Menurut Bruce Morril, profesor untuk studi Katolik di Universitas Vanderbilt, Paus asal Argentina tersebut melakukannya untuk menghilangkan intimidasi institusional dalam banyak kasus, sekaligus menunjukkan konsistensi kepausannya. “Saya pikir ini merupakan tujuan utama Paus untuk menunjukkan sebuah kemurahan hati, dan untuk menyatakan tentang pelayanan universal gereja, mengkomunikasikan belas kasihan dan pelayanan pastoral gereja,” ujarnya Senin (21/11) lalu.
Seperti diketahui, tahun lalu, Paus telah memberikan para imam Katolik otoritas sementara untuk memberi pengampunan kepada para wanita yang melakukan aborsi, dan tahun ini oleh Paus otoritas itu diberikan secara penuh dan dalam jangka waktu seterusnya. “Mari kita meminta untuk anugrah pintu rekonsiliasi yang tidak pernah tertutup, membuka setiap kemungkinan untuk jalan pengharapan,” ujarnya
Bagi Katolik sendiri, menganggap aborsi sebagai dosa yang fatal dan serius sehingga secara otomatis terjadi pengucilan terhadap wanita yang melakukannya. Penyelesaiannya biasanya diserahkan kepada uskup dan jajarannya sesuai hukum gereja. “Saya menyatakan bahwa aborsi adalah dosa yang fatal dan serius, karena aborsi membunuh kehidupan yang tidak berdosa. Namun di satu sisi, saya juga menyatakan bahwa tidak ada dosa yang tidak dapat dijangkau oleh anugerah Allah, dan mengembalikan hati yang mencari pertobatan untuk direkonsiliasi dengan Bapa di Surga,” tegasnya.
Ikuti doa ini sekarang:
“Tuhan, saya mengakui bahwa saya orang berdosa. Saya membutuhkan Engkau. Saya percaya bahwa darahMu sanggup menghapuskan segala dosa dan kesalahanku. Saat ini, saya mengundang Engkau, Yesus Kristus, masuk dalam hati dan hidupku menjadi Tuhan dan Juruslamatku. Saya menyerahkan hidupku bagiMu dan melayaniMu.
Dalam nama Yesus aku berdoa. Amin”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!