Jadi Seperti Anak Kecil, Bahagia Karena Hal-hal Kecil

Jadi Seperti Anak Kecil, Bahagia Karena Hal-hal Kecil

Claudia Jessica Official Writer
      1135

Matius 19:4

Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."

Bacaan Alkitab Setahun Mazmur 63; Markus 13; Hosea 6-7

Dua orang cucuku mendekatiku dan cucuku laki-laki yang bernama Deacon bertanya, “Mau ikut memancing, Nek?” 

Aku sedang duduk di beranda, membaca buku sambil menikmati secangkir kopi dan menikmati pagi ditengah keheningan dan segarnya udara pagi. Dia bangun sangat pagi. 

Aku bukanlah penggemar memancing, namun aku adalah penggemar cucu-cucuku. Jadi aku letakkan bukuku, dan mengikuti Deacon dan adik perempuannya, Eden pergi ke dermaga dimana ayah mereka sedang memasang umpan dan membariskan pancingannya. Aku duduk disamping putriku memperhatikan aktivitas mereka. Keluarganya sedang berlibur ke daerah Pegunungan North Georgia yang dekat rumahku dan mereka mengajakku bergabung. 

Tidak lama kemudian terdengar suara riuh yang menandakan pancing seseorang berhasil mendapatkan ikan. Yang mengejutkan, Eden yang biasanya lebih pendiam dari kakaknya begitu gembira dan riuh. Dia menjadi saingan kakaknya mengungkapkan kegembiraan karena ternyata pancing yang ia pegang mendapatkan ikan. 

Itu tangkapan pertamanya! Ikan hidup bergeliat di ujung benang pancingnya. Saat aku melihat wajah Eden aku melihat kebahagian dan juga tepuk tangan sukacita. Aku kembali diingatkan kepada musim panas masa kecilku, dimana setiap hari ada saja hal baru dan menakjubkan untuk dilakukan. 

Dan aku bertanya : “Kapan ya kita mulai berhenti melihat setiap hari dengan sebuah penantian dan harapan akan sesuatu yang menggembirakan dan membahagiakan? Mungkin dimulai saat mulai ada tekanan dari pergaulan di masa remaja yang mengubah kita. Atau kita menyembunyikan emosi kita karena jika kita bersikap penuh gairah dan sukacita seperti anak-anak itu kita dipandang rendah dan naif. Bisa juga kita mengijinkan kekecewaan dan masalah yang kita temui merampok sukacita dan kegembiraan itu. 

Ketika kita mengijinkan kebosanan dan sikap sinis menjadi watak yang selalu kita tunjukkan, maka kita tidak akan mengalami hidup berkelimpahan yang Tuhan inginkan untuk kita nikmati. Mari kita coba renungkan perkataan Yesus ini: 

"Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga."

Yesus ingin anak-anak-Nya, baik muda ataupun tua, untuk menikmati hidup. Jadi saat kita bersukacita kita sedang menjadi saksinya dan kehidupan berkelimpahan yang Ia berikan kepada kita (Yohanes 10:10).

Sukacita adalah respon atas anugerah Tuhan dan tentang siapa kita di dalam Dia. Tidak sulit untuk mencari alasan untuk bersukacita dan mengekspresikannya: 

  • Pertama kita mulai dengan mengingat bahwa setiap hari baru yang kita nikmati berasal dari Tuhan. 

  • Kita bersyukur atas kasih karunia Tuhan ini

  • Kita membuka mata dan melihat bukti dari kasih Tuhan ada di sekeliling kita. 

  • Dan seperti anak-anak, kita merayakannya. 

Biarlah orang yang takut akan TUHAN berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" (Mazmur 118:4)

Terima kasih Tuhan, untuk hari baru yang sudah Kau buat ini. Buat mata dan hatiku seperti anak-anak kecil itu. Buat aku melihat bahwa ada banyak alasan bagiku untuk bersyukur dan bersukacita. Dan ingatkan aku untuk tidak menyembunyikan sukacitaku karena, dengan aku membagikan sukacitaku, aku telah menjadi saksi bagi-Mu. Amin.

Hal apa yang akan Anda rayakan hari ini? Yuk kita buat daftar ungkapan syukur. (Candyce Carden)

Diterjemahkan dari CBN.com.

Ikuti Kami