Sembuhkan Stroke Dengan Terapi ‘Cuci Otak’

Sembuhkan Stroke Dengan Terapi ‘Cuci Otak’

Lori Official Writer
14617
Banyak orang yang tentu bertanya-tanya bagaimana mungkin cuci otak bisa menjadi salah satu metode diagnose penyakit stroke. Jawabannya, terapi cuci otak yang dimaksud tidak sama dengan tindakan mengubah pola pikir seperti yang diketahui masyarakat awam, melainkan sebuah proses pemeriksaan terhadap kelainan pada pembuluh darah dengan metode radiologi intervensi.

Terapi ‘cuci otak’ atau brain wash dianggap sebagai harapan baru bagi para penderita stroke atau kelumpuhan. Hal ini terbukti dari pengalaman para pasien stroke yang telah sembuh total setelah menjalani proses radiologi intervensi, hasil modifikasi dari DSA (Digital Subtraction Angiogram) dari dr Terawan Agus Putranto, Sp. Rad (K).  

Keberhasilan ini kemudian seolah mematahkan pendapat dunia medis bahwa penderita stroke hanya memiliki kemungkinan kecil untuk sembuh total. Metode ini ditemukan oleh dr. Terawan setelah memodifikasi DSA menjadi salah satu metode penyembuhan yang awalnya bertujuan untuk mencegah paparan radiasi dan berkembang menjadi metode diagnosa pembuluh darah yang aman.

“Metode dimulai dengan pemeriksaan detail. Dilakukan brain check-up dengan MRI, neurologi. Ada kelengkapan neurofisiologis dan juga neurobehaviour karena ia berkaitan dengan tindakan untuk mengetahui ada kelainan apa di otak,” tutur dr Terawan.

Terapi inipun tidak dilakukan secara sembarang. Saat melakukan pemeriksaan, pasien akan terlebih dahulu diperiksa oleh dokter spesialis seperti endokrin dan penyakit dalam untuk memastikan jenis penyakit secara detail, tepat dan aman. “Kesembuhan itu dari Tuhan. Dokter membantu pasien mendapatkan diagnostik yang tepat. Tindakan medis kepada pasien tergantung dari apa yang ditemukan,” tutur dr Terawan.

Seperti diketahui, stroke adalah penyakit gangguan pembuluh darah otak (PDO) akibat sumbatan, penyempitan dan pembuluh darah pecah. Pasien yang telah terdiagnosa mengalami penyumbatan pembuluh darah kemudian dianjurkan untuk mendapatkan penanganan dengan radiologi intervensi.

Terapi ini menggunakan alat angiografi atau kateterisasi yang menggunakan sinar-x secara terus menerus untuk memantau pembuluh darah yang diperiksa setelah disuntikkan kontras, sehingga pembuluh darah akan terlihat. Bagi para dokter ahli, prosedur ini hanya akan memakan waktu selama 10-15 menit saja.

Untuk presentasi keberhasilan, diagnosa yang dilakukan dengan metode DSA ini telah mencapai 70%. Dan dari 10 kasus yang ditangani, terdapat 70 % yang merasakan manfaat yang positif bagi kesehatan mereka. Namun selain memberikan manfaat, dr Terawan mengakui bahwa terapi ini juga memiliki efek samping yang patut diperhatikan, seperti mual dan pusing.

Sumber : Detik.com/liputan6.com
Halaman :
1

Ikuti Kami