Lumba-Lumba Pemberi Tanda Gempa

Lumba-Lumba Pemberi Tanda Gempa

Lestari99 Official Writer
16204

Sebelum gempa berkekuatan 7,4 SR mengguncang, Sulawei Utara, Kabupaten Talaud pada  bulan Februari tahun 2009  lalu, 250 lumba-lumba memberikan tanda terjadinya gempa. Sekitar 12 jam sebelum gempa besar yang terjadi pukul 00.35, sebanyak 250 lumba-lumba itu sudah bermigrasi bersama dari Talaud ke sekitar daratan Filipina di utara Pulau Sulawesi.

Ade Edward dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia mengatakan, peristiwa migrasi ini dirilis sejumlah televisi. Sebelumnya, para ahli juga pernah menduga bahwa lumba-lumba bisa menjadi salah satu sistem peringatan dini yang alami.

Uniknya, dua hari sebelumnya sedikitnya 100 lumba-lumba terdampar di perairan yang dangkal di dekat Manila, di Filipina, setelah mereka berenang ke tepian. Pihak berwenang setempat mengatakan lumba-lumba ini tenang dan bergerak perlahan-lahan, dipandu oleh nelayan setempat yang menggunakan perahu.

Mereka berusaha membuat lumba-lumba bertahan hidup, dan para ahli telah dikerahkan ke daerah tersebut untuk membantu. Tiga ikan lumba-lumba sejauh ini tewas. Lumba-lumba yang terdampar ke tepian bukanlah hal yang aneh di kepulauan Filipina, namun jarang sekali dalam jumlah sebesar ini.


Baca juga:

Bencana Datang Bertubi-tubi, Dimanakah Tuhan?

#PrayForSulbar : Gempa 6,2 SR Guncang Sulbar, Ada Korban Tertimbun Bangunan


Warga juga melihat sejumlah besar lumba-lumba di dekat kota Pilar dan Abucay di semenanjung Bataan, di sebelah Barat Manila.

Kehilangan arah

Awalnya mereka tidak dapat mengerti mengapa fenomena seperti ini dapat terjadi. "Inilah fenomena yang aneh," kata Direktur Sumber Daya Perikanan dan Hasil Laut, Malcolm Sarmiento kepada radio setempat, menambahkan bahwa mungkin ada 200 lumba-lumba yang terdaftar.

Dia mengatakan mereka mungkin bereaksi karena "gelombang panas atau adanya gangguan lain di laut" seperti gempa bumi besar di bawah permukaan laut. Dan teori terbukti benar. Karena dua hari kemudian gempa berkekuatan 7,4 skala Richter melanda Kabupaten Talaud, Provinsi Sulawesi Utara.

"Bila gendang telinga binatang itu rusak, mereka akan kehilangan arah, dan kemudian muncul ke permukaan." katanya.

Dia mengatakan kawanan lumba-lumba dalam jumlah lebih kecil, sekitar 10 sampai 20 ekor, terdampar di kawasan Filipina lainnya di masa lalu, namun ini adalah untuk pertama kalinya terdampar dalam jumlah besar dan di tempat yang sama.

"Fakta ini perlu ditelusuri secara ilmiah. Hal ini tentu sangat menggembirakan bagi masyarakat di daerah rawan gempa-tsunami," kata Ade yang mengaku telah mendiskusikan fenomena ini dengan sejumlah ahli.

Dia berharap, pemerintah daerah di Provinsi Sumatera Barat menyikapi fakta ini dengan menambah alat pemantau di laut yang bisa menangkap pergerakan lumba-lumba. Daerah yang terutama membutuhkan peringatan dini adalah daerah di sepanjang pantai barat Sumatera serta di Mentawai.

Sumber : Berbagai sumber / LEP
Halaman :
1

Ikuti Kami