Warna Warni Perayaan Hari AIDS Sedunia di Tanah Air

Warna Warni Perayaan Hari AIDS Sedunia di Tanah Air

Lori Official Writer
5285
Keprihatinan terhadap maraknya penyebaran penyakit HIV/AIDS tampaknya telah mencuri perhatian berbagai pihak dalam menyambut peringatan hari AIDS se-dunia yang digelar pada 1 Desember ini. Hal ini terbukti dari warna warni aktivitas perayaan hari aids yang didapati di berbagai wilayah di tanah air, seperti:

Jalan santai di Maros

Pemerintah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan memperingati Hari Aids sedunia dengan menggelar jalan santai pada Minggu, 30 Desember 2014. Acara ini mengajak para PNS, pelajar, ormas, LSM dan masyarakat. Acara yang dibuka oleh Bupati dan Wakil Bupati Maros, HM Hatta Rahman dan HA Harmil Mattotorang ini menjadi salah satu bentuk pencegahan terhadap penyebaran HIV/AIDS yang datang dari luar wilayah. Sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan dan penganggulangan. Selain itu, Pemerintah bahkan membentuk kelembagaan KPA dan pembentukan relawan anti narkoba dan AIDS.

Mahasiswa gelar penyuluhan dan bagi-bagi bunga

Ratusan elemen mahasiswa di Madiun menggelar aksi penyuluhan kepada para pengguna jalan akan bahaya penyakit AIDS dan cara-cara penularannya. Dalam aksi itu, mereka juga tampak membagi-bagikan bunga dan pamplet berisi ulasan tentang penyakit tersebut.

Lomba posting tentang Aids

Lain pula dengan perayaan hari Aids di Nusa Tenggara Timur (NTT), melalui Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) dan mahasiswa magang Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang menggelar lomba posting seputar penyakit AIDS. Para peserta diminta untuk menuangkan ide kreatif, argumen, pendapat atau pemikiran serta foto selfie yang berkaitan dengan HIV/AIDS. Penyelenggaraan lomba ini bertujuan untuk mengajak masyarakat terlibat dalam menanggulangan penyebaran HIV/AIDS.

Protes program kondomisasi

Bila sebagian masyarakat merayakan peringatan hari HIV/AIDS  dengan penyuluhan dan aksi damai, masyarakat juga tampak sangat antusias mengkritisi tentang kebijakan kementerian kesehatan dalam hal pembagian kondom gratis kepada remaja. Hal itu justru dianggap memperbesar peluang kaum remaja melakukan hubungan seks bebas. Pembagian kondom dianggap akan jauh lebih tepat sasaran bila dibagi-bagi di tempat-tempat yang punya risiko tertular HIV/AIDS, misal di lokalisasi.

Beragam aktivitas perayaan hari HIV/AIDS di atas menjadi bukti  bahwa penyakit mematikan ini patut mendapat perhatian khusus. Oleh karena itu, World Health Organisation (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia terus melakukan percepatan upaya pengentasan AIDS di tahun 2030.  

Sumber : Berbagai Sumber/jawaban.com/ls

Ikuti Kami