Silahkan login terlebih dahulu sebelum
memasukkan pertanyaan Anda.

Register Login

Lori Mora

Official Writer
299


Lebih dari 5000 demonstran menduduki Bandara Internasional Hong Kong sejak Jumat, 9 Agustus 2019.

Mereka menuntun pembatalan UU Ekstradisi Hong Kong. Para demonstran mendesak pemerintah untuk merevisi salah satu poin yang menyatakan pemberlakuan ekstradisi ke yuridis manapun tanpa melalui perjanjian. UU baru ini muncul terkait kasus pembunuhan yang terjadi di Taiwan pada bulan Februari 2018 silam.

Kasus ini melibatkan pria kewarganegaraan Hong Kong berusia 19 tahun yang dijadikan tersangka oleh pemerintah Taiwan.

Setelah dinyatakan bersalah, pemerintah Taiwan meminta pemerintah Hong Kong untuk mengekstradisi pria tersebut untuk diproses sesuai dengan kasus hukum yang menjeratnya.

Kasus ini menjadi panjang setelah pemerintah Hong Kong memutuskan untuk melakukan pengesahan UU Ekstradisi bersama dengan perjanjian ekstradisi dengan Cina Daratan. Ketegangan semakin memuncak lantaran pengesahan bertentangan dengan ideologi antar negara dimana Cina Daratan menganut paham komunis dan Hong Kong menganut paham liberal.

Masalah ini sudah terjadi selama 6 bulan belakangan. Sejak Maret 2019, kumpulan demonstran turun ke jalanan Hong Kong dan menyampaikan penolakan terhadap UU Ekstradisi.


Kondisi Semakin Menegang

Sampai hari ini, situasi di Hong Kong masih terus menegang. Tindakan para demonstran membuat pemerintah harus bertindak keras dengan menyerang demonstran dengan gas air mata dan senjata pelindung.

Krisis inipun mengundang keprihatinan dari berbagai gereja di Hong Kong. Para Uskup di Keuskupan Anglikan Hong Kong mengatakan bhawa ketegangan yang melanda kota menyebabkan ‘kegelisahan dan rsa sakit’ bagi warga. Karena itulah mereka menyuarakan keprihatinan atas bentrokan yang terjadi antara polisi dan para demonstran.

Melalui selembar surat kepada umat paroki, Uskup Agung Paul Kwong, Uskup Andrew Chan dan Uskup Timothy Kwok menyampaikan pesan perdamaian atas Hong Kong. Mereka mengutip Matius 5: 43 dan mendesak umat Kristen untuk berdoa bagi musuh-musuh mereka dan tidak menyebarkan rasa benci atas situasi yang saat ini terjadi.

“Kami berpikir bahwa saat umat Kristen menanggapi masalah politik atau publik, kita harus ingat bahwa kita semua adalah anggota keluarga Allah, bahkan jika kita memiliki pendapat yang berbeda,” tulis para uskup dalam suratnya.

“Kita mungkin berdiri di sisi yang berlawanan, dan merasakan permusuhan atau bahkan membenci mereka yang memiliki pandangan berbeda.

“Saat hal ini terjadi, kita harus sangat berhati-hati, karena hati kita mungkin telah jatuh ke dalam kendali ‘si jahat’.

“Kita harus mengingat bahwa pikiran yang baik datang dari Tuhan sementara niat jahat berasal dari si jahat, iblis. Di masa-masa ini, kita semua perlu berdoa kepada Tuhan untuk belas kasihan dan saling mengampuni satu sama lain,” lanjut tulisan itu.

Baca Juga:

Aktor Pemeran Yesus Ini Bantah Berita Hoax yang Menyatakan Dirinya Adalah Mesias

White Supremacy Amerika Bikin Pro Kontra, Senator Ini Angkat Bicara

Dalam menghadapi perpecahan yang sedang berlangsung, kedua belah pihak diharapkan bisa saling menghormati, mendengar, berkomunikasi dan membangun rasa saling percaya.

Mereka mengatakan adalah penting bagi masyarakat Hong Kong dan terutama orang-orang Kristen di kota itu, menolak pendekatan konfrontatif.

“Kalau gereja juga mengambil pendekatan ini, apa bedanya kita dari dunia? Kita adalah satu keluarga, dapatkah kita mencoba berdiri di posisi masing-masing dan memahami posisi satu sama lain?” demikian isi suratnya.

Para uskup juga sepakat untuk memohon supaya kedua belah pihak memutuskan untuk berdamai.

“Cara berekspresi juga merupakan masalah penting. Kadang-kadang, ekspresi kebaikan bisa membuka cakrawala baru sementara respon yang lahir dari rasa permusuhan hanya menyebabkan kedua belah pihak mengabaikan tuntutan dan pendapat pihak lain.

Senada dengan itu, Dewan Kristen Hong Kong juga menyampaikan rasa prihatin mereka dengan mengajak semua orang untuk menciptakan perdamaian bagi Hong Kong.

“Kekerasan itu jelas meningkat, dan kita berdoa supaya semua orang menghargai kehidupan dan menahan diri dari melakukan apapun yang bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain,” ucap Dewan Kristen Hong Kong.

Mereka juga menambahkan, supaya semua pihak ikut berdoa supaya terjadi resolusi damai di tengah krisis politik dan sosial di Hong Kong.

“Kami meminta kepada Tuhan hikmat, kerendahan hati dan keberanian bagi rakyat Hong Kong, para pemimpin pemerintah dan gereja,” ungkapnya.

Pada Kamis lalu, sekitar 1200 umat Katolik mengadakan demo damai dengan penyalaan lilin dan meminta pemerintah untuk mencabut RUU Ekstradisi.

Mata seluruh dunia tengah tertuju kepada Hong Kong. Karena itu, dari Indonesia mari semua umat Kristen juga boleh memanjatkan doa bagi perdamaian di Hong Kong. Semoga ada jalan keluar dan segala tindakan kekerasan tidak lagi terjadi dan merugikan banyak pihak. 

Sumber : Christiantoday.com | Jawaban.com

Share this article :

Setiap Persoalan selalu ada Harapan dan Jawaban. Hubungi kami sekarang !

Yones 25 August 2019 - 01:13:05

Upah mengikut Yesus

0 Answer

Gelatik Senja 22 August 2019 - 23:33:40

Cara mengendalikan hawa nafsu

0 Answer

Samu Vastro 22 August 2019 - 23:11:21

Hormati

0 Answer


Suhidi Yosua 2 August 2019 - 00:01:16
Shalom, Nama saya Suhidi Yosua, 30thn. Saya butuh ... more..

andrew 1 August 2019 - 02:12:17
saya Andrew 21thn saya mau meminta suport dan duku... more..

Wellyanti Oktavia Selan Welly 19 May 2019 - 19:45:52
Selama 10tahun hidup berkeluarga, yang saya rinduk... more..

andre s 10 May 2019 - 15:07:50
Teman2 Mohon di Doakan saya memiliki kebiasaan kec... more..

Banner Mitra Agustus Week 4


7270

Banner Mitra Agustus Week 4