Pendeta
selebritis kini banyak disematkan kepada para pendeta muda yang baik dekat dengan para artis maupun yang bergaya hidup mewah bak selebritis.
Belakangan ini,
gelar tersebut pun menjadi perbincangan hangat di media. Pasalnya, sejumlah pendeta
tertangkap menjalani gaya hidup mewah, seperti mulai mengenakan barang-barang branded dan mahal.
Sebuah akun
Instagram bernama ProphetsnWatches pun membongkar siapa saja pendeta yang termasuk dalam kategori pendeta selebritis.
Akun
tersebut menyorot soal pendeta yang kerap mengenakan sepatu mahal dan jam tangan senilai puluhan sampai ratusan juta.
Sebanyak 30
pengkhotbah terkenal ditampilkan di dalam akun tersebut lengkap dengan barang-barang
mewah yang dikenakannya. Seperti halnya, Pendeta T. Jakes yang mengenakan jam tangan emas kuning 18 karat Cartier Santos 100 XL seharga 13.000 dolar AS.
Ada juga Televangelist Benny Hinn, Steven Furtick, Victoria Osteen dan juga pemimpin pujian Chris Tomlin yang mengenakan jam tangan seharga 64.50 dolar AS.
“Tak ada yang jauh lebih sederhana dari itu. Pemimpin pujian OG @christomlin mengguncang Casio G-Shock DW5600 yang sangat keren. Tak ada (jam tangan) yang lebih baik untuk dipakai di panggung Tuhan (selain jam ini),” tulis admin akun ProphetsnWatcher tersebut.
Baca Juga:
Sorotan media
terhadap gaya hidup pendeta dan para pengkhotbah ini memang mengundang banyak debat di kalangan gereja. Apalagi di kalangan para pendeta sendiri.
Menyikapi hal
inilah Erica Greve, pendiri dan CEO Heroes Heroes, organisasi nirlaba yang bertujuan
untuk menyelamatkan dan memulihkan anak-anak korban perbudakan seks menyampaikan
dalam sebuah dialog bersama PreachersNSneakers bahwa seorang pendeta tak seharusnya dikritik karena barang mewah yang dikenakannya.
“Aku merasa
kenyataan berada di posisi publik, apapun itu, kita harus peduli dengan penampilan
luar dan apa pesan yang akan kita sampaikan. Kita semua senang disebut influencer
tapi pada akhirnya, saat kita benar-benar bicara tentang pengaruh kita, kita harus melihatnya dari segala bidang,” ucap Greve.
Dia mengaku
tak mempermasalahkan jika seorang pengkhotbah yang dikenal baik hati membeli sepatu olahraga yang mahal.
“Kalau kamu
hanya mengendarai mobil yang bagus dan tidak membantu orang miskin, menyumbang waktumu, itu yang jadi masalah,” katanya.
Senada dengan
Erica Greve, Faith Pro juga membela para pendeta yang berpenampilan trendy dengan
barang-barang branded-nya. Menurut mereka, para pendeta yang sudah melakukan tugasnya
dengan baik dan produktif, memang harus dibayar dengan baik. Karena dengan itulah mereka akan termotivasi untuk menyampaikan firman Tuhan dengan lebih baik.
“Jika seorang
pendeta produktif, dia merawat dirinya dengan baik sehingga mereka bisa lebih melayani
dan menggunakan iman mereka untuk mengubah lebih banyak kehidupan,” tulis Faith Pro dalam situs websitenya.
Mereka juga
menyampaikan bahwa, menjadi pendeta tidak diukur dari apa yang dimiliki. Tapi
tentang siapa yang dimiliki dan bagaimana dia membagikan tentang injil Yesus. “Tuhan
tidak keberatan kamu punya kekayaan, tapi Dia tidak ingin kekayaan memilikimu. Lagipula,
kamu bahkan tak bisa membawanya bukan?” lanjut Faith Pro.
Bagaimanapun
isu ini telah mengundang umat Kristen berpikir dan menilai soal para pendeta berpenampilan
mewah. Namun terlepas dari hal itu, kita perlu menyadari bahwa kalau jemaat sendiri
saja bisa mengenakan barang-barang mewah kenapa tidak dengan pendeta. Namun perlu
diperhatikan memang bahwa sebagai panutan umat, seorang pemimpin memang perlu
transparan terhadap semua orang.