Tanah Liat di Tangan Penjunan

Tanah Liat di Tangan Penjunan

Theresia Karo Karo Official Writer
25454
Alkitab mengatakan bahwa Tuhan adalah Penjunan yang Agung. Dalam [kitab]yerem18:6[/kitab] tertulis demikian, “Masakan aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikian Firman Tuhan. Sungguh seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!”

Ayat tadi menunjukkan bahwa Allah ingin mempersiapkan kita untuk menjadi ‘bejana yang indah’. Menuntun kita menjadi bejana yang membawa kemuliaan dan pujian bagi nama-Nya melalui pendidikan oleh Roh Kudus. Menuju bejana indah, tentu membutuhkan proses. Berikut cara si ‘Penjunan’ membuat bejana yang indah:

Fase Awal
Penjunan meremas tanah liat. Saat kita baru diselamatkan, tampaknya Tuhan memberikan ‘pijatan’ yang menyenangkan. Kemudian yang terjadi selanjutnya adalah Penjunan akan  memotong dan membanting tanah liat. Ini adalah titik di mana kita di menghadapi tekanan melalui Firman Tuhan, layaknya tanah liat uang dipotong dan dibanting.

Seperti tertulis dalam [kitab]ibran4:12[/kitab] “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup…”

Penjunan kemudian memutar roda dan ‘mengerjakan’ tanah liat. Di saat ini, Tuhan mulai membawa kita dalam pengalaman pembentukan. Akan ada saatnya kita ‘naik dan turun’, ada masa menyenangkan dan tidak.

Fase Tengah
Penjunan mengerjakan, mengulangi dan mengerjakan demi tanah liatnya. Tidak jarang tanah liat akan dikerjakan ulang mulai dari awal. Apabila masih ditemukan kotoran dan batu kecil. Barulah setelah bersih maka tanah liat akan dibentuk menjadi bejana.

Penjunan melapisi bejana tanah liat. Saat tanah liat sudah terbentuk menjadi bejana, maka Penjunan akan mengecatnya dengan lapisan minyak. Sama seperti proses pembentukan umat-Nya, ini adalah saat hidup kita diurapi dengan Roh Kudus.

Fase Akhir
Setelah Penjunan membuat bejana tanah liat maka harus diletakkan di atas rak. Kondisi tanah liat yang masih segar dan basah, harus ditaruh di atas rak agar kering. Bila dikondisikan pada manusia, seringkali kita berpikir bahwa setelah diurapi dengan Roh Kudus maka Tuhan akan langsung memakai kita secara luar biasa, tetapi yang terjadi adalah kita malah ‘diparkir’ di rak!

Penjunan akan menaruh bejana tanah liat di perapian. Selang beberapa waktu, si Penjunan akan mengambil dan mengeluarkan bejana tanah liat dari tempat pembakaran. Inilah saat tanah liat berubah menjadi bejana yang sempurna. Indah, tanpa kekurangan suatu apapun. Bejana yang berharga, menjadi bejana yang dipakai untuk kemuliaan di rumah Tuhan.

Terdapat sebuah prinsip yang sangat luar biasa dari Alkitab yang menyatakan, “Tuhan menaruh saya di dalam urusan-Nya supaya saya dapat bersinar baginya.” Inilah yang diinginkan Tuhan kepada semua umat-Nya. Siapkah kita?

Sumber : GPDI/Jawaban by tk

Ikuti Kami