Gereja di Masa New Normal, Bagaimana Bisa Menjawab Kebutuhan dan Tetap Bertumbuh?

Gereja di Masa New Normal, Bagaimana Bisa Menjawab Kebutuhan dan Tetap Bertumbuh?

Puji Astuti Official Writer
1240

Memasuki new normal ini, ada berbagai respon mengenai kembali menjalankan ibadah di gereja secara tatap muka, tentu sebagai gereja harus siap dan meresponinya dengan baik sehingga jemaat dan komunitas terlayani. Apa saja respon jemaat? 

Pertama adalah mereka yang sudah menunggu-nunggu untuk ibadah bersama, “Aku sudah tidak sabar untuk ke gereja dan menyembah bersama. Aku ingin bertatap muka langsung.” 

Yang kedua adalah mereka yang lebih nyaman berada dalam kelompok kecil, yaitu beribadah bersama keluarganya di rumah, “Pandemi COVID-19 ini membuat keluarga kami semakin dekat, kami melakukan ibadah dan pendalaman Alkitab bersama. Saya rasa, aku dan keluarga belum siap untuk ibadah di gereja dengan kondisi saat ini.”

Ada juga yang sudah nyaman beribadah online, “Ada banyak ibadah online dan kotbah yang bagus di internet sekarang. Aku merasa tidak perlu ke gereja untuk beribadah, aku bisa melakukannya dengan baik di rumah.”

Tidak ada yang salah dengan respon mereka, karena mereka adalah orang-orang percaya yang takut akan Tuhan dan ingin bertumbuh dalam iman mereka. 

Belajar dari gereja mula-mula

Dalam kondisi seperti sekarang ini adalah bagaimana gereja meresponi kebutuhan mereka sehingga mereka tetap tertanam dalam gereja lokal, dimuridkan dan bertumbuh dalam iman mereka. 

Kondisi berubah, demikian juga budaya dan gaya hidup, namun gereja harus tetap relevan di segala masa. Hal itu yang membuat gereja tetap bertumbuh, dan telah terbukti dari masa ke masa. 

Mari belajar dari gereja mula-mula seperti yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 4: 32 ini:

“Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.”

Memperkuat hubungan

Pada ayat di atas kita bisa membayangkan bahwa jemaat mula-mula benar-benar menghidupi ajaran Yesus Kristus untuk saling mengasihi (Yohanes 13:34-35). Mereka bukan hanya diajar untuk memiliki hubungan dengan Tuhan namun juga membangun hubungan dengan sesama berdasarkan kasih Kristus. 

Inilah yang saya rasa tepat untuk menggambarkan “engagement”, sebuah istilah dalam dunia marketing yang trend saat ini. Engagement adalah suatu hubungan timbal balik yang pada akhirnya menimbulkan rasa komitmen, kesetiaan dan kepedulian. 

Baca juga :

Bagaimana Menghindari Gereja Online Mengkanibal Gereja Tatap Muka

Luhut Ingatkan Pemimpin Gereja Untuk Jangan Bosan Kotbahkan Tentang Disiplin di New Normal

Gereja harus membangun “engagement” atau keterhubungan ini dengan jemaat dan komunitas sekitar. Walau kondisi dan budaya berubah, keterhubungan dengan sesama tetap hal penting bagi manusia sebagai mahluk sosial. 

Yesus sendiri memberikan teladan bagaimana Ia terhubung dengan Bapa-Nya di Sorga melalui doa-doa-Nya, namun Ia juga terhubungan dengan para murid, para rabi, pemungut cukai, anak-anak, orang sakit, dan bahkan mereka yang terbuang di masyarakat seperti wanita Samaria itu. 

Ia tidak hanya menyapa mereka, namun Yesus menjawab kebutuhan mereka saat itu juga. Hal yang sama dilakukan oleh gereja mula-mula, mereka terhubung satu sama lain, dan menjadi jawaban bagi kebutuhan sesamanya. 

Komunikasi menjadi hal krusial

Komunikasi menjadi penting bagi gereja di masa pandemi dan new normal ini. Gembala dan para pemimpin gereja perlu bersinergi untuk membangun komunikasi dengan semua jemaat, terutama mereka yang rentan dan kurang beruntung, seperti para lansia, janda, atau mereka yang kehilangan pekerjaan. 

Di kota-kota besar saat ini ada berbagai pilihan untuk komunikasi, mulai dari video call, telphone, chatting hingga sms. Hal ini sangat berguna sekali untuk pelayanan pastoral, seperti menghubungi jemaat secara rutin, melakukan konseling dan menanyakan kabar terbaru mereka.

Namun bagi gereja yang berada di daerah terpencil, kunjungan jemaat tidak bisa ditinggalkan untuk mengetahui kabar dan keadaan mereka. Tentu saja tetap harus menjalaninya sesuai dengan protokol kesehatan, seperti tetap menggunakan masker, dan menjaga jarak. 

Mengajak jemaat untuk aktif memperhatikan satu sama lain

Tentu membangun hubungan dalam gereja tidak bisa satu arah, antara gembala/pendeta dengan jemaatnya saja. Gereja adalah komunitas, untuk itu sesama jemaat perlu diajarkan dan mengajak jemaat untuk memperdulikan sesamanya. Hal ini menjadi salah satu faktor penting pertumbuhan jemaat di gereja mula-mula, karena kasih Kristus nyata melalui kepedulian yang mereka tunjukkan kepada sesamanya. 

Hal ini bisa dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil, dimana jemaat bisa tumbuh bersama dalam iman. Mereka bukan hanya belajar saling menguatkan, namun juga memperhatikan kebutuhan satu sama lain. Pemberian kepada sesama yang lahir dari kasih dan kepedulian yang tulus. 

Di masa sulit seperti ini seharusnya gereja bersinar terang, bahkan mengalami pertumbuhan secara eksponensial, seperti yang dialami oleh gereja mula-mula. Karena dunia mengalami rasa desakkan hebat akan suatu kebutuhan dan harus dijawab segera. Tuhan menempatkan gereja-Nya untuk menjadi jawaban tersebut. 

Anda ingin gereja Anda juga menjadi gereja yang relevan dan menjawab kebutuhan? Yuk ikuti Webinar Jawaban.com bertajuk “Gereja Yang Relevan di Masa New Normal”. Acara ini GRATIS, diadakan pada 15 Juli 2020, Pkl.17.00 WIB dengan pembicara Dr. Bambang Budijanto, Ph.D (Ketua Dewan Pembina Bilangan Risearch Center) , dan panelis : Pdt. Dr. Rubin Adi Abraham (Ketua Sinode GBI), Pdt. Dr. Mery L.Y Kolimon (Ketua Sinode GMIT) dan moderator : Mark McClendon (Ketua Yayasan CBN Indonesia). Untuk pendaftaran langsung KLIK DISINI. 


Sumber : Berbagai Sumber | Jawaban.com

Ikuti Kami