6 Tanda Kamu Berlaku Egois Dalam Pernikahan

6 Tanda Kamu Berlaku Egois Dalam Pernikahan

Lori Official Writer
401

Dalam pernikahan, setiap pasangan akan berhadapan dengan musuh terbesar dalam hubungan yaitu keegoisan. Karena keegoisan hanya akan menjadi penghalang suami dan istri hidup saling mendukung sebagai satu tim.

Faktanya, sifat egois ini sudah muncul sejak seseorang masih lajang dan cenderung memikirkan diri sendiri. Tapi setelah menikah, sifat ini harus diubah karena bagaimanapun hidup kita bukan lagi memikirkan tentang diri sendiri, tetapi juga pasangan, anak dan keluarga.

Karena itulah, ada banyak pasangan Kristen yang sudah menikah mulai membiasakan diri mereka mengucapkan kata ‘aku’ menjadi ‘kita’ atau ‘kami’. Kami dalam hal ini bicara sebagai suami dan istri yang sudah menjadi satu dalam segala hal, termasuk pikiran dan pendapat.

Sayangnya, masih banyak pasangan menikah yang tidak menyadari bahwa sifat egois ini rupanya mulai muncul dalam pernikahan. Dan untuk mengetahuinya, mari memperhatikan 6 tanda-tanda ini:

1. Kerap mendominasi percakapan

Seorang suami atau istri yang egois bisa dideteksi dari bagaimana dia memposisikan diri dalam sebuah percakapan. 

Salah satunya adalah dia selalu mendominasi dan tidak memberikan kesempatan bagi pasangannya untuk bicara. Bahayanya, ini bisa jadi tanda jika kamu bukanlah pendengar dan pendukung yang baik bagi pasanganmu.

2. Mudah bereaksi

Saat pasanganmu menyampaikan sesuatu yang menyinggung, kamu akan mulai bereaksi dan menyangkalnya dengan penuh amarah. Parahnya, kamu mencoba untuk membela diri dengan sekuat tenaga. Tak jarang reaksi ini juga diikuti dengan serangan verbal dan bahkan fisik, komentar sinis, ejekan, tuduhan, pembelaan diri dan perdebatan yang alot.

3. Selalu memaksakan pilihan

Akar dari munculnya sifat egois adalah ketidakpercayaan kepada pasangan. Misalnya, saat pasangan tidak memenuhi apa yang menjadi keinginanmu. Maka kamu mulai berpikir untuk melakukannya sendiri dengan pilihan sendiri. 

Akibatnya, pasangan akan merasa tidak dihargai dan kadang kala pemaksaan pilihan atau pendapat membuatnya menjadi marah dan kesal. 

4. Selalu menuntut untuk diperhatikan

Biasanya sifat ini dimiliki oleh hampir semua istri. Apalagi jika pasangan mereka benar-benar sibuk dengan pekerjaan. 

Alih-alih meminta dengan cara yang baik, seorang istri yang ingin mendapat perhatian akan menyampaikannya dengan cara yang salah. Atau bahkan menunjukkan rasa kesal dan marahnya tanpa alasan. Di sisi lain, suami yang sudah lelah dengan urusan pekerjaan akan mengalami dampaknya, mulai dari tertekan sampai merasa tidak berguna. 

 

Baca Juga: Pasangan Egois? Yuk Jalin Hubungan Jadi Makin Dekat Dengan 5 Cara Ini

 

5. Ingin selalu lebih unggul

Tanda lain dari sikap egois adalah selalu berusaha untuk membuktikan diri lebih baik dari pasangan. Kamu akan merasa seperti terancam ketika mendapati pasangan jauh lebih sukses. Karena itulah kamu mulai merasa dia sebagai saingan bukan pasangan.

6. Enggan mengakui kesalahan

Pasangan yang egois tidak akan pernah berinisiatif untuk meminta maaf lebih dulu. Sebaliknya, kamu akan merasa senang jika pasanganmu terluka atau tersakiti oleh kesalahanmu sendiri. 

Tentu saja keegoisan di atas akan menimbulkan kerusakan dalam pernikahan. Karena itulah jika tak ingin pernikahanmu terancam, mulailah atasi keegoisanmu dengan beberapa cara ini:

- Akui kalau kamu adalah pribadi yang egois. Ya, seperti disampaikan di atas bahwa pada dasarnya hampir semua orang punya sisi egois. Hanya saja periksalah dirimu, di bagian mana keegoisanmu mendominasi dan setelah itu akuilah di hadapan pasanganmu.

Bukan hanya mengakui, tapi berusahalah untuk berubah.

- Ubah pola pikirmu. Pernikahan adalah proses saling melengkapi. Karena itulah tidak ada istilah ‘yang paling penting’ atau ‘paling unggul’ dalam pernikahan. Baik suami dan istri harus sama-sama menghargai, menerima dan mendengarkan. Serta bekerjasama untuk membangun pernikahan yang berhasil. Jadi, ubahlah pola pikir yang hanya berpusat pada kepentingan sendiri menjadi kepentingan bersama.

 

Baca Juga: Gading Marten Ungkap Kesalahan Fatal Pernikahannya Kandas, Pelajaran Buat Para Suami!

 

- Hadapi pasangan dengan kesabaran. Saat pasangan tidak perhatian, kita pastinya akan merasa kesal dan marah. Kita mulai mengerutu dan mengeluh tentang semua. Tapi itu bukanlah cara untuk menyampaikan perasaan yang tepat. 

Komunikasikanlah apa yang kamu rasakan secara langsung dan dengan penuh kelemahlembutan. Karena sikap menuntut hanya akan merusak hubungan.

- Pelajari peranmu sebagai pasangan. Dalam kehidupan kekristenan, Tuhan dengan jelas sudah membagi peran suami dan istri. Di satu sisi suami bertanggung jawab sebagai kepala keluarga sekaligus menjadi pribadi yang harus mengasihi istrinya sebagaimana Kristus mengasihi gereja-Nya. Sementara istri berperan sebagai penolong bagi suami. Sementara kewajibannya adalah untuk selalu tunduk dan hormat kepada suami.

Tuhan memberikan peran berbeda bagi suami istri supaya kedua belah pihak mampu menempatkan diri sesuai dengan fungsi tersebut. Sehingga kemungkinan untuk bertukar peran bisa dihindari.

Pada dasarnya pernikahan itu indah. Tapi selama keegoisan yang dibiarkan tumbuh, pernikahan tidak akan pernah bisa berhasil. Jadi, mari mengingat bahwa maksud dari ikatan pernikahan ‘dua menjadi satu’ memiliki makna bahwa suami istri bukan lagi milik mereka sendiri tapi kedua-duanya justru sudah menjadi satu dalam segala hal, baik pikiran, perasaan, tindakan, kesukaan dan sebagainya.

Kasih ini sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain… - 1 Korintus 13: 4-5

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami