Dua Pendeta Kontroversial Ini Pimpin Doa Peresmian Kedutaan Amerika Di Yerusalem

Internasional / 16 May 2018

Kalangan Sendiri

Dua Pendeta Kontroversial Ini Pimpin Doa Peresmian Kedutaan Amerika Di Yerusalem

Puji Astuti Official Writer
3522

Pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat dari wilayah Tel Aviv ke Yerusalem menuai pro-kontra terlebih dengan adanya demo dan bentrokan di wilayah Gaza. Namun kontroversi pemindahan kedutaan Amerika ini tidak hanya sampai di sana, saat acara peresmian kedutaan tersebut, dua orang pendeta Amerika yang diundang berdoa pun sangat tidak biasa, mereka adalah Pendeta Robert Jeffress gembala Gereja First Babtist Church di Dalas dan Pendeta John C. Hagee seorang televangelis pendiri Christian United for Israel.

Dalam acara peresmian kedutaan itu, Robert Jeffress memimpin doa pembukaan. Beberapa tahun lalu ia pernah berkomentar bahwa menjadi Yahudi tidak menjamin keselamatan mereka.

Baca juga : 

Arab Saudi Nilai Pemindahan Kedutaan AS ke Yerusalem Hanya Perburuk Konflik Timur Tengah

Kematian Ariel Sharon Berkaitan dengan Kedatangan Yesus?

“Kamu tahu siapa yang berkata demikian? Tiga orang Yahudi yang luar biasa di Perjanjian Baru: Petrus, Paulus dan Yesus Kristus. Mereka semua menyatakan bahwa Yudaisme tidak akan menyelamatkan. Hanya iman di dalam Yesus Kristus (yang menyelamatkan –red),” demikian ucapan Jeffress pada tahun 2010 lalu dalam sebuah wawancara dengan Trinity Broadcasting Network.

Sebaliknya, dalam interview dengan NPR, John C. Hagee mengungkapkan bahwa dia percaya orang Yahudi akan diselamatkan saat Yesus Kristus dating untuk kedua kalinya, yang ia percaya tidak akan lama lagi terjadi. Sekalipun saat ini orang Yahudi tidak percaya bahwa Yesus Kristus adalah mesias, namun Hagee percaya bahwa saat Dia dating nanti, orang-orang Yahudi akan menerima Dia sebagai Juru Selamat.

Walau pernyataan kedua pendeta ini penuh kontroversi, namun di kalangan orang Kristen injili Amerika, mereka adalah orang-orang yang berada di barisan pertama mendukung Israel. Mereka juga mendukung kebijakan Amerika yang mendukung Israel dengan pandangan bahwa hal itu membantu penggenapan nubuatan Alkitab menuju kedatangan Yesus kedua kalinya.

Namun pemindahan kedutaan Amerika Serikat ini membuat suhu di wilayah Timur Tengah memanas. Terlebih setelah bentrokan di Gaza yang menewaskan lebih dari 50 warga Palestina. 

Sumber : Nytimes.com
Halaman :
1

Ikuti Kami