3 Cara Menanggapi Kritikan dengan Rahmat

3 Cara Menanggapi Kritikan dengan Rahmat

Claudia Jessica Official Writer
705

Kita semua pasti pernah mengalami momen dimana seorang teman atau atasan atau saudara yang memberikan kritik terhadap kita kan? Kata-kata mereka pun bisa memiliki banyak tujuan. Baik itu mengkritik untuk membangun atau justru mengkritik untuk menjatuhkan.

Namun bagaimana untuk membedakannya? Dan bagaimana kita harus menyikapinya? Paulus menyadari bahwa Petrus bertindak berbeda ketika dia bersama orang Yahudi dan bukan orang Yahudi. Betapa sulitnya bagi Paulus untuk membahas soal ini bersama Petrus, terlebih lagi Petrus adalah satu dari dua belas muris Yesus.

Petrus adalah pemberita Injil yang berani dari sebelum Paulus bertobat mengikut Yesus. Namun Paulus tetap taat dan mengikuti perintah Tuhan untuk membahas masalah ini bersama Petrus. Inilah tiga tips untuk membantu kita menentukan apakah kritik yang kita dapat itu untuk membangun atau justru sebaliknya.

Baca juga: Lebih Banyak Mendengar dan Lebih Sedikit Bicara

1. Dengarkan dengan baik

Seringkali kita kehilangan fokus ketika sedang berbicara dengan orang lain sehingga tak jarang hal ini menimbulkan kesalahpahaman. Ketika kamu tidak fokus pada bagian-bagian tertentu dan hanya berpusat pada poin negatif, hal ini dapat membuatmu merasa kesal dan mungkin juga merasa terpojok.

Karenanya, ketika sedang berdiskusi usahakanlah untuk fokus sepenuhnya dan dengarkan dengan baik. Kamu juga bisa mengajukan beberapa pertanyaan dan melakukan tukar pikiran.

Kemudian yang lebih penting, usahkan untuk tidak bersikap defensif. Seperti Petrus, Tuhan menggunakan orang dengan iman yang sama untuk mengajarkan kita pelajaran yang berharga. Tapi kita bisa kehilangan kesempatan jika kita tidak mendengarkan.

2. Tinjau sumbernya

Setelah melakukan diskusi, tanyakan dua hal ini pada dirimu. Pertama, apakah dia datang dengan perahatian dan alasan yang benar? Kedua, apakah dia seorang yang dapat dipercayai untuk memberikan nasihat yang bijak? Jika ya, maka kamu harus memperhatikan kata-katanya.

Baca juga: Walau Dapat Kritikan Pedas, Film Joker Bisa Ingatkan Kita Soal Bahaya Gangguan Mental

Paulus menunjukkan kemampuan kepemimpinannya dan pengabdiannya kepada panggilan Allah dalam hidupnya melalui komitmen bertahun-tahun terhadap pelayanan. Dengan mempertimbangkan hal ini, Petrus dapat percaya pada Paulus. Petrus juga tahu bahwa tindakan dan hati Paulus dituntun oleh Roh Kudus.

3.  Bersikap reseptif (terbuka) dan apresiatif

Sebagai rekan kerja, kita memiliki alasan untuk saling mempercayai satu sama lain. Apapun yang akan kalian lakukan, yakinlah bahwa tujuannya adalah untuk memperbaiki keadaan. Saling menyakinkan dan buatlah komitmen baru untuk tujuan bersama. Biarkan dia tahu bahwa kamu menghargainya. Rasa syukur dapat meredakan ketegangan.

Seorang teman menantang saya untuk mengevaluasi diri sendiri dan mencari arahan Tuhan mengambil risiko. Dia berisiko menyakiti perasaanku untuk membawa perubahan yang pada akhirnya akan meningkatkan hubungan kami. Setelah membawa masalah ini kepada Allah dalam doa, saya memutuskn untuk berusaha memperbaiki diri sebagai pelayan dan pendengar.

Kritik dapat menyakitkan jika kita membiarkannya untuk menyinggung. Namun sebagai anak Tuhan dan harus meresponnya dengan benar, kita dapat menjadikannya sebagai masukan dan memanfaatkannya.

Baca juga: Terima Kritikan, Paus Fransiskus: Suatu Kehormatan Mendapat Kritik dari Orang Amerika

Jika Paulus dan Petrus dapat mengatasi banyak rintangan dalam pelayanannya, maka begitu juga dengan kita. Menjadi rendah hati dengan mendengarkan orang lain juga bisa menjadi rencana Tuhan untuk membentuk kita.

Sumber : crosswalk.com

Ikuti Kami