2021 Berlin Mulai Pembangunan The House Of One, Satu Rumah Ibadah Untuk Tiga Agama

2021 Berlin Mulai Pembangunan The House Of One, Satu Rumah Ibadah Untuk Tiga Agama

Puji Astuti Official Writer
556

Sebuah bangunan yang diberi nama “The House of One” akan dibangun di Berlin, di sebuah tempat yang dulunya adalah bekas gereja namun diruntuhkan oleh pemerintah komunis Jerman Timur. Bangunan yang juga disebut sebagai “churmosquagoge” itu akan menjadi gereja, masjid dan sinagoga dibawah satu atap. 

Peletakan batu pertamanya, menurut rilis The Guardian akan dilakukan pada 27 Mei nanti, setelah dirancang selama 10 tahun lamanya dan akan menjadi awal pembangunan yang diperkirakan akan berlangsung selama 4 tahun. 

Gedung ini akan menjadi simbol dialog dan kerjasama lintas agama. Arsitek bangunan ini adalah Kuehn Malvezzi yang berasal dari Berlin, dan pembangunannya diperkirakan akan memakan biaya sebesar 47 juta Euro. 

Akan ada tiga tempat ibadah di ruang berbeda, yang akan dihubungkan dibagian tengah sebagai ruang pertemuan. Tempat dimana orang-orang lintas agama dan bahkan mereka yang tidak percaya agama dapat bertemu dan berdiskusi. 

“Idenya sangat sederhana,” ungkap Roland Stolte, seorang teolog Kristen yang membantu memulai proyek ini. 

“Kami ingin membangun rumah doa dan belajar, dimana tiga agama bisa berdampingan sementara tetap mempertahankan identitas masing-masing.”

Andreas Nachama, seorang rabi yang mewujudkan visi tersebut bekerja sama dengan seorang pendeta dan imam mengungkapkan, “Ada banyak jalan berbeda menuju Tuhan, dan masing-masing adalah jalan yang baik.”

Andreas mengungkapkan dengan adanya tempat ini setiap agama akan beribadah di tempat yang berbeda, namun bisa saling mengunjungi untuk merayakan hari-hari besar satu sama lain. 

“Ini bukan hanya simbol. Ini adalah awal era baru dimana kami menunjukkan bahwa tidak ada kebencian diantara kita,” tambahnya. 

Bangunan ‘The House Of One” ini akan dibangun di bekas lokasi Gereja St.Peter di Petriplatz yang hancur di masa Perang Dunia ke II, dan diratakan dengan tanah pada tahun 1964 oleh pemerintah GDR. 

Sewaktu pondasi gereja ini ditemukan kembali satu dekade lalu, dipertimbangkan untuk membuat tugu peringatan di sana. 

“Tapi kami ingin menciptakan jenis bangunan suci baru yang mencerminkan Berlin masa kini,” demikian ungkap Roland. 

Ia juga menegaskan bahwa ini bukan hanya tempat bagi agama monoteistik, namun bagi semua orang. 

Upaya membangun harmoni lintas agama ini didukung oleh pemerintah Berlin, ditunjukkan dengan dukungan dana senilai 30 juta Euro. Sisanya 9 juta Euro adalah sumbangan dan hasil penggalangan dana, dan masih ada kekurangan 8 juta Euro yang masih dilakukan penggalangan dana yang diharapkan dapat tercapai hingga Desember 2021 ini. 

Membangun komunikasi dan silaturahmi adalah salah satu cara efektif dalam membangun toleransi. Apa yang dilakukan di Berlin patut diacungi jempol, semoga harapan untuk mengembangkan toleransi antar umat beragama dan bahkan dengan mereka yang ateis dapat terwujud dengan kehadiran bangunan ini. 


BACA JUGA : 
Gereja Konstanz Jadi Saksi Kehidupan Ari Wibowo Mulai dari Keyakinan Hingga Anak Pertama

Menilik Ikatan Sejarah Yerusalem dan Tiga Agamanya

Hidup Rukun Antarumat Beragama, Negara Ini Patut Dicontoh


 

Sumber : The Guardian
Halaman :
1

Ikuti Kami