Bantu Anak Mengatasi Ketakutannya

Bantu Anak Mengatasi Ketakutannya

Theresia Karo Karo Official Writer
3404

Takut merupakan bagian dari mekanisme pertahanan dasar yang terjadi sebagai respon dari stimulus tertentu, termasuk diantaranya  rasa sakit atau ancaman. Termasuk anak balita, mereka sudah bisa mengungkapkan rasa takutnya pada suatu hal, bisa berupa benda atau mahluk hidup.

Psikolog Anak D'Arcy Lyness, beranggapan bahwa ketakutan adalah hal yang normal dan diperlukan. Menghadapi ketakutan atau kekhawatiran tersebut anak dapat mempersiapkan diri menghadapi pengalaman yang tidak menyenangkan kedepannya. Apabila tingkat ketakutannya sudah semakin memprihatinkan, orangtua dapat membantu anak menghadapi rasa ketakutannya dengan cara berikut:

Mengobrol Dengan Anak

Perhatikan apa ketakutan tersebut memang nyata atau tidak. Berkomunikasi lewat obrolan santai dapat menjadi kekuatan bagi anak untuk mengatasi ketakutannya dan perasaan negative lainnya. Komunikasi yang baik dapat membantunya untuk lebih percaya diri, kritis dan berpikir secara sehat.

Beri Anak Kamar Tidur Sendiri

Hal ini untuk melatihnya agar tidak terlalu bergantung pada orangtua, menjadi lebih berani, dan memberi privasi pada anak. Ketika anak sudah semakin besar jangan lagi biasakan untuk tidur bersama orangtua

Berhenti Menakut-nakuti Anak

Seringkali orangtua menakut-nakuti anaknya dengan hantu, raksasa dsb, apabila mereka melakukan kesalahan. Memang akan menimbulkan efek jera bagi anak sehingga tidak lagi mengulangi kesalahannya. Tetapi, tahukah anda bahwa hal tersebut justru akan terekam kuat di alam bawah sadarnya. Inilah yang kemudian menjadi penyebab anak yang penakut.

Bila memang anak berbuat salah, lebih baik ceritakan secara jujur resiko apa yang dirasakan ketika melakukan kesalahan tersebut. Misalnya saat memegang lilin menyala, jelaskan apabila menyentuh api maka dia akan merasa panas dan sakit.

Jangan Dukung Ketakutannya

Misalnya orangtua tahu bila anak merasa takut dengan anjing. Saat berjalan di taman orangtua melihat ada anjing. Lantas kemudian orangtua memilih jalan lain untuk menjauhkan anak dari anjing. Bila dilakukan, hal ini malah semakin membuatnya percaya bahwa anjing memang menakutkan dan dihindari. Sebaiknya, secara perlahan beri pengertian yang baik. Contohnya, saat bertemu anjing, orangtua bisa menunjukkan bahwa anjing adalah hewan menyenangkan dengan menepuk-nepuk anjing dan menunjukkannya ke anak sambil mengucapkan pernyataan positif.

Ajar Strategi untuk Atasi Ketakutannya

Terdapat tiga cara, yang pertama adalah memakai orangtua sebagai “tempat berlindung”. Maksudnya di sini adalah anak berusaha menghadapi ketakutannya dan kemudian kembali lagi pada anda, lalu mencoba lagi menghadapinya. Selanjutnya, orangtua bisa mengajarkan anak untuk mengucap “aku bisa” dan “aku akan baik-baik saja” saat anak mulai merasa takut. Terakhir, dengan teknik relaksasi yakni menarik napas dalam-dalam. Beri penjelasan yang dapat dimengerti oleh anak.

Bagi keluarga Indonesia yang ingin belajar cara membangun hubungan yang baik dalam keluarga, jangan sampai ketinggalan acara menarik One Day With Family. Ikuti talkshow interaktif bersama Elizabeth T. Santosa M.Psi (Psikolog anak dan keluarga)! Dengan tema, “Quality Time and Love Language”, yang akan berlangsung pada Minggu, 21 September 2014 di Main Atrium Mall Cilandak Town Square, Jakarta.

Selain talkshow, akan ada games seru dan pemilihan Best Family Costume. Acara ini terbuka untuk umum. Bagi anda yang tertarik bisa mendaftar dengan menghubungi nomor telepon 021.8990.5566 ext 337 atau bisa juga lewat SMS ke 0852.1533.5887 dengan format; nama (spasi) jumlah couples (spasi) jumlah anak. Daftarkan diri anda segera, tempat terbatas!


Baca Juga:

Vita Lusiana: Tuhan Nyata Di Kehidupan Putriku

Never Give Up, Motivasi Sukses Animator "The Hobbit"

The Gunners Resmi Gaet Danny Welbeck

5 Faktor Penting Memilih Lokasi Usaha

iCloud Diretas, Emma Watson Geram


Sumber : Keluarga/Wolipop.com by tk
Halaman :
1

Ikuti Kami