Cerita Gadis Yazidi Jadi Budak Seks

News / 22 September 2014

Kalangan Sendiri

Cerita Gadis Yazidi Jadi Budak Seks

Lois Official Writer
5266
<!--[if gte mso 9]><xml> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 </xml><![endif]-->

Seorang gadis muda dari kelompok agama minoritas Yazidi yang saat ini masih ditangkap ISIS menceritakan kisahnya selama disekap menjadi budak seks kelompok ekstremis itu, menurut laporan kompas.com beberapa waktu lalu. Gadis 17 tahun itu mengatakan dirinya merupakan salah satu dari sekelompok 40-an perempuan Yazidi yang masih disekap.

Saat ditangkap 3 Agustus 2014 lalu dalam sebuah serangan ISIS di kota Sinjar, Irak Utara, dia dijadikan budak seksual setiap hari dengan kondisi mengerikan di sebuah desa di selatan Mosul, dengan perempuan lainnya. Hal ini juga dibuktikan dengan bualan para ekstremis asal Inggris yang berperang di Suriah dan Irak di Twitter.

“Saya mohon kepada Anda untuk tidak mempublikasikan nama saya karena saya sangat malu dengan apa yang mereka lakukan terhadap saya. Sebagian diri saya sudah ingin mati saja. Namun, yang sebagian lagi masih berharap saya akan diselamatkan sehingga saya dapat memeluk orangtua saya lagi,” ujarnya kepada harian Italia, La Repubblica yang berhasil mewawancarainya dengan menelepon ke telepon genggamnya, yang diberikan oleh orangtuanya.

Perempuan itu mengatakan, para penculiknya awalnya menyita semua ponsel perempuan yang diculik. Kemudian mereka mengubah strategi. Ponsel-ponsel dikembalikan sehingga mereka bisa menceritakan kepada dunia luar bagaimana kengerian yang mereka alami. “Untuk menyakiti kami, mereka mengatakan kepada kami agar menjelaskan secara rinci kepada orangtua kami apa yang mereka lakukan. Mereka menertawakan kami karena mereka berpikir mereka tak terkalahkan. Mereka menganggap diri mereka superman. Namun mereka adalah orang-orang yang tak punya hati.”

“Penyiksa kami bahkan tidak mengasihani sejumlah perempuan yang bersama anak-anak mereka. Mereka juga tidak mengasihani sejumlah gadis yang masih belia. Beberapa dari kelompok kami bahkan belum genap 13 tahun usianya. Beberapa dari mereka kini tidak lagi mengucapkan sepatah kata pun.” Dia menceritakan, para perempuan ini diperkosa di lantai paling atas bangunan, dalam tiga bilik. Mereka diperkosa sampai tiga kali sehari oleh kelompok pria yang berbeda-beda.

“Mereka memperlakukan kami seperti budak. Mereka memukul dan mengancam kalau kami menolak. Saya sering berharap agar mereka memukul saya sedemikian parah sehingga saya mati. Jika suatu hari penyiksaan ini berakhir, hidup saya akan selalu ditandai oleh apa yang saya alami dalam minggu-minggu ini. Jika saya bertahan hidup, saya tak tahu bagaimana dapat menghilangkan horor ini dari kehidupan saya. Kami telah meminta para sipir untuk menembak kami, membunuh kami, tetapi kami terlalu berharga buat mereka. Mereka terus mengatakan kami adalah orang-orang kafir dan bahwa kami merupakan milik mereka, seperti rampasan perang. Mereka mengatakan kami seperti kambing yang dibeli di pasar.”

“Satu-satunya harapan adalah Peshmerga (milisi Kurdi) datang dan menyelamatkan kami. Saya tahu Amerika mengebom (ISIS). Saya ingin mereka bergegas dan mengusir mereka semua keluar karena saya tidak tahu berapa lama lagi saya bisa bertahan. Mereka sudah membunuh tubuh saya, sekarang mereka membunuh pikiran saya.”

Dia juga pernah mendengar sejumlah wanita Kristen Arab juga ditangkap dan dipenjarakan sebagai budak seks oleh ISIS. Namun, kelompoknya sendiri hanya terdiri dari perempuan Yazidi. Walau banyak yang mengungsi, namun ternyata ada banyak pula yang ditangkap ISIS. Manusia sudah kehilangan nuraninya, menyakiti sesamanya sampai sedemikian rupa, kiranya Tuhan membuka pikiran dan hati mereka.

Sumber : kompas.com by lois ho/jawaban.com
Halaman :
1

Ikuti Kami