Ekonomi Israel Genting, Produk Mereka Diboikot

Ekonomi Israel Genting, Produk Mereka Diboikot

daniel.tanamal Official Writer
6434

Saat ini para pengusaha-pengusaha perdagangan asal Israel tengah khawatir menghadapi kemungkinan bangkrut atau usaha mereka akan jatuh. Hal itu dikarenakan perubahan situasi politik di Israel yang kini dipimpin oleh pemerintahan sayap kanan, selain buntunya perundingan damai dengan Palestina. Hal yang menyebabkan kondisi ekonomi Israel didalam kegentingan dan kampanye internasional untuk memboikot produk-produk Israel.

Salah seorang pengusaha anggur asal Israel bernama Yaakov Berg sejak dua tahun yang lalu telah diminta oleh  pengimpor asal Afrika Selatan untuk melabeli anggur produksi Yaakov dengan Made in Occupied Palestine”—secara longgar berarti produk dibuat di wilayah pendudukan Israel. Ia menolak. Ujungnya, pelanggan pergi. Tahun lalu, penjualan anggurnya ke Eropa dan Afrika Selatan turun 50 persen. Untuk menyelamatkan usahanya, Yaakov berupaya memperluas pasar dengan membuka toko online serta gudang di Amerika Serikat. Dengan cara tersebut, ia tidak perlu berhadapan dengan para pengimpor yang mematuhi seruan boikot.

Pada Selasa, para pejabat Uni Eropa mengatakan tengah berupaya mendesak Israel untuk memasang label serupa, demikian laporan Associated Press. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di hadapan kabinet menyatakan niatnya untuk meningkatkan upaya memerangi seruan global untuk memboikot Israel dan produk-produknya.

Pernyataan tersebut muncul setelah Stephane Richard, CEO raksasa telekomunikasi Perancis, Orange, berencana mengakhiri kesepakatan yang memungkinkan penyedia layanan seluler Israel menggunakan nama brand tersebut. Orange bahkan mempertimbangkan rencana untuk hengkang dari Israel. Perusahaan itu memang mengaku berada di bawah tekanan dari konsumen Eropa dan Arab, namun Orange menyatakan keputusan itu berdasarkan alasan bisnis, bukan politik.

Pekan lalu, Israel pun menerima ancaman untuk ditendang dari FIFA, serta menjadi target boikot Serikat Pelajar Inggris. Para petani, pemilik pabrik, serta pengusaha di bidang teknologi di wilayah pendudukan Israel—mencakup Tepi Barat, Dataran Tinggi Golan, serta Lembah Sungai Yordan—harus bergulat demi beradaptasi dengan ancaman boikot.

Banyak warga Israel tidak menganggap serius gerakan boikot. Pasalnya, ekspor kawasan Tepi Barat hanya menyumbang 1 persen produk domestik bruto negara itu. Bagaimanapun, “ini masalah branding, dan juga secara psikologis dan politis merupakan masalah,” kata Joseph Ackerman dari Kementerian Ekonomi Israel.

Gerakan yang diluncurkan oleh Otoritas Palestina pada 2005 sebagai Boikot, Divestasi, dan Sanksi telah memanas belakangan ini, sebagian karena memburuknya hubungan Israel-Palestina. Saat ini, Eropa adalah pasar ekspor terbesar Israel dengan menyumbang USD24,5 miliar per tahun. Pada 2014, ekspor ke Eropa menyumbang 35 persen total perdagangan Israel.

 


Anda diberkati dengan artikel ini, yuk share artikel ini di Facebook-mu dan ajak teman-temanmu untuk re-share link artikelnya. Semakin banyak yang re-share, semakin keren hadiahnya. Keterangan lebih lanjut, KLIK DI SINI


Sumber : Berbagai Sumber
Halaman :
1

Ikuti Kami