Waloni?

Lori Official Writer
436

Mantan pendeta yang kini beralih menjadi penceramah, Yahya Waloni jadi bahan perbincangan hangat minggu ini. Pasalnya, ceramah yang kerap dibawakannya mengundang kontroversial dari kalangan agama dan juga pemerintah.  

Seperti diketahui, ceramah yang dibagikan Yahya biasanya mengangkat soal kejelekan agama Kristen, agama yang dianut sebelumnya. Dia bahkan tidak segan-segan melontarkan kata-kata kasar dan sumpah serapah kepada tokoh-tokoh negara yang dihormati.

Akibat dari tindakannya, Komisi VII DPR bidang keagamaan mendesak organisasi Islam memberikan pembinaan kepada para mualaf penceramah seperti Yahya Waloni.

“(Ceramah Ustadz Yahya) Ini harus juga menjadi peringatan kepada seluruh ormas Islam, baik itu NU, Muhammadiyah, Persis dan juga MUI untuk memberikan pembinaan kepada para mualaf itu. Sehingga tidak terjadi orang yang berbicara atas nama Islam tetapi sebenarnya jauh dari nilai-nilai Islam,” ucap Anggota Komisi VIII Maman Imanulhaq pada Rabu (17/2).

Maman sangat menyayangkan jika ceramah yang dibawakan Yahya justru mengandung ujaran kebencian dan dilakukan secara membabi buta. Karena itu, pembinaan bisa membuat pandangan agama penceramah lebih dalam.

Ketua Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI ) Pendeta Dr. Albertus Patty juga turut berkomentar. Dia menilai jika mantan pendeta Yahya Waloni mungkin punya masalah psikologis dan luka batin. Karena seseorang yang memiliki luka batin biasanya suka mencari-cari kejelekan orang lain.

“Yang pasti, dia punya persoalan secara psikologis dengan dirinya sendiri. Mungkin karena pernah ditolak. Orang seperti itu cua mencari-cari kesalahan orang lain atau mencari kesalahan tempat lain. Kan punya persoalan. Ada luka batin kan dalam dirinya yah,” ungkap Pendeta Albertus. 

Banyak orang Kristen mungkin ingin tahu latar belakang Yahya WalonI dan menurut informasi yang ada, pria berdarah Manado ini dikenal dengan julukannya sebagai Ustad Pansos (Panjat Sosial) oleh Denny Siregar. Dia menuding Yahya gemar mengangkat isu kontroversial sebagai jualan demi mendapatkan pamor di kalangan Muslim.

 

Baca Juga: Ketua Gerakan Ekayastra Unmada Tak Terima Disamakan dengan Mantan Pendeta Yahya Waloni

 

Sebelum menjadi mualaf, dia adalah seorang pendeta sekaligus Ketua dan Rektor di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Calvinis Ebenhaezer di Sorong tahun 1997-2004.  

Dia lalu pindah ke Balikpapan dan menetap di sana hingga tahun 2006.  Setelah itu pindah ke Kota Cengkeh, Tolitoli dan di sanalah dia pindah keyakinan.

Pemerintah menjain kebebasan beragama etiap warga negaranya. Tapi bukan berarti kebebasan tersebut bisa dipakai untuk menciptakan iklim perpecahan antarumat beragama. Khususnya bagi para pemimpin agama, sudah seharusnya seorang pemimpin mengajarkan teladan kebaikan kepada umat yang dipimpinnya, bukan malah menebar kebencian berkedok agama.

Sumber : Berbagai Sumber
Halaman :
1

Ikuti Kami