Mengapa Mereka Meninggalkan Imannya?

Mengapa Mereka Meninggalkan Imannya?

Puji Astuti Official Writer
13499

Ibrani 10:39

Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.

Sepanjang tahun 2015 ini ada satu topik yang menarik untuk diperhatikan, yaitu ketika seseorang berpindah agama atau keimanannya dan mendapatkan respon dari masyarakat luas, baik dari sisi  iman yang dianutnya maupun yang ditinggalkannya. Tidak sedikit yang mencaci dan juga menghujat. Namun adakah yang bertanya mengapa mereka meninggalkan imannya?

Dalam sebuah survei di Amerika diungkap bahwa hanya 11% orang dewasa yang meninggalkan imannya memiliki iman yang kuat saat ia kecil dan datang dari keluarga yang mempraktekkan keimannya dengan taat. Hal ini membuktikan bahwa 89% orang yang meninggalkan imannya bertumbuh dalam keluarga yang kehidupan keimananya tidak kuat. Hal ini tentu menjadi peringatan bagi para orangtua agar bisa menjadi teladan dan juga mengajarkan iman dan kepercayaannya kepada anak-anaknya. Mereka bukan hanya diajarkan tentang agama, namun harus  dituntun agar mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan dan Juru Selamatnya.

Iman yang goyah tidak terjadi dalam sekejab mata, hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki dasar kepercayaan yang kuat, sehingga saat goncangan demi goncangan datang, hidup mereka menjadi terombang-ambing dan pada akhirnya tidak hanya membuat mereka meragukan iman mereka, namun juga meragukan Tuhan.

Mengapa mereka ketika meninggalkan imannya?

Kepahitan

Tidak sedikit orang yang meninggalkan imannya karena rasa sakit secara emosional yang terjadi karena disakiti sesama orang percaya, atau juga karena suatu kejadian yang membuatnya kecewa dengan Tuhan, gereja dan juga umat percaya. Mereka mungkin menjadi korban dari gosip yang beredar di gereja, atau juga karena ketidakadilan yang dilakukan oleh sesama pemercaya.

Jika Anda bertemu dengan pribadi yang seperti ini, jangan berargumen tentang kekristenan namun sebaliknya jadilah pendengar yang baik. Posisikan diri Anda sebagai seorang sahabat yang tidak menggurui atau bahkan menghakimi tindakan mereka. Dapatkan kepercayaannya, bantu orang tersebut untuk mengatasi rasa sakitnya dan melepaskan pengampunan dengan berfokus kepada bagaimana Yesus telah mati di kayu salib untuk menanggung setiap rasa sakit, termasuk sakit hati mereka.

BACA JUGA :

Menyusul Harris, Penulis Lagu Hillsong Ungkapkan Tak Lagi Percaya Pada Kristus

Saat Keraguan Mencoba Mengguncangkan Imanmu, Hadapi Dengan Cara Ini!

Atheisme dan Modernisme

Hal ini banyak terjadi dikalangan anak muda, dimana mereka hidup dengan segala kemuktahiran dan ilmu pengetahuan tidak lagi percaya dengan Tuhan dan kerohanian. Mereka berpikir dengan logika dan menjalani kehidupan berdasarkan filosofi dan standar moral. Kelompok ini seringkali memilih tidak bertuhan, atau atheis.  Berdasarkan survei diperkirakan jumlah orang atheis sudah mencapai 14% dari populasi dunia. 76% berada di Asia dan Kepulauan Pasifik, sedangkan 24% sisanya adalah Eropa, Amerika dan Afrika. Untuk di Indonesia kebanyak mereka yang menyatakan diri sebagai ateis tidak begitu mencolok, karena mereka masih menggunakan label agamanya untuk dapat diterima keluarga dan masyarakat.

Kelompok ini sangat kritis dan juga memiliki pengetahuan yang luas, tidak jarang mereka melakukan dialog tentang agama, namun lebih fokus sebagai ilmu pengetahuan daripada menggali keimanan. Untuk itu jika Anda bertemu dengan mereka Anda memiliki jawaban yang tepat untuk pertanyaan mereka, dan jika Anda tidak memiliki jawabannya, maka katakan bahwa Anda akan mempelajari hal tersebut lebih dalam dan akan menghubungi mereka kembali untuk memberitahukan jawabannya. Tetaplah fokus pada inti keKristenan, yaitu kehidupan Yesus, kematiannya di kayu salib dan kebangkitan-Nya. Jangan terpancing untuk berdebat, namun ijinkan mereka melihat bagaimana perjalanan iman Anda untuk mengalami kebenaran  memperkaya kehidupan Anda.

Haus akan spiritualisme

Kelompok ini berbanding terbalik dengan yang sebelumnya, mereka haus dengan hal-hal spiritual namun sayangnya tidak menemukan hal itu dalam gereja dan keKristenan. Itu sebabnya saat ini banyak agama-agama timur yang muncul secara moderen, dimana orang-orang dibimbing untuk mengalami kedamaian secara spiritual. Orang-orang ini ingin mengalami secara pribadi kekuatan spiritual, namun sayangnya tanpa disadari mereka membuka hidup mereka untuk roh jahat,

Untuk menjangkau mereka, Anda harus hidup dalam kuasa Roh Kudus dan mengijinkan Roh Tuhan untuk menguasai hidup Anda. Bertemanlah dengan mereka dan ijinkan Roh Kudus menjamah mereka melalui hidup Anda. Ajak mereka mengalami Tuhan secara pribadi, mengalami kuasa Roh Kudus yang lebih besar dari semua roh yang ada di dunia ini.

Masih ada banyak hal yang menyebabkan orang meninggalkan iman percayanya kepada Yesus Kristus, tetapi bagian kita bukanlah menjadi hakim bagi mereka. Sebaliknya, tugas kita adalah menjadi pensyafaat bagi mereka agar tangan Tuhan menjangkau mereka dan membawa mereka berbalik kembali kepada Yesus Kristus. Kuncinya adalah jangan meninggalkan mereka, tetaplah jaga jalinan persahabatan dengan mereka, dan ijinkan kasih Kristus dan juga kesaksian hidup Anda membuat mereka mengenal pribadi Sang Juru Selamat.

Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik, ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa. ~ Yakobus 5:19-20

Baca juga : 

Tidak Hanya Pemimpin Kristen, Artis Ini Pun Cemas Terkait Penyataan Iman Sampson Hillsong!
Sumber : Crosswal.com | Jawaban.com | Puji Astuti
Halaman :
1

Ikuti Kami