Hasil Riset Temukan Fakta Generasi Millenial Rentan Kesepian dan Bunuh Diri, Ini Sebabnya

Hasil Riset Temukan Fakta Generasi Millenial Rentan Kesepian dan Bunuh Diri, Ini Sebabnya

Lori Official Writer
384

Meskipun di zaman ini generasi millennial terkoneksi secara global lewat dunia digital. Tapi rupanya hal itu tidak membuat mereka bahagia dan puas akan dirinya sendiri. 

Hasil riset Barna dan Wahana Visi Indonesia (WVI) menemukan bahwa generasi millennial usia 18-24 tahun pada dasarnya adalah generasi yang terhubung secara global, optimis dan berjiwa sosial. Hal ini dibuktikan dari bagaimana mereka menempatkan prioritas-prioritas utama untuk masa depannya, seperti kemandirian secara finansial, pentingnya pendidikan, kesuksesan karir, keinginan menikah dan memiliki anak.

Namun dalam kenyataannya, prioritas-prioritas ini justru menimbulkan kecemasan baru dalam diri generasi millennial secara global.

“Pertama hal yang dicemaskan itu adalah ketidakpastian. Hal-hal yang diragukan oleh mereka adalah masa depan. Dan yang kedua adalah mereka tidak merasa mampu dengan apa yang mereka dapat lakukan dan inginkan.Mereka kuatir tentang tekanan untuk menjadi sukses. Lalu ada kebutuhan untuk menjadi orang yang sempurna dan dihakimi atau dinilai oleh generasi yang lebih tua. Dan tekanan dari ekspektasi orang tua, itu hal-hal yang membuat mereka tertekan,“ kata Dr. Anil M. Th, Manager Departemen Agama dan Pengembangan WVI.

Disamping itu, Anil juga menyampaikan bahwa kecemasan generasi millennial disebabkan oleh perasaan takut gagal, insecure serta rentan merasa sedih dan depresi karena terisolasi. “Ini menarik. Mereka merasa terkoneksi tetapi mereka merasa terisolasi dan mereka merasa sendiri,” ungkapnya.

Namun di sisi lain, ada juga banyak kaum millennial yang mengalami kecemasan akibat berbagai faktor lingkungan dan kebiasaannya seperti gaya hidup modern, keterikatan yang tinggi terhadap internet dan media sosial, kondisi sekitar yang tidak menentu, kurang tidur dan kurang bersosialisasi secara langsung dengan orang lain.

 

Baca Juga: Anak Muda Rentan Tinggalkan Gereja? Lembaga Riset Barna & Bilangan Riset Temukan Alasannya

 

Selain dari mengalami kecemasan dan kesepian, rupanya generasi millennial khususnya usia 15-18 tahun rentan berpikir untuk bunuh diri. Hans Geni Artanto, M.A selaku Sekretaris Bilangan Research Center menyampaikan bahwa secara nasional terhadap sebanyak 14.2% anak remaja Kristen yang pernah berpikir untuk bunuh diri. 

“Di sini temuan kami menemukan bahwa ada 14.2% yang pernah berpikir ingin bunuh diri. Kalau dilihat alasannya, 14.1% bilang stress. Lalu 13.2% lelah masalah hidup. 7.9% putus harapan. Lalu 7.7% bertengkar dengan saudara, 6.2% masalah pribadi da 5.7% lelah masalah keluarga,” ungkapnya.

Data ini membuktikan bahwa generasi Kristen sendiri rentan berpikir bunuh diri karena berkaitan dengan masalah pribadi dan keluarga. 

 

Baca Juga: Tak Ingin Kehilangan Generasi Muda, Wahana Visi Indonesia Gandeng Gereja Buat Pembekalan

 

Dua masalah yang rentan dialami generasi millennial ini dinilai perlu menjadi perhatian orangtua dan juga gereja sebagai komunitas orang percaya. Beberapa diantaranya adalah:

1. Gereja dipanggil Allah untuk mengatasi masalah diskonektivitas manusia. Jika diskoneksitas adalah akar masalah yang menyebabkan kecemasan, isolasi dan pesimisme tentang masa depan. Maka hubungan dan koneksivitas harus dibangun untuk menolong generasi millennials yang kita layani.

2. Gereja dan keluarga juga harus bisa belajar menyesuaikan diri dengan gaya hidup modern yang alkitabiah. Seperti mendampingi perjalanan hidup generasi, membangun koneksi dan intergenerasi, memperhatikan kesehatan jiwa anak, mebangun konsep sukses yang holistic dan mengembangkan kecakapan generasi melalui mentoring dan coaching.

3. Menjadikan keluarga sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi anak. Keluarga harus menjadi tempat dimana seorang anak diterima dan menerima kasih sayang.

“Keluarga itu menyumbang pengaruh yang besar. Keluarga itu harusnya menjadi sarang yang nyaman bagi tumbuh kembang anak,” kata Hans.

Menumbuhkan kerohanian pada generasi millennial juga dianggap penting. Karena menrut hasil riset Bilangan Center menemukan bahwa semakin rohani seorang anak, maka dia akan semakin kuat menghadapi berbagai tantangan hidup yang ada. “Spiritualitas punya kolerasi terhadap situasi-situasi yang berbahaya. Karena itu penting bagaimana gereja menolong anak muda, melayani mereka, membimbing mereka, supaya mereka berjumpa dengan kristus dan tumbuh dalam kerohaniannya.Dengan demikian dia bisa menghadapi situasi-situasi, tantangan-tantangan yang dialami generasi muda,” ungkap Hans.

Dengan data dan fakta yang diungkapkan melalui riset ini, gereja dan keluarga diharapkan bisa mengambil langkah konkrit untuk membantu generasi muda dalam menghadapi tantangan hidupnya.

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami