Demi Keamanan Negara, Presiden Perancis Rela Diprotes Umat Muslim Dunia

Demi Keamanan Negara, Presiden Perancis Rela Diprotes Umat Muslim Dunia

Lori Official Writer
595

Presiden Perancis Emmanuel Macron angkat bicara terkait karikatur Charlie Hebdo yang menyebabkan pembunuhan terhadap seorang guru bernama Samuel Paty pada Jumat, 16 Oktober 2020 lalu.

Pada Sabtu (31/10) kemarin, Macron mengatakan dengan tegas bahwa dirinya sangat menghormati Muslim. Namun dia menolak keras munculnya kekerasan atas nama agama yang belakangan ini mengancam negaranya.

Pasca pembunuhan Samuel Paty, Gereja Basilica Notre Dame di Nice, Perancis mendapat serangan dari sosok yang tak dikenal dengan menggunakan pisau pada Kamis (29/10). Akibatnya, tiga orang ditemukan tewas. 

Meskipun para pelaku berhasil ditangkap pihak kepolisian. Namun Macron menilai penting untuk melindungi seluruh warga negara. Ribuan petugas keamanan pun dikerahkan untuk menjaga tempat-tempat penting mulai dari rumah ibadah dan sekolah-sekolah.

“Kami tidak akan memberikan alasan apapun. Atas nilai-nilai kami, untuk prinsip kami akan kebebasan, untuk kebebasan beragama di negara kami,” kata Macron dalam pernyataannya.

Serangan ini terjadi bertepatan pada peringatan hari ulang tahun Nabi Muhammad. 

Protes Massal Dari Negara Muslim

Selain menyatakan sikap akan melawan serangan terhadap nilai-nilai kebebasan beragama yang dianut Prancis, negara-negara mayoritas Muslim menjadi semakin marah atas sikap pembelaan Perancis terhadap penerbitan karikatur tersebut. Ribuan orang melakukan unjuk rasa di jalanan dan menyerukan boikot terhadap Perancis. Umat Muslim di Pakistan, Bangladesh dan Palestina melakukan protes besar-besaran pada Jumat, 30 Oktober 2020. 

Di Pakistan, polisi terpaksa menembakkan gas air mata ke arah pengunjuk rasa yang mencoba menerobos blokade keamanan di Islamabad. Mereka mendesak Kedutaan Besar Perancis larangan pencetakan karikatur Charlie Hebdo yang menjadi sumber kemarahan umat Muslim. Unjuk rasa juga pecah di kota-kota lain seperti Karachi, Lahore dan Peshawar.

Sementara di Bangladesh, puluhan ribu orang berbaris di pusat kota Dhaka dan meneriakkan boikot produk Perancis. Mereka juga membawa spanduk bertuliskan ‘Macron teroris terbesar di dunia’.

“Macron memimpin Islamofobia. Dia tidak tahu kekuatan Islam. Dunia Muslim tidak akan membiatkan hal ini sia-sia. Kami akan bangkit dan berdiri dalam solidaritas melawan dia,” teriak para pengunjuk rasa.

Di Lebanon, sekitar 300 pengunjuk rasa juga berbaris di sebuah masjid di ibu kota Beirut tepat di depan Kedutaan Besar Perancis.

Negara Muslim Palestina juga mengutuki Perancis karena pencetakan karikatur Charlie Hebdo.

“Kami menganggap presiden Perancis bertanggung jawab atas tindakan kekacauan dan kekerasan yang terjadi di Perancis karena komentarnya terhadi Islam dan Muslim,” kata Ikrima Sabri.

Indonesia juga ikut mengutuki pernyataan Macron yang dianggap tidak menghormati agama Muslim. 

“Indonesia mengutuk pernyataan Presiden Perancis yang tidak menghormai Islam dan komunitas Muslim di seluruh dunia,” demikian disampaikan Kementerian Luar Negeri Indonesia.

 

Baca Juga: Ribuan Orang Perancis Demo Beri Dukungan Pada Guru Yang Dibunuh Karena Karikatur

 

Sampaikan Klarifikasi

Menyaksikan reaksi yang terjadi di berbagai negara terkait pernyataannya, Emmanuel Macron akhirnya menyampaikan klarifikasi. Dalam upaya memperbaiki kesalahpahaman terkait sikap Perancis, Macron menekankan bahwa pernyataannya bukan berarti mendukung penyebaran kartun-kartun tersebut. 

“Jadi saya memahami dan menghormati bahwa orang-orang bisa dikejutkan oleh kartun itu, tetapi saya tidak akan pernah menerima seseorang membenarkan kekerasan fisik atas nama kartun ini, dan saya akan selalu membela kebebasan di negara saya untuk menulis, berpikir, menggambta. Peran saya adalah menenangkan semuanya, itulah yang harus saya lakukan. Tetapi pada saat bersamaan saya juga harus melindungi hak-hak ini,” katanya.

Dukungan Dari Australia dan India

Beberapa pemimpin di Asia, termasuk Perdana Menteri Australia Scott Morisson dan Perdana Menteri India Narendra Modi justru berada di pihak Perancis. Mereka menyatakan solidaritas terhadap Macron.

“Ini hanyalah tindakan barbarisme yang paling kejam dan pengecut oleh teroris dan harus dikutuk dengan cara yang sekeras mungkin. Kami berbagi nilai (dengan Perancis). Kami mendukung hal yang sama,” kata Morrison.

Morrison juga berpendapat bahwa pernyataan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad bahwa umat Muslim berhak untuk marah dan membunuh jutaan orang Perancis dalam insiden pembantaian di masa lalu. Menurutnya pernyataan itu di luar konteks yang sedang dibicarakan Macron.

Sebagai pemimpin negara, tentu saja menjadi tugas Emmanuel Macron untuk melindungi warga negaranya dari segala tindak kekerasan. Dan di waktu bersamaan, dia juga harus menegaskan kembali penerapan kebebasan berpendapat dan beragama di negaranya yang sudah berlangsung selama ini. Sehingga isu apapun yang muncul, harusnya disikapi secara terbuka bukan dengan kekerasan, termasuk tindak kejahatan yang didasarkan oleh kemarahan.

Sumber : Berbagai Sumber | Jawaban.com

Ikuti Kami