#RIPBennyLikumahuwa Sang Legendaris Jazz, Barry Likumahuwa Sebut Sang Papa Sosok Idola

#RIPBennyLikumahuwa Sang Legendaris Jazz, Barry Likumahuwa Sebut Sang Papa Sosok Idola

Lori Official Writer
556

Setelah Glenn Fredly, satu pemusik legendaris Indonesia kembali berpulang ke rumah Bapa. Benny Likumahuwa, yang dikenal sebagai piawai Jazz nusantara menghembuskan napas terakhir di kediamannya di Kompleks Villa Mutiara, Ciputat, Tangerang Selatan, Jawa Barat pada Selasa (9/6) pagi tadi.

Berita duka inipun dibenarkan oleh sang anak Barry Likumahuwa. Lewat akun Instagramnya, dia mengunggah salah satu foto sang papa yang dibubuhi caption “My Hero #likefatherlikeson I love you pap!”

Ucapan ini mengungkapkan kehilangan mendalam yang dirasakan Barry. Sebagai putra dari seorang legendaris Jazz, dia mengaku begitu mengidolakan sang papa. Sepanjang karir bermusiknya, Barry mengungkapkan kalau sang papa adalah sosok yang punya nilai musikalitas dan idealisme yang tinggi.

“Dia bukan sekadar papa aja buat saya. Dia idola saya. Saya mengidolakan dia banget karena saya belajar musik dari dia banyak. Musikalitas dia, idealismenya dia masih jadi panutanlah buat saya. Kalau dibilang kenangan, terlalu banyak. Hampir semua kehidupan dia sama saya itu kenangan,” ucapnya.

Barry mengungkapkan kalau sang papa meninggal karena sudah sakit sejak tahun 2018 silam. Penyakit yang diderita juga sudah kompleks, mulai dari ginjal, stroke ringan sampai diabetes. 

“Papa saya memang udah, dari Oktober 2018 beliau udah cuci darah. Setiap Senin-Kamis. Jadi memang dari 2018 Oktober. Terus dia juga kan mengalami masalah, beliau juga sempat mengalami stroke ringan. Dia punya diabetes dan dia punya, ginjalnya sih yang sebenarnya bikin dia paling drop. Kemarin pagi masih cuci darah seperti biasa, malam dikasihi obat penenang, mulai gak sadar. Saya pikir awalnya mungkin karena obat penenangnya. Tapi ternyata, pagi beliau udah gak ada,” ungkap Barry.

Perjalanan Karir Benny Likumahuwa

Pria kelahiran Kediri, 18 Juni 1946 ini sejak kecil sudah dikarunia bakat bermusik dari sang ibu. Seiring beranjak dewasa, Benny pun menunjukkan bakat tersebut dengan keahliannya memainkan beragam jenis alat musik, mulai dari bongo, bas, gitar, piano, trombone, flute, saksofon dan juga clarinet.

Pada tahun 1968, Benny bergabung dengan grup musik The Rollies dan sempat melakukan rekaman untuk Polygram di Sinagpura dan tour keliling Indonesia. Sejak namanya mulai dikenal, Benny pun dipercayakan ikut bermain di berbagai band di negara-negara Asia.

Setelah menjelajahi Asia, Benny kembali ke Indonesia dan mulai masuk ke dunia Jazz bersama musisi lainnya. Dia bahkan tak pernah melewatkan setiap acara Festival Jazz yang diselenggarakan di Asia. 

Sebagai seorang musisi, Benny dikenal sebagai sosok yang independen. Dia memilih bekerja sama dengan musisi dari berbagai kelompok musik Indonesia maupun Internasional.


Baca Juga: Barry Likumahuwa Hadirkan ‘Sound of Hope’ Sebagai Panggung Pujian Untuk Tuhan


Kiprahnya yang sudah malang melintang di dunia musik, mendorong Benny dan rekan-rekan lain membangun sebuah sekolah musik yang diberi nama Farabi pada tahun 1985. Dan sekolah inilah yang kemudian dikembangkan menjadi GladiResik Music Lab dan masih ada sampai saat ini.

Indra Lesmada, sebagai salah satu sahabat dekatnya, mengungkapkan bahwa Benny sudah seperti sosok kakak. Karena sempat tinggal di rumahnya dan sekamar berdua. Dan mengungkapkan banyak kenangan bersama.

“Aku memanggilnya mas Ben...

Mas Ben tinggal di rumah kami dari tahun 1977 sampai akhir 1979.

Mas Ben tidur sekamar dengan aku. Setelah beberapa lama setiap mas Ben harus pergi ke Bandung aku ga mau tidur sendirian.. Aku menjadi sangat dekat dengan mas Ben.. Mas Ben anter aku sekolah hampir setiap hari, tapi kalau hujan deras mas Ben putar balik dan aku jadi ga sekolah.

Mas Ben tulisannya bagus, jadi hampir semua lagu yg ayah ku aransemen, pecahan part nya mas band yang nulis.. aku pun menyontek cara mas Ben menulis sampai sekarang ga pernah bisa serapih dan sebagus tulisan mas Ben.

Mas Ben dan aku sering dengerin piringan hitam bersama di kamar tidur kami, kita sering belanja vinyl di jalan surabaya, yang jual namanya pak Silalahi..

Sejak saya mulai bisa main piano, kita sering bermusik bersama.. baik di acara rutinnya Ayah di TIM atau setiap minggu malam di pendopo bar hotel Borobudur..

Akhir tahun 1979 kami sekeluarga harus pergi ke Australia, aku sangat sedih harus berpisah sama mas Ben.. tapi untung masih bisa ketemu setiap aku ada jadwal manggung di Indonesia. Tahun 1984 akhir kami kembali ke Indonesia.. Ayah membuka sekolah musik, Farabi forum musik Jack dan Indra Lesmana, akhirnya aku bisa bersama mas Ben kembali.

Masih terlalu banyak kenangan dan cerita yang aku lalui bersama mas Ben.

Sekarang mas Ben sudah pergi meninggalkan kita semua tapi mas Ben akan selalu mempunyai tempat khusus di hati aku dan sejuta kenangan indah akan selalu ada di sepanjang hidupku.

Selamat jalan abangku, selamat jalan mas Ben, may you rest in love” tulis Indra Lesmana lewat akun Instagramnya.

Prosesi pemakaman sendiri sudah dikonfirmasi oleh keluarga, dimana sang legendaris Jazz itu akan dimakamkan pada Rabu (10/6) besok. 

Sumber : Jawaban.com

Ikuti Kami