Juariyah, Pembantu yang Bermimpi Dapatkan Ijasah Sekolah

Juariyah, Pembantu yang Bermimpi Dapatkan Ijasah Sekolah

Lori Official Writer
7427
Juariyah adalah wanita yang berasal dari kampung halaman Presiden Republik Indonesia (RI) pertama Soekarno, kampung Menjangan Kalung, Blitar. Dari pelosok kampung inilah Juariyah mulai merenda harapan dan cita-cita setinggi langit meski hidup dengan penuh kesederhanaannya. Harapan itu pun dibungkus dengan kemauan bersekolahnya yang tinggi.

Tradisi masyarakat yang mengharuskan kaum perempuan untuk segera menikah serta kondisi keluarga yang serba kekurangan pun akhirnya harus menghentikan langkah wanita yang kerap disapa Iyah itu bersekolah.

“Timbul pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pikiran saya: Kenapa mesti begini, kenapa mesti aku? Yoweslah memang inilah takdir saya. Tinggal nuggu aja siapa yang pinang saya,” ujar Juariyah.

Setelah berhenti sekolah, ia pun melakoni pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga. Beberapa tahun melakoni pekerjaan itu, Juariayah pun tak luput dari tindakan gegabah yang dilakukannya saat menjalankan tugas. Untungnya, kemurahan hati majikannya menyentuh hati Juariyah dan merasa bahwa keluarga itu menerimanya.

“Yang menyentuh saya waktu itu dia (majikan perempuan Juariyah, red) bilang begini: udah sekalipun gelas-gelasnya sudah pecah, ibu tetap mengasihi kamu. Dia peluk terus dia bilang begitu, kayaknya ademlah,” ujarnya.

Dari kemurahan orang-orang yang ditemui Juariyah dalam lingkungan pekerjaannya, ia mulai belajar tentang kemurahan hati Tuhan. Ia menyadari bahwa syang ia dapatkan bersumber dari Tuhan.

Seperti jalan-jalan Tuhan yang tak terkira, dengan kemurahan hati sang majikan ia dapat kembali mengecap dunia pendidikan hingga lulus dan mendapat ijasah Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tak lama setelah lulus, ia pun mendapatkan pekerjaan yang lebih baik daripada hanya sekedar menjadi pembantu rumah tangga.

“Tuhan nggak hanya membuka jalan-jalan baru dalam hidup saya lewat pendidikan. Tapi saya dapat memperbaiki hubungan saya dengan bapak saya. Yang tadinya saya sempat kecewa dengan keputusannya tapi lewat peristiwa ini, saya bisa mengampuni bapak saya dan saya rasa itu hal terindah yang pernah saya miliki”.

Setelah mampu memberi pengampunan kepada sang ayah, Juariyah mengaku lega lantaran sudah mampu merelakan kepergian sang ayah dengan tenang. Lewat kisah ini, kita belajar bahwa Tuhan dapat memakai orang-orang yang dipercayakan berada disekitar menjadi perpanjangan tangan Tuhan. Kemurahan hati yang ditunjukkan oleh sang majikan kepada Juariyah, menghantarnya mencapai ijasah sekolah yang ia cita-citakan sejak kecil dan mampu mengubah jalan hidupnya menjadi lebih baik. Saat ini, ia dipercayakan menangani bagian keuangan di salah satu yayasan dan menikmati kehidupannya dengan bahagia.


Apakah artikel ini memberkati Anda? Jangan simpan untuk diri Anda sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang belum mengenal Kasih yang Sejati. Mari berbagi dengan orang lain, agar lebih banyak orang yang akan diberkati oleh artikel-artikel di Jawaban.com seperti Anda. Caranya? Klik di sini.

Sumber : Juariyah

Ikuti Kami