Mengampuni Itu Harus Dimulai Dari Diri Sendiri – Josephine

Mengampuni Itu Harus Dimulai Dari Diri Sendiri – Josephine

Claudia Jessica Official Writer
487

Teman adalah salah satu berkat yang Tuhan berikan pada kita untuk mejalani kehidupan. Bersama teman, kita bisa membagikan kebahagiaan maupun kesedihan yang kita rasakan kepada orang yang kita percayai. Namun, konflik antara teman juga bisa saja terjadi. Mulai dari konflik hingga konflik besar yang berujung pada perpisahan. Inilah yang dialami Josephine dan temannya.

Kepercayaan adalah kunci pertemanan yang Josephine percayai. Menurutnya, kepercayaan mirip dengan kertas. Jika kertas telah rusak, ia tidak akan pernah bisa kembali sempurna. Sekali kepercayaan telah rusak, maka tidak akan pernah bisa kembali lagi sekeras apapun kita berusaha untuk memperbaikinya.

Awal pertengkaran yang dialami Josephine dimulai ketika ia dan temannya smerasa bahwa semua baik-baik saja dan tidak ada yang salah dengan hubungan mereka. Namun siapa sangka bahwa Josephine mulai kehilangan kepercayaannya ketika temannya bercerita tentang hal buruk mengenai seseorang yang akan pindah ke sekolah mereka.

Berdasarkan cerita Josephine kepada tim superyouth, temannya dan anak baru di sekolah mereka adalah teman lama. Siapa sangka bahwa kebenaran kisah yang diceritakan temannya ternyata tidaklah sesuai. Inilah awal kepercayaan Josephine mulai rusak.

Hari demi hari, masalah yang mereka hadapi semakin bertumpuk dan tidak ada satu pun maslaah yang mereka selesaikan. Mereka menyangkal bahwa hubungan mereka saat ini sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Seperti bom waktu, masalah yang mereka hadapi kian menggunung dan membuat Josephine akhirnya meledak hingga menyebabkan jarak diantara keduanya.

Tidak ada perkataan maaf dari mereka setelah pertengkaran yang mereka alami. Hubungan mereka juga menjadi semakin renggang.

Hingga suatu hari ketika Josephine mengikuti sebuah chapel, pembicaranya mengingatkan mengenai suatu hal:

“Pernahkah kamu memiliki suatu konflik dengan seorang relasimu, kemudian kamu datang lebih dulu untuk meminta maaf?”

Hal pertama yang diingat Josephine setelah mendengar hal ini adalah temannya.

Josephine menyadari bahwa memaafkan harus dimulai dari menyadari kesalahan, memaafkan diri sendiri, dan diri sendiri adalah orang pertama yang harus meminta maaf.


Baca juga: Tuhan Yesus Itu Berharga Banget Buat Aku - Tiara


Terlepas dari apa yang telah dilakukan temannya, Josephine memilih untuk mengampuninya. Josephine memiliki nilai tentang memaafkan verisnya sendiri bahwa, “Aku sudah lebih dimaafkan. Siapakah aku bisa sesombong itu untuk tidak memaafkan orang lain yang bersalah?”

Menurut Josephine, dasar dari memaafkan ialah kasih. “Aku merasa aku disupply (diberikan kasih) dan supplynya never ending (tidak pernah berakhir). Its forever (itu selamanya).”

Inilah yang mebuat Josephine merasa bahwa dirinya harus membagikan kasih kepada orang lain.

Love and forgiveness. By the end of the day it’s a grace (Kasih dan pengampunan adalah anugerah).”

Matius 6: 12 berkata “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”

Bagi Josephine, ayat ini menunjukkan betapa tidak berdayanya manusia untuk mengampuni jikalau tidak diberikan pengampunan dan kemampuan untuk mengampuni terlebih dulu oleh Tuhan. Bahkan pribadi yang paling sempurna, yaitu Tuhan tidak gengsi untuk mengampuni manusia.

Dari konflik yang dialaminya, Josephine belajar untuk meredam ego ketika mengalami masalah serta belajar untuk mau menjadi pendengar terlebih dahulu sebelum berbicara. Menurut Jospehine apabila semua orang lebih banyak mendengar maka, perdebatan sepele yang tidak penting harusnya tidak merusak hubungan.

Sumber : superyouth.id | jawaban.com

Ikuti Kami