Ayah Positif Corona dan Semua Keluarga Diisolasi, Yolanda Pantou Berbagi Kisah Inspirasi

Ayah Positif Corona dan Semua Keluarga Diisolasi, Yolanda Pantou Berbagi Kisah Inspirasi

Lori Official Writer
1197

Gak ada yang menyangka jemaat di salah satu gereja ini harus menerima kenyataan kalau ayahnya harus didiagnosa positif virus corona beberapa waktu lalu.

Bukan hanya sang ayah saja yang harus menjalani proses karantina, tapi dia dan seluruh keluarganya pun harus diisolasi secara mandiri di rumah. Untungnya, selama prose situ pun sang ayah dan seluruh keluarga dinyatakan sembuh.

Menilai penting bagi masyarakat untuk tahu cara menangani penderita virus corona dengan tepat, Yolanda Pantou pun membagikan cerita ini di laman Facebooknya.

"Dalam video ini saya berbagi tentang bagaimana meresponi jika seseorang yang kamu keal terinfeksi virus. Ayah saya terinfeksi oleh COVID-19. Saya ingin berbagi apa yang harus dilakukan jika anggota keluargamu terinfeksi dan bagaimana menanggapi ketika temanmu memberi tahumu bahwa mereka terinfeksi virus," tulis Yolanda dalam berbahasa Inggris.

Dia pun menceritakan asal mula waktu sang ayah didiagnosa positif virus corona. Meski saat itu gejala yang ditunjukkan dari sang ayah mengarah pada COVID-19, tapi dia dan keluarga memutuskan untuk tidak gegabah menyampaikan hal itu ke semua orang. Melainkan menunggu hasil yang pastinya keluar dari tes resmi.

“Ketika kami diberitahu bahwa ayah saya diduga terinfeksi COVID-19, butuh beberapa hari untuk hasil yang pasti, jadi kami masih menyimpan informasi ini untuk menghindari kepanikan di tengah informasi yang masih belum pasti,” tulisnya.

Meski begitu, Yolanda menyadari betul kalau meskipun ayahnya masih belum dinyatakan positif virus corona, dia memutuskan untuk membatalkan semua jadwal kerja yang sudah dia buat. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran virus secara lebih luas.

“Sebagai orang yang melakukan kontak dengan ayah saya, saya langsung membatalkan semua jadwal dan janji saya. Saya pribadi menghubungi semua orang yang sudah berhubungan dengan ayah saya (atau anak-anaknya dalam beberapa kasus), supaya mereka mengukur suhu dan langsung pergi ke dokter kalau mereka menunjukkan gejala,” lanjutnya.

Hasil pemeriksaan sang ayahpun keluar setelah empat hari kemudian dan dinyatakan positif. Setelah mendengar hasil tersebut, keluarganya pun memutuskan untuk membuat pernyataan resmi terkait kondisi sang ayah.

“Jadi kami membuat pernyataan resmi tentang status positifnya, disertai dengan daftar tempat dan kegiatan yang sudah dilakukan ayah saya dalam 14 hari terakhir sebelum dia dirawat di rumah sakit,” terangnya.

Sang ayah pun segera dipindahkan ke rumah sakit rujukan pemerintah dan dirawat selama 11 hari di sana. Sementara Yolanda secara pribadi menyampaikan tentang kondisinya kepada manajemen apartemen yang dia tinggali. Pihak pengelola apartemenpun menghargai tindakannya dan dia pun mengambil waktu untuk mengisolasi diri selama 14 hari di rumah.

“Mereka sangat membantu. Mereka membantu saya mengirimkan pesanan langsung ke pintu saya dan mengambil sampah saya. Jadi saya tidak perlu pergi ke luar ruangan,” jelasnya.

Dia juga merasa bersyukur karena orang-orang terdekatnya, termasuk teman-temannya sangat mendukungnya selama masa isolasi tersebut.

“Teman-teman saya juga sangat membantu, mereka berbelanja untuk saya dan memastikan bahwa saya punya cukup makanan. Kita tidak bisa menghadapi perjuangan ini sendirian. Kita mulai dari diri kita sendiri, dengan bertanggung jawab atas kesehatan kita dan orang lain,” katanya.

Di tengah pengalaman itupun, Yolanda mengajak semua orang untuk melakukan tindakan yang tepat waktu tahu teman atau keluarga positif corona.

Yolanda menyampaikan bahwa langkah pertama yang bisa dilakukan adalah tidak panik. Walaupun panik adalah sikap yang manusiawi, tapi Yolanda mengajak semua orang untuk tidak menunjukkan kepanikan di depan penderita.

“Jangan lakukan itu di depan mereka. Mereka sedang sakit dan mungkin sangat kuatir. Kalau pun panik, lebih baik menunjukkannya ke orang lain. Pandemi ini akan berakhir, kita gak mau persahabatanmu juga berakhir bukan?” jelasnya.

Selain itu, dia juga menyarankan semua orang yang terpapar dengan pasien positif COVID-19 untuk segera memeriksakan diri. Caranya adalah dengan mengamati diri sendiri setiap hari. Seperti mengukur suhu tubuh setiap hari.

“Jadi yang bisa kita lakukan adalah mengamati diri kita sendiri setiap hari. Saya menggunakan termometer ini untuk memeriksa suhu tubuh saya dari waktu ke waktu,” terangnya.

Hal lain yang juga dianggap perlu dilakukan selama menghadapi pandemi ini adalah tidak membuar asumsi yang bisa menimbulkan pikiran negative kepada penderita. “Yang bisa kamu lakukan adalah berdoa dengan tulus untuk orang itu dan semua orang. Lebih baik membantu keluarga dalam isolasi yang tidak dirawat di rumah sakit, seperti bantuan yang saya dapatkan berupa bahan makanan dan barang-barang lainnya,” katanya.

Sementara Yolanda juga menyampaikan pentingnya untuk tidak bertemu langsung dengan keluarga yang masih terinfeksi demi menjaga keselamatan pribadi dan orang lain.

Secara pribadi, Yolanda sendiri merasa kalau pandemi ini harusnya mengingatkan semua orang bahwa gak seorang pun punya kendali atas apa yang sedang terjadi, kecuali Tuhan sendiri.

“Tapi itu juga mengingatkan kita bahwa tidak ada yang di luar tangan Tuhan yang penuh kasih. Kita bisa memakai tangan kita untuk saling mendoakan, bukan untuk menyebarkan ketakutan dan tipuan. Dan kalau kita bisa, kita harus menggunakan tangan kita untuk saling membantu,” tuturnya.

Yolanda merasa bahwa inilah waktu yang tepat bagi semua orang untuk membagikan pesan harapan kepada dunia. Dia sendiri akan mendoakan orang-orang yang terinfeksi dan juga keluarga yang kehilangan orang yang mereka kasihi.

“Mari kita juga berdoa bagi mereka yang bekerja di garis depan melawan virus ini: dokter, perawat, paramedis, pekerja rumah sakit, staf kebersihan dan orang-orang yang tidak bisa tinggal di rumah,”  tandasnya.

Saat menyampaikan postingan ini, kondisi Yolanda dan keluarga sudah dinyatakan sembuh. Dia sendiri mengisolasi diri selama 14 hari di rumahnya.

Mari belajar dari kisah Yolanda dan keluarga, bahwa wabah virus corona bisa kita lewati jika kita tetap saling menjaga, mendukung dan mendoakan satu sama lain. Mari semakin memperbanyak waktu kita untuk berdoa supaya wabah ini segera berlalu.

Sumber : Facebook.com/Yolanda Pantou

Ikuti Kami