Hasil Riset Barna Ungkap Dampak Buruk Pandemi Bagi Generasi Muda Gereja

Hasil Riset Barna Ungkap Dampak Buruk Pandemi Bagi Generasi Muda Gereja

Lori Official Writer
267

Pemimpin lembaga riset Kristen asal Amerika Serikat (AS) Barna Group David Kinnaman dan Direktur Insights Mark Matlock dalam sebuah video berseri berjudul ‘Five Essential Conversations about Ministry to the Next Generation’ (Lima Percakapan Penting Seputar Pelayanan Generasi’ mengungkapkan data bahwa gereja hanya akan menemukan 10% anak muda berusia 18-29 tahun yang akan aktif dalam pelayanan. 

“Saya berpikir kita akan melihat semakin banyak orang yang kehilangan hubungan dengan komunitas agama mereka, dengan ritme dan praktik mereka yang biasanya dilakukan. Kita akan benar-benar melihat jumlah (orang-orang yang meninggalkan gereja) akan meningkat di tahun-tahun berikutnya dan dampak jangka panjangnya bahkan lebih parah dari itu,” kata Kinnaman. 

Hasil riset yang dipublikasikan dalam buku Faith for Exiles itu menjelaskan bahwa data ini harusnya mendorong gereja untuk menemukan strategi baru untuk menghasilkan murid-murid yang tangguh di dalam iman, khususnya di tengah masa pandemi yang membuat gereja sulit menjangkau anak muda secara langsung.

“Kita tahu bahwa 22% anak muda saat ini adalah seperti ‘anak yang hilang’. Mereka benar-benar kehilangan iman. Jumlah itu tumbuh dua kali lipat dari 11% dalam 10 tahun lalu. Jadi sulit untuk diketahui seperti apa kondisinya dalam 10 tahun, tapi situasi saat ini (pandemi) akan mempercepat persoalan itu,” tambahnya.

 

Baca Juga: Hasil Riset Temukan Fakta Generasi Millenial Rentan Kesepian dan Bunuh Diri, Ini Sebabnya

 

Kinnaman dan Matlock juga mengkuatirkan kondisi pandemi akan mempengaruhi sebanyak 38% dari pengunjung gereja yang biasa. 

“Penting untuk disadari bahwa 22% pengunjung gereja tidak lagi kembali ke gereja. Mereka mengaku tidak lagi menjadi Kristen, yang merupakan masalah yang cukup serius. Kelompok lain, kami sebut nomaden atau yang masih mengaku Kristen, tidak lagi terhubung dengan gereja. Tapi ada kelompok lain, mereka benar-benar tidak lagi terhubungan dengan Tuhan tapi mereka cukup sering datang ke gereja dan itulah yang kami sebut sebagai pengunjung gereja yang biasa. Lalu ada pengunjung gereja yang tangguh, inilah jenis yang disebut sebagai murid yang ideal,” jelas Matlock.

Mereka bisa saja mengaku Kristen namun secara rohani mereka tidak mengalami pertumbuhan menjadi seorang murid. Orang-orang seperti ini, kata Matlock, jika tidak dilayani dengan baik maka mereka akan meninggalkan gereja khususnya saat menghadapi stres akibat pandemi dan persoalan hidup sehari-hari.

Dia menilai bahwa inilah waktu yang tepat bagi para pendeta untuk melayani pengunjung yang biasa-biasa ini. “Mereka cukup sering datang ke gereja tapi tidak benar-benar didasarkan oleh iman, praktik atau keyakinan mereka. Dan itu adalah kesempatan untuk melayani mereka,” kata Matlock.

Karena itu, mereka mendorong para pendeta untuk membantu generasi millennial dan Gen Z untuk terhubung kembali dengan iman mereka. Caranya adalah dengan mengajarkan mereka untuk menggunakan waktu membaca firman Tuhan, terkoneksi dengan orang lain dan pelayanan. Karena melibatkan orang lain dalam pelayanan akan membuat mereka benar-benar mengalami pribadi Tuhan sendiri.

Matlock menambahkan, di tengah pandemi ini generasi millennial dan Gen Z akan banyak merasakan kesepian. Tapi daripada merasa sendirian, mereka lebih baik memanfaatkan waktu untuk bertumbuh secara rohani.

“Kita harus menjalin hubungan pribadi dengan generasi ini. Kita perlu memanggil setiap anak muda yang kita hubungi. Kita harus membuat koneksi dengan mereka. Menanyakan kabar mereka? Mencari tahu bagaimana kondisi iman mereka. Bagaimana kita bisa menjadi gereja bagi mereka? Kita tahu bahwa orang yang tahan banting bisa bertumbuh secara rohani. Dan di tengah pandemi ini sulit untuk membangun hubungan seperti itu. Tapi itulah yang paling mendesak untuk dilakukan saat ini,” ungkap Matlock.

Dan untuk memastikan generasi muda gereja terus bertumbuh dalam imannya, para pemimpin gereja perlu bertanya apakah mereka sudah bekerja lebih keras untuk menjangkau generasi ini?

Sumber : Christianpost.com | Christianitydaily.com

Ikuti Kami