#KataAlkitab: Aturan Aborsi Di Alkitab

#KataAlkitab: Aturan Aborsi Di Alkitab

Claudia Jessica Official Writer
197

WHO mencatat Setiap tahun, hampir setengah dari semua kehamilan, yaitu sebanyak 121 juta tidak diinginkan, dan enam dari sepuluh kehamilan yang tidak diinginkan berakhir dengan aborsi yang disengaja.

Perdebatan terkait isu moral, etika, dan hukum dalam hal aborsi belum berhenti hingga kini. Mereka yang menentang aborsi umumnya bersikukuh bahwa embrio ataupun janin adalah juga wujud manusia yang memiliki hak untuk hidup.

Oleh karena itu, mereka mensejajarkan aborsi dengan pembunuhan. Sebaliknya kaum pro aborsi berpendapat bahwa seorang wanita juga memiliki hak untuk mengambil keputusan atas tubuhnya sendiri.

Alkitab menunjukkan bahwa janin adalah sepenuhnya manusia. Tuhan sebagai pencipta dan pemelihara kehidupan menunjukkan perhatian-Nya pada hal itu.

Tuhan terlibat dan memiliki peran besar bahkan ketikaa manusia masih berwujud janin dalam kandungan seorang wanita. Tuhan merancang dengan detil bakal manusia saat di dalam rahim ibu. (Mazmur 139: 13-16)

Nabi Yeremia juga pernah diingatkan Tuhan berkait hal itu saat Tuhan memanggilnya sebagai Nabi. Tuhan mengingatkan bahwa Dia sudah membentuk dan mengenal Yeremia sebelum Sang Nabi hadir dalam rahim ibunya.


Baca juga: #KataAlkitab - Pasangan Berzinah, Boleh Bercerai? Surat Cerai Pertama Bangsa Israel


Yeremia 1:5 mengatakan "Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa."

Apa yang tercatat dalam Alkitab jelas sesuai dengan Firman Allah yang meyakinkan kita bahwa janin adalah bakal kehidupan yang harus dijaga meskipun belum berwujud manusia sempurna.

Oleh karena itu tindakan aborsi bisa menjadi perilaku yang menghancurkan rancangan Tuhan. Aborsi bisa menjadi tindak pembunuhan yang melanggar salah satu dari sepuluh perintah Tuhan. (Keluaran 20: 1-13)

Tindakan aborsi juga tidak hanya sebuah penghilangan janin, tetapi juga menghambat lahirnya sebuah generasi baru. Karena dengan memilih janin hidup, kita sedang memberi jalan bagi keberlangsungan kehidupan sebuah generasi. (Ulangan 30:19)

Tuhan sangat melindungi sosok yang paling tak berdaya, yaitu, bayi yang belum lahir. Oleh karena itu, Tuhan memberi perhatian khusus pada wanita hamil dan kandungannya.

Keluaran 21:22-23 memuat hukuman bagi orang yang mencelakai wanita hamil tanpa sengaja. Hakim akan menghukum pelaku sesuai keadaan korban. Jika terjadi keguguran maka tersangka dikenai denda, tetapi jika korban meninggal dunia, baik wanita hamil atau bayinya, maka tersangka dikenai hukuman mati.

Hukum ini menunjukkan bahwa calon anak yang belum lahir dipandang sebagai manusia; kematiannya pun dianggap pembunuhan.

Keputusan melakukan tindakan aborsi sekadang dilakukan seseorang karena alasan-alasan khusus di luar masalah kesehatan. Mereka biasanya adalah orang-orang yang mengalami kehamilan tanpa dikehendaki. Mereka menganggap anak yang dikandung adalah aib. Ada kekhawatiran anak-anak yang lahir kelak menanggung penderitaan sebagai hukuman atas dosa orang tua kandungnya.

Alkitab mengatakan dengan tegas bahwa setiap orang bertanggung jawab atas dosa mereka. Sehingga seorang anak tidak akan dihukum kareena kesalahan orang tuanya. (Ulangan 24:16)

Namun, Tuhan sangat mengecam pada mereka yang merusak ciptaan-Nya dengan semena-mena. Pelaku aborsi bisa dianggap menentang Tuhan.


Baca juga: Setelah Melakukan 1.200 Aborsi, Dokter Ini Mengalami Peristiwa Yang Mengubah Hatinya!


Yesaya menuliskan kemarahan Tuhan pada manusia yang melakukan perbantahan dengan penciptanya. Keadaan itu diibaratkan hubungan tukang periuk dan tanah liat yang memamanas. Tanah liat sebagai bahan untuk membuat berbagai barang tembikar memberontak pada penciptanya, yaitu si tukang periuk. (Yesaya 45:9-11)

Lalu apakah aborsi sesuatu yang tabu atau salah satu pelanggaran hukum Tuhan?

Dunia medis mengenal aborsi sebagai bagian dari tindakan medis yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi. Undang-undang negara pun tidak mengijinkan Aborsi kecuali dengan alasan kedaruratan medis yang menyangkut nyawa ibu dan bayi.

Ingatkah JCers peristiwa pembantaian massal bayi laki-laki di bawah dua tahun di Betlehem dan sekitarnya (Matius 2: 16-18). Catatan Kejadian tragis itu bukan hanya menunjukkan betapa Herodes berupaya mengamankan kekuasaan dari munculnya Raja Baru.

Sikap dan perilaku Raja Herodes adalah gambaran bahwa manusia tega membunuh bayi karena paranoid, egois dan mementingkan diri sendiri. Sikap dan perilaku semacam itu juga ada pada sebagian pelaku tindakan aborsi.

Ada kehidupan dalam rahim wanita mengandung adalah sebuah kenyataan.

Ketika Maria, ibu Yesus, memberi salam pada Elisabet, maka anak berusia enam bulan di rahimnya melonjak gembira. Anak yang kelak bernama Yohanes Pembaptis itu merespon salam Maria dari dalam kandungan ibunya. (Lukas 1:41)

Jadi, bolehkah orang Kristen melakukan aborsi? Banyak langkah jika itu harus dilakukan. Kesalahan melangkah membuat dampak di kemudian hari. 

Aborsi yang dilakukan terutama di luar masalah medis, dapat menimbulkan kerugian fisiologis, finansial, dan emosional jangka panjang bagi pelaku dan keluarga, serta bagi komunitas pada umumnya.

Jika saat ini JCers sedang bergumul dengan masalah aborsi, baik sedang berencana melakukan atau mungkin JCers sudah pernah melakukannya, maka JCers bisa menemukan tempat untuk berbicara jika JCers membutuhkan.

JCers bisa hubungi konseling centre, SAHABAT24 sekarang juga. Tidak saja jadi sahabat curhat, tapi juga berdoa buat kamu. Kami siap untuk melayani 24 jam. Hubungi SAHABAT24 di nomor 0822-1500-2424 atau klik https://bit.ly/InginSharing

Sumber : jawaban.com

Ikuti Kami