Bersyukur Untuk Tangan yang Menjangkau

Kata Alkitab / 15 February 2016

Kalangan Sendiri

Bersyukur Untuk Tangan yang Menjangkau

Theresia Karo Karo Official Writer
5487

Seorang guru kelas satu memberi tugas kepada murid-muridnya untuk menggambarkan sesuatu yang mereka syukuri. Tugas ini disambut bahagia oleh anak-anak.

Sebagian besar dari mereka mulai berimajinasi dengan mainan, makanan kesukaan, atau masa-masa liburannya. Namun ada satu anak yang bernama Douglas membuat gambar yang berbeda. Untuk hal yang disyukurinya, dia membuat gambar tangan.

Douglas memang berbeda dari anak lainnya. Dia adalah seorang anak yang tergolong lemah secara fisik dan jarang tersenyum. Saat anak-anak lain bersemangat untuk bermain saat jam istirahat, Douglas lebih sering berdiri dekat gurunya.

Selesai menggambar, masing-masing murid membawa gambarnya dan menunjukkan karyanya di depan kelas. Tiba giliran Douglas maju dan menunjukkan gambarnya, satu persatu temannya mulai menebak pemilik tangan tersebut.

Seorang anak menduga bahwa itu adalah tangan petani karena berjasa dalam menanam sayur dan makanan lainnya. Ada pula yang menduga itu adalah tangan polisi karena mereka adalah aparat yang bertugas melindungi warga. Sedang beberapa anak lainnya menduga gambarnya adalah tangan Tuhan.

Karena begitu ramai, diskusi itu akhirnya dihentikan dan anak-anak beranjak ke tugas lainnya. Setelah beberapa waktu, Sang Guru menghampiri meja Douglas sambil membungkuk. Dia bertanya tangan siapa yang ada dalam gambarnya.

Douglas menatapnya dan mengatakan, “Ini milikmu, Guru”.

Sang guru pun teringat saat dia menggandeng Douglas. Dia mengingat seberapa sering dia harus berkata, “Pegang tanganku, Douglas, kita akan pergi ke luar” Atau, “Mari saya tunjukkan cara memegang pensilmu.” Atau, “Mari kita lakukan ini bersama-sama”.

Douglas ternyata merasa bersyukur atas tangan gurunya itu. Tangan yang menuntunnya, menjangkaunya, dan mengajarinya. Tidak disangka tindakan sederhana ini melekat erat dalam benak muridnya. Rasa haru pun menyeruak. Setelah menyeka air mata, guru itu memeluk Douglas dan melanjutkan tugasnya.

Meski mungkin tidak selalu mengucap terima kasih, namun mereka mengingat tangan yang menjangkaunya. Uluran tangan merupakan tanda kasih dan pertolongan. Sekilas memang sederhana. Namun bagi orang yang membutuhkan, tangan yang menjangkaunya adalah sumber pertolongan.

Apakah artikel ini memberkati Anda? Jangan simpan untuk diri Anda sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang belum mengenal Kasih yang Sejati. Mari berbagi dengan orang lain, agar lebih banyak orang yang akan diberkati oleh artikel-artikel di Jawaban.com seperti Anda. Caranya? Klik di sini.

Sumber : Intisari-online/Jawaban.com | Theresia Karo Karo
Halaman :
1

Ikuti Kami