Minta Maaf Itu Seperti Pil Pahit Kehidupan

Minta Maaf Itu Seperti Pil Pahit Kehidupan

Puji Astuti Official Writer
      202

Matius 5:23-24

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Bacaan Alkitab Setahun Mazmur 73; Ibrani 7; Nahum 1-3

Ada seorang mantan anggota Dewan Kota Dallas yang terindikasi menggelapkan dana  sebesar $20.000. Dia tertangkap basah dengan bukti yang kuat atas kesalahannya itu. Pengacaranya bahkan menyatakan pada juri dalam argumen penutupnya bahwa mantan pejabat publik tersebut “mungkin bersalah atas tindak pidana pencurian, namun tidak bersalah dalam hal kejahatan federal.” Yang luar biasa, si terdakwa yaitu mantan pejabat publik itu ketika diperintahkan hakim untuk meminta maaf dan mengakui kejahatannya, dia bersikeras tidak mau. Dia memilih mendekam dipenjara selama satu bulan daripada harus meminta maaf. WOW!

Apa yang jadi masalah pria itu? Kesombongannya.. Sangat sederhana. Jelas, apa yang dilakukan pria itu salah, tetapi dia memilih mempertahankan egonya dan tidak mau merendahkan diri dan membuat keputusan yang benar. Dia memilih mendekam dipenjara selama sebulan daripada merendahkan hati meminta maaf dan menerima dirinya direndahkan. 

Tahukah Anda bahwa ada tiga kalimat yang sulit dikatakan oleh orang yang sombong?

  1. Saya salah.

  2. Saya minta maaf.

  3. Saya butuh pengampunan darimu. 

Apakah kamu bisa mengucapkan tiga hal tersebut ketika hubunganmu dengan temanmu, keluargamu, tetangga dan rekan kerjamu mengalami gesekan? Bisakah kamu mengucapkan ketiga kalimat tersebut kepada Tuhan ketika kamu berbuat dosa? Jadilah orang bisa meminta maaf dengan baik (yaitu dengan mengaku dan bertobat), hal ini sangat penting jika kamu mau menjadi seorang Kristen yang dinamis.

Tiga tahun lalu, saya berselisih paham dengan seorang teman. Rapat kami menjadi tegang… dan kami berdua merespon dengan cara yang salah. Beberapa jam setelah rapat itu, Tuhan menyatakan kesalahanku dalam perselisihan tersebut. Saya tahu bahwa saya harus memperbaiki keadaan ini. Saya menghubungi orang ini dan berkata, “Saya salah. Saya minta maaf. Saya membutuhkan pengampunanmu.” Walau orang ini tidak pernah memberikan maafnya (Dia tidak berpikir bahwa dirinya tidak melakukan kesalahan apapun), tetapi hati nurani saya sudah benar di hadapan Tuhan. Jelas saya merasa hancur, tetapi saya memilih untuk mengambil tanggungjawab atas dosa dan kesalahan saya dan memulihkan hubungan dengan orang yang telah saya buat tersinggung. 

Bagaimana dengan Anda?

Apakah ada seseorang yang telah Anda buat terluka melalui sikap, tindakan atau perkataan dan Anda belum pernah meminta maaf kepadanya? Apakah Anda mencoba membenarkan diri karena ego, kesombongan dan bersikap keras kepala, walaupun jauh di dalam hati, Anda tahu bahwa Tuhan mau agar Anda merendahkan hati dan memperbaiki hubungan tersebut? 

Saya berbohong jika berkata minta maaf itu bukan hal sulit. Merendahkan hati itu bukan hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Tetapi seperti meminum obat yang pahit, hal itu membuat Anda akan merasa baik ketika Anda telah melakukannya. 

Selidikilah hatimu (Mazmur 139:23-24). Apakah ada orang-orang yang perlu Anda hubungi untuk memperbaiki hubungan? Jangan tunda. Perjalanan bersama Tuhan yang penuh keintiman itu bergantung kepada ketaatan Anda dan saya dalam memperbaiki hubungan dengan orang-orang di sekitar kita. Percayalah kepada Tuhan. Abaikan rasa takut dan egomu. Buka mulutmu untuk meminta maaf… dan lihatlah bagaimana Tuhan melakukan perkara besar melalui hidupmu. 

Hak cipta Dr. Jeff Schreve, From His Heart Ministries



Ikuti Kami