3 Risiko Ekonomi yang Perlu Diwaspadai, Versi BI

3 Risiko Ekonomi yang Perlu Diwaspadai, Versi BI

Theresia Karo Karo Official Writer
3123

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo mengungkapkan bahwa perekonomian global di tahun depan berhadapan pada ketidakpastian tinggi. Menurutnya, terdapat tiga risiko ekonomi yang perlu diantisipasi, yakni perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, penurunan harga komoditas global, serta penurunan aliran masuk modal asing ke negara berkembang. 

“Ketidakpastian tidak hanya bersumber dari risiko yang telah kita identifikasi (known-unknown), tetapi juga dapat berasal dari sesuatu yang belum terpikirkan sebelumnya (unknown-unknown),” jelasnya dalam ‘Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2015’ di JCC Senayan, Jakarta, Selasa (24/11). 

Meski pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan membaik 3,5 persen, namun tidak menutup kemungkinan risiko proyeksi tersebut menjadi lebih rendah. Agus beranggapan bahwa risiko koreksi dapat terjadi bila pemulihan ekonomi di Tiongkok dan negara berkembang lain tidak memenuhi harapan. 

Terkait penurunan harga komoditas, hal ini diperkirakan masih akan berlanjut mengingat berakhirnya super-cycle harga komoditas. Nantinya, risiko ekonomi ini berpotensi semakin menurunkan ekspor Indonesia. 

“Perkembangan ini perlu terus kita sikapi, karena dapat semakin menurunkan ekspor Indonesia dan menghambat pemulihan ekonomi apabila kita tidak dapat melepaskan diri dari ketergantungan pada ekspor berbasis sumber daya alam,” lanjut Agus. 

Selanjutnya, risiko ketiga terkait proses normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat, akan memasuki episode likuiditas dolar AS yang cenderung lebih ketat dan sekaligus menopang penguatan dolar AS. 

“Kita perlu mewaspadai terjadinya proses rekomposisi modal portofolio oleh para pemodal global yang dapat memutarbalikkan arah aliran modal keluar dari negara berkembang,” jelas Agus.

Selain ketiga risiko di atas, Agus juga menyarankan untuk tetap mengantisipasi berbagai dinamika global lainnya. Seperti konstelasi kebijakan ekonomi global yang menjurus pada upaya untuk meningkatkan daya saing mata uang (currency war). Mengingat pada tahun 2015, risiko ini muncul saat Tiongkok melakukan kebijakan devaluasi Yuan yang muncul tanpa dugaan. 

Apakah artikel ini memberkati Anda? Jangan simpan untuk diri Anda sendiri. Ada banyak orang di luar sana yang belum mengenal Kasih yang Sejati. Mari berbagi dengan orang lain, agar lebih banyak orang yang akan diberkati oleh artikel-artikel di Jawaban.com seperti Anda. Caranya? Klik di sini. 

Sumber : Antaranews/Jawaban.com by tk

Ikuti Kami