Protes Puluhan Warga Berujung Penurunan Salib Gereja di Malaysia

Protes Puluhan Warga Berujung Penurunan Salib Gereja di Malaysia

Theresia Karo Karo Official Writer
5600
Pada hari Minggu (19/4) lalu, sekitar 50 warga melakukan aksi unjuk rasa menentang adanya salib di depan gereja baru di Taman Medan, Petaling Jaya, Kuala Lumpur. Karena aksi ini, beberapa jam kemudian para pemimpin gereja terpaksa menurunkan Salib untuk menjamin keamanan anggotanya.

Kemarin pihak berwenang di Malaysia, Komite Pemerintah Negara Bagian Selangor tentang Hal Ehwal Bukan Islam (HESI) telah bertindak dan meminta pihak gereja untuk memasang kembali Salib ke tempat semula. Ketua HESI Elizabeth Wong mengungkapkan bahwa gereja-gereja yang didirikan di tempat komersial hanya perlu memberitahu HESI dan tidak diwajibkan untuk memiliki izin.

“Pemerintah negara bagian menyatakan bahwa pemindahan paksa Salib berarti melecehkan orang Kristen dan dasar-dasar kebebasan beribadah yang ditetapkan dalam Konstitusi Federal,” papar Wong.

Atas peristiwa ini, penasehat HESI mengundang para pihak terkait untuk duduk bersama dan membahas permasalahan ini. Dalam pertemuan di hari Selasa (21/4) turut hadir Majelis Kota Petaling Jaya, perwakilan gereja, termasuk pengunjuk rasa yang tergabung dalam Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO).

Dalam pertemuan tersebut diketahui bahwa anggota gereja mulai beribadah sejak Agustus 2014 dan Salib baru dipasang di luar gereja sejak 17 April 2015. Atas pemasangan simbol umat Kristen ini, UMNO menganggap bahwa Salib telah ‘menantang Islam’, karena memasangnya di lingkungan yang kebanyakan warganya memeluk agama Islam. Selain itu, UMNO mengklaim bahwa umat Kristen melecehkan mereka setelah ibadah hari Minggu.

Usai pertemuan ini, Wong mengungkapkan bahwa pihaknya ingin agar polisi menangani kasus ini dengan serius agar keselamatan umat terlindungi dan tidak terulang lagi. “Dalam pertemuan itu, kami menyarankan pihak Gereja memasang kembali salib ke tempat aslinya untuk menghentikan preseden negatif akibat massa yang berafiliasi politik,” ungkapnya.

Sumber : BBC/Ucanews.com by tk
Halaman :
1

Ikuti Kami