Riset Nyatakan Persekusi Meningkat di Dunia, 8 Orang Kristen Martir Perharinya

Riset Nyatakan Persekusi Meningkat di Dunia, 8 Orang Kristen Martir Perharinya

Puji Astuti Official Writer
305

Riset menyatakan bahwa persekusi terhadap kelompok religius meningkat di berbagai belahan dunia, dan di kalangan Kristen sendiri World Evangelical Alliance (WEA) menyatakan bahwa ada 8 orang Kristen mati martir karena imannya setiap hari.

Umat Kristen di berbagai negara dalam dua minggu pertama di bulan November ini mengadakan doa untuk gereja-gereja yang mengalami persekusi di berbagai negara. Gerakan doa ini diinisiasi oleh World Evangelical Alliance (WEA) pada tahun 1996 dengan nama International Day of Prayer (IDOP). Hasil riset ini menjadi dasar yang kuat untuk berdoa dan memperjuangkan kebebasan beribadah bagi semua kepercayaan.    

Hasil riset PEW tentang kebebasan beragama

Laman Christianitytoday.com memaparkan hasil riset dari Pew Research Center yang ke 11 mengenai pembatasan kebebasan beragama di 198 negara, dan menyatakan bahwa hal ini mungkin menjadi fakta yang paling kontroversial yang untuk pertama kalinya diungkap. 

Riset lembaga PEW menemukan bahwa tahun 2018 Tingkat median pelanggaran pemerintah mencapai titik tertinggi sepanjang masa, karena 56 negara [28% dari total 198 negara] mengalami tingkat pembatasan resmi yang "tinggi" atau "sangat tinggi". PEW Recearch Center sendiri telah meneliti tentang hal ini sejak tahun 2007. 

"Peningkatan pembatasan pemerintah mencerminkan berbagai kejadian di seluruh dunia, termasuk peningkatan dari 2017 hingga 2018 dalam jumlah pemerintah yang menggunakan kekerasan - seperti penahanan dan penganiayaan fisik - untuk memaksa kelompok agama," demikian rilis dari Pewforum.org (10/11/2020).

Dari daftar 56 negara dengan tingkat tinggi dan sangat tinggi dalam pembatasan beragama ini paling banyak berada di kawasan Asia-Pasifik, yaitu 25 negara dimana Indonesia masuk di dalam daftar ini, dan ada 18 negara di kawasan Timur Tengah - Afrika Utara. 

Jumlah negara yang menderita karena permusuhan sosial karena isu agama dalam tingkat "tinggi" atau "sangat tinggi" turun sedikit menjadi 53 negara [27%]. Namun, tahun sebelumnya (2017) tingkat median untuk masalah ini mencatat rekor tertinggi sepanjang masa.

Dapat disimpulkan saat ini, 40 persen penduduk dunia menghadapi rintangan yang signifikan untuk bisa menyembah Tuhan dengan bebas. 

Data serupa dari Perserikatan Bangsa-Bangsa

Hasil riset PEW ini serupa dengan data yang dimiliki oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Menurut Ahmed Shaheed, reporter khusus PBB untuk kebebasan beragama dan kepercayaan, bahwa dari 178 negara yang mengharuskan kelompok agama harus didaftarkan, hampir 40 persennya diterapkan secara bias. 

“Kegagalan untuk menghapus diskriminasi, dikombinasikan dengan marjinalisasi politik dan serangan nasionalis terhadap identitas, dapat mendorong lintasan kekerasan dan bahkan kejahatan yang kejam,” demikian ungkap Shaheed.

Selain itu ada 21 negara yang membuat hukum untuk mengkriminalisasi perpindahan agama atau kepercayaan. 

"Iman harusnya sukarela, iman tidak ada nilainya jika tidak dibebaskan," demikian pernyataan Shaheed yang dikutip Christianitytoday.com pada bulan April 2020 lalu.

Di antara 25 negara terbesar di dunia, India, Mesir, Indonesia, Pakistan, dan Rusia memiliki tingkat keseluruhan tertinggi dari pembatasan pemerintah dan permusuhan sosial karena agama. 

Gereja tetap bertumbuh ditengah persekusi

Kabar gembiranya, walau menghadapi banyak persekusi, gereja tetap bertumbuh. Organisasi WEA mengambil contoh negara China, gereja Protestan disana bertumbuh dari 1.3 juta jemaat di tahun 1949 menjadi 81 juta jemaat di saat ii. Gereja Katolik di China juga bertumbuh dari 3 jutaa jemaat menjadi 12 juta jemaat dalam periode 50 tahun. 

WEA mencatat bahwa penganiayaan lebih baik dianggap sebagai konsekuensi dari pertumbuhan gereja, daripada stimulannya. Irak dan Suriah termasuk di antara negara-negara Timur Tengah di mana gereja telah menyusut ukurannya selama beberapa dekade terakhir.

“Meskipun penganiayaan membawa bencana, namun itu adalah fenomena yang ada dalam kedaulatan Tuhan. Penganiayaan tidak menentukan nasib gereja. Tuhanlah yang menentukan," demikian perenungan yang didasari dari Kisah Para Rasul dalam IDOP.

Yang menarik, dalam International Day of Prayer (IDOP) tahun 2020 ini, umat Kristen tidak hanya berdoa bagi gereja-gereja yang teraniaya saja, namun juga bagi umat dan kepercayaan lain. Sebagai contoh, umat Yahudi yang mengadapi serangan sosial dan pembatasan dari pemerintah di 88 negara, umat Budha yang mengalami peningkatan dalam penganiayaan dari sebelumnya hanya di 17 negara menjadi 24 negara. Demikian juga bagi kelompok-kelompok kepercayaan lain, termasuk atheis, agnostik dan humanis, yang dalam beberapa tahun ini yang jumlahnya menurun dalam hal mengalami persekusi, yaitu dari 23 negara menjadi 18 negara. 

Kebebasan untuk beribadah dan menyembah adalah hal mendasar dalam hak asasi manusia. Hal ini masih menjadi persoalan besar di berbagai negara, termasuk di Indonesia ini. Mari bergabung dengan seluruh umat Kristen dunia untuk berdoa tentang hal ini.

 

Sumber : Berbagai Sumber

Ikuti Kami