Lukas A Lesnussa: Kutinggalkan Istri dan Anak demi Wanita Lain

Lukas A Lesnussa: Kutinggalkan Istri dan Anak demi Wanita Lain

Lori Official Writer
14871

“Rasa cinta kepada istri mulai hilang sejak saya berselingkuh. Semakin intens hubungan yang saya jalani dengan wanita selingkuhan saya itu, hubungan dengan keluarga mulai dingin. Saya menganggap istri saya sudah tidak ada apa-apanya karena rasa cinta di dalam hati saya itu sudah hilang dan mati,” demikian Lukas A Lesnussa menuturkan perjalanan rumah tangganya yang hampir berantakan karena perselingkuhannya di masa lalu.

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan seorang istri kala mendapati suaminya kerap kali tak pulang-pulang karena lebih memilih tidur dengan wanita lain. Tiada malam tanpa air mata. Ia juga bahkan harus berbohong kepada anak-anak dikala bertanya tentang keberadaan ayah mereka. Tentu saja menyakitkan, namun Nira Lesnussa tetap bersabar.

Lantaran tak pulang-pulang, Nira mulai mencari tahu apa yang sebenarnya dilakukan Lukas di luar sana. Lewat seorang kerabat yang pernah memergoki Lukas bersama wanita muda, diapun akhirnya membongkar kedok perselingkuhan yang selama itu ditutup-tutupi Lukas. Bersama warga setempat, Lukas dan wanita selingkuhannya itu akhirnya keluar dan dicecal telah menodai kampung sekitar dengan aktivitas kumpul kebo yang dilakukannya selama itu.

Bukannya merasa malu dan bersalah kepada orang-orang dan sang istri. Ia sama sekali tidak merasa telah menghianati komitmennya sebagai suami sekaligus ayah yang baik. Ia malah menyalahkan Nira lantaran telah datang untuk mempermalukannya di depan banyak orang.

“Saya memarahi istri saya, saya membentak dia. Saya pukul dia. Dan itu menjadi perlakuan setiap hari. Saya menjadi orang yang kasar dan bringas,” kenang Lukas mengakui perubahan yang dialaminya kala itu.

Meski telah didapati berselingkuh, Lukas terus saja menjalin hubungannya dengan wanita lain. Beragam kebohongan, kekerasan dan bentakan harus diterima Nira setiap harinya dari sang suami. Malahan, tak ada kesempatan baginya untuk menanyakan setiap aktifitas yang dilakukan Lukas di luar sana.

Kondisi hidup tanpa cinta bersama Nira membuat Lukas memutuskan untuk pergi meninggalkan istri dan anak-anaknya. “Saya memang sudah mau pisah sama istri dengan cara seperti itu. Waktu saya melakukan itu, saya mulai merencanakan untuk menikah lagi. Saya nggak peduli dengan istri saya. Saya pergi ke Sulawesi Utara untuk melangsungkan pernikahan di sana”.

Kepergian Lukas membuat Nira menderita dalam kesedihan mendalam. Ia merasa sedih sebab kepergian Lukas pun akan berdampak besar bagi anak-anaknya. Namun Nira mulai berpikir bahwa itu adalah waktu saat Tuhan sedang menguji kesabaran dan imannya. Dia tak henti berdoa agar Lukas menyadari kesalahannya dan kembali ke rumah.

“Tiba-tiba saya mendengar suara yang sangat audible di telinga saya. Dia panggil nama asli saya. “Lukas keluar dari tempat itu karena tempat itu najis.” Tuhan sepertinya menunjukkan betapa kotornya hidup saya, betapa    najisnya saya, penuh dengan ketakutan. Dan tiba-tiba timbul rasa takut mati,” terangnya.

Saat pengalaman mimpi itu lah Lukas menyadari dirinya sedang dijamah Tuhan. Lukas merasakan takut yang begitu mendalam saat merasa dirinya berdosa. Ia hanya punya pilihan melakukan sesuatu yang benar untuk menebus segala kesalahannya kepada orang-orang yang dia telah sakiti. Tanpa mempedulikan rencana pernikahannya yang sudah semakin dekat, Lukas segera berkemas dan bergegas kembali pulang, meninggalkan semua rencana yang sudah dia buat dan bahkan wanita yang akan segera dia nikahi. “Saya harus kembali buat istri saya. Saya pengen keluarga, rumah tangga saya pulih,” terangnya.

Akhirnya Lukas pun memohon pengampunan dari istrinya atas perselingkuhan dan perlakuannya buruk dan kasar. Rekonsiliasi pun terjadi dalam rumah tangga Lukas dan Nira. Rumah tangga yang sebelumnya seperti neraka, kini dipulihkan menjadi rumah yang teduh, sejuk, dan penuh sukacita.

“Apa yang saya lakukan di masa lampau, ketika saya renungkan hari ini, semua itu adalah kesia-siaan. Tetapi ketika Isa Almasih masuk dalam hidup saya, saya ketemu dengan Isa Almasih, saya hidup di dalam firman-Nya. Hari ini saya menyadari bahwa saya harus menjadi kepala keluarga, seorang bapak untuk kedua putri saya,” ucap Lukas.

Ya benar, Lukas menyadari bahwa pelabuhan yang paling aman bagi seorang suami adalah keluarga. Kerukunan dalam keluarga adalah sebuah kebanggaan yang harusnya dimiliki setiap keluarga.


Apakah artikel ini memberkati Anda? Jangan simpan untuk diri Anda sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang belum mengenal Kasih yang Sejati. Mari berbagi dengan orang lain, agar lebih banyak orang yang akan diberkati oleh artikel-artikel di Jawaban.com seperti Anda. Caranya? Klik di sini.

Sumber : Lukas A Lesnussa & Nira Lesnussa

Ikuti Kami